dear sahabat, Saya suka dengan diskusi soal-soal wacana seperti itu. Perkara ekslusif-inklusif, santri-abangan. Ada lagi proletar. Islam egaliter. De el el – de el el. Memang menggairahkan. Sungguh! [sampai di sini, saya takjub dengan mas Dicky, Imbar, Qhidir, Opik..thank you bro..kritikannya..ho oh gue juga ngaku..gue emosi..kesel aje liat orang yang mempermanen kebencian dalam sebuah puisi..nggak nyeni banget. gue ada buku SABAR ATU buat loe pak..hub gue segera. buruan keburu abis]
Tapi, sekarang saya koq – entah mengapa – gak suka bicara perkara semacam itu. Sekarang saya lebih suka berbicara dan berbuat soal-soal pragmatis. Pengangguran yang bejibun. Kemaksiyatan yang ngampar di seantero negeri. Kekerasan di pelupuk mata [smack down!] kepandiran massal [ini untuk menyimpulkan bahwa kudu ada korban dulu baru pada rebut] Anak putus sekolah. Soal orang-orang diseputar kita yang butuh uluran tangan. Soal kesejahteraan dai. Yang harus hidup pas-pasan. Padahal waktunya 24 jam untuk umat. Nah, saya tawarkan. Bagaimana kalo kita berdiskusi soal-soal pragmatis aje. Terus soal-soal internal umat itu dibicarakan di ruang2 private. Soalnya banyak juga lho yang non islam di milis ini. Kalo mau ngaji hub. Gue. Kayaknya gak sopan deh kita berbincang soal ‘identitas’. Sekarang waktunya eksekusi bung…umur udah tue neh. Gak doyan ama wacana lagi. Hayo kita mulai dari mana? Pengangguran? Khususnya di Bekasi. Apa kiat kita untuk menanggulangi pengangguran. Eh, berbahaya lho pak kalo dibiarin meningkat. Sementara kita pergi pagi pulang petang. Tetangga gak bisa makan kita gak tahu….tetangga itu 40 rumah ke kiri, kanan, belakang dan depan. Sementara pemerintah daerah….? Gak tahu deh! Mohon maaf kalo gak berkenan Komarudin Ibnu Mikam, yang beli rumah dari menulis __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
