Kalo saya bingung harus mulai dari mana? karena ini sudah jadi "lingkaran setan" yang saling terkait, kalo kita berbicara mengenai pengangguran maka bisa dikaitan dengan latar belakang pendidikan, kalo kita berbicara mengenai latar belakang pendidikan maka bisa dikaitkan dengan kesejahteraan (gimana mo sekolah... lah mo makan aja susah...), kalo kita berbicara kesejahteraan maka bisa dikaitkan dengan kebijakan pemerintah yang kurang kondusif untuk orang berusaha (baru mo bikin usaha aja udah diribetin soal registrasi, pajak dll, pedagang kaki lima belum terorganisir dengan baik atau pada dikejar trantib...) dan akhirnya menimbulkan pengangguran... (balik lagi kan?)
menurut saya... ini ga bisa dikerjakan sendiri... masyarakat dan khususnya pemerintah harus saling bekerja sama, misalnya... bank2 pemerintah mulai proaktif datang (turun langsung) dan melihat usaha2 mana yang memang perlu tambahan modal, dengan syarat yang mudah dan tentunya dengan analisa yang kuat, jangan sampe jadi kredit macet (seperti marketing kartu kredit yang aktif cari nasabah) karena dengan majunya suatu usaha... kemungkinan akan menyerap tenaga kerja lebih banyak, kesejahteraan meningkat, pendidikan tinggi tercapai jadi saya kembalikan kepada orang2/pejabat2 yang berwenang dalam hal diatas... dan ada suatu fenomena yang menarik, bantuan langsung dari pemerintah sebagai kompensasi kenaikan BBM hanya berjalan 30%, sehingga tidak banyak merubah apa2... padahal niat baik pemerintah sudah terlihat. melihat fenomena ini saya jadi ingat suatu pepatah "jangan beri ikan... tapi kailnya" mohon maaf bila ada kesalahan, dan mohon kritik yang membangun... salam, rp --- Ardian Pettrucci <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > kalo saya punya ide bagaimana kalo kita mulai dengan > masalah pendidikan...karena pendidikan di Indonesia > saat ini sudah seperti barang mewah yang > diperebutkan. > jadi yang tidak punya cukup biaya, dia harus gigit > jari.faktor inilah yang menyebabkan kepandiran > massal, > dan pemerintah seakan-akan apriori dengan hal > ini....mereka malah sibuk mengurusi tender apa yang > bisa diambil dari sistem pendidikan ini yang sudah > dijalankan. > > dengan anggaran yang sekarang hanya 9,1 persen dari > APBN ini, saya nilai tidak lah mencukupi untuk > meningkatkan pendidikan. semestinya yang harus > adalah > 20 persen dari dana APBN, tapi pemerintah hanya > menyanggupi 18,5 persen dan ini sesuai kemampuan > pemerintah, padahal menurut konstitusi itu sudah > melanggar konstitusi. > Jadi menurut saya kita benahi sektor pendidikan > negeri > ini tanpa mengkesampingkan sektor kesehatan dan > pembangunan daerah, perbaiki nasib guru, > sejahterakan > mereka...barulah kita bisa mulai berpikir maju, > karena > dengan pendidikan lah dapat memperbaiki sistem > manajemen diri tiap individu, sehingga menghasilkan > SDM dan tenaga-tenaga kerja yang mampu bersaing di > era > pasar bebas... > > tolong di perbaiki dan ditambahkan...tidak menutup > diri untuk di kritik... > > Best Regards > Are-The-And (Ardian) > > > --- komar udin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > dear sahabat, > > Saya suka dengan diskusi soal-soal wacana seperti > > itu. > > Perkara ekslusif-inklusif, santri-abangan. Ada > lagi > > proletar. Islam egaliter. De el el de el el. > > Memang menggairahkan. Sungguh! [sampai di sini, > saya > > takjub dengan mas Dicky, Imbar, Qhidir, > Opik..thank > > you bro..kritikannya..ho oh gue juga ngaku..gue > > emosi..kesel aje liat orang yang mempermanen > > kebencian > > dalam sebuah puisi..nggak nyeni banget. gue ada > buku > > SABAR ATU buat loe pak..hub gue segera. buruan > > keburu > > abis] > > > > Tapi, sekarang saya koq entah mengapa > > > > gak suka bicara perkara semacam itu. Sekarang saya > > lebih suka berbicara dan berbuat soal-soal > > pragmatis. > > Pengangguran yang bejibun. Kemaksiyatan yang > ngampar > > di seantero negeri. Kekerasan di pelupuk mata > [smack > > down!] kepandiran massal [ini untuk menyimpulkan > > bahwa > > kudu ada korban dulu baru pada rebut] Anak putus > > sekolah. Soal orang-orang diseputar kita yang > butuh > > uluran tangan. Soal kesejahteraan dai. Yang harus > > hidup pas-pasan. Padahal waktunya 24 jam untuk > umat. > > > > Nah, saya tawarkan. Bagaimana kalo kita berdiskusi > > soal-soal pragmatis aje. Terus soal-soal internal > > umat > > itu dibicarakan di ruang2 private. Soalnya banyak > > juga > > lho yang non islam di milis ini. Kalo mau ngaji > hub. > > Gue. Kayaknya gak sopan deh kita berbincang soal > > identitas. Sekarang waktunya eksekusi > > bung umur udah tue neh. Gak doyan ama wacana > > lagi. > > > > Hayo kita mulai dari mana? > > > > Pengangguran? Khususnya di Bekasi. Apa kiat kita > > untuk > > menanggulangi pengangguran. Eh, berbahaya lho pak > > kalo > > dibiarin meningkat. Sementara kita pergi pagi > pulang > > petang. Tetangga gak bisa makan kita gak > > tahu .tetangga itu 40 rumah ke kiri, kanan, > > belakang dan depan. Sementara pemerintah > > daerah .? Gak tahu deh! > > > > > > Mohon maaf kalo gak berkenan > > > > Komarudin Ibnu Mikam, yang beli rumah dari menulis > > > > > > > > > > __________________________________________________ > > Do You Yahoo!? > > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam > > protection around > > http://mail.yahoo.com > > > > > > > ____________________________________________________________________________________ > Do you Yahoo!? > Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail > beta. > http://new.mail.yahoo.com > ____________________________________________________________________________________ Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small Business. http://smallbusiness.yahoo.com/r-index
