Saya pikir hikmah itu sifatnya individualistik artinya tidak semua orang bisa 
merasakannya dan kalaupun bisa, tidak sama rasanya tiap orang. misalnya orang 
yang banjirnya cuma semata kaki mungkin tidak mendapatkan hikmah apapun 
dibandingkan orang yang kena sedengkul atau bahkan sampai terendam rumahnya 
atau mungkin saja dia mendapatkannya tapi berbeda jenisnya dan besarnya.
   
  Tanpa mengurangi rasa simpati dan empati yang mendalam pada korban banjir, 
wacana yang terjadi sekarang ini selalu dikedepankan banjir sebagai suatu 
musibah dan anehnya tidak ada yang berubah, daerah yang kena banjir mudah 
ditebak atau diperkirakan misalnya kalau ketinggian air di tanggul depok diatas 
normal jakarta pasti banjir dan daerahnya ya itu-itu juga tapi mereka gak mau 
pindah atau berbuat sesuatu yang significant.
   
  Kita perlu merubah wacana atau diskursus yang lebih positif, mencoba menerima 
realitas, dan berusaha membangun nilai (creating value) yang positif. Wacana 
"banjir itu nikmat" akan terasa biasa saja kalau gak ada banjir tapi karena ada 
banjir dengan jangkauannya yang luas, melontarkan wacana dengan tema "hikmah 
dibalik banjir" terasa masih kurang cukup, individualistik dan belum menyentuh 
persoalan sesungguhnya.
   
  Pernyataan "Banjir itu musibah" adalah negatif dan "banjir itu nikmat" adalah 
positif. Masalahnya budaya kita yang berabad-abad lamanya tertanam dalam pola 
pikir kita menyatakan bahwa banjir itu musibah sebagai suatu kepercayaan 
mutlak. Sehingga ketika ada pernyataan yang berlawanan dengan mainstream 
kepercayaan budaya kita tsb maka dianggap negatif. itulah yang sesungguhnya 
terjadi. 
   
  Kepercayaan, persepsi bahkan budaya bukan suatu kebenaran dia hanya baru 
sebatas realitas, bukti atau fakta. We need to explore more and deeper.
   
  

OpiK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          that's what I call hikmah ibu vivi
tapi, apakah ketika rumah terendam sampai tinggal atapnya saja punya nilai 
nikmat???
gue rasa jawabnya tidak
gue agak kurang setuju dengan tema yg dimunculkan "banjir itu nikmat"
menurut gue, akan lebih baik jika disebut "hikmah dibalik banjir", dan menurut 
gue itu sudah manandakan bahwa kita berpikir positif untuk bisa melihat lebih 
jauh dari hanya sekedar bencananya saja, dan mempersempit kemungkinan orang 
lain untuk berpikir negatif tentang tema bahasan itu
"banjir itu nikmat" adalah sebuah pernyataan
hal ini bisa membuat orang berpikir negatif, apalagi jika ybs tidak mengalami 
musibah itu

ini hanya pendapat pribadi, tidak ada tendensi apa pun dibalik pendapat ini
no offense and no hurt felling

pa kabar vi?
tinggal dimana skr? anak dah dua yah? yg kedua ce or co?

rgd
OpiK
3A23-93

  On 2/7/07, vivi fajar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:            Bapak Taufik 
Hidayat dan Bapak ahmad fauzi,..
tema berpikir positif itu bagus..paling tidak untuk
menenangkan diri. Melihat langsung korban banjir besar
kemarin (rumah keluarga gw ada yang tinggal atapnya
loh...) yang terpikir pertama kali di benak gw cuma
satu..ternyata hasil kerja kita - manusia di muka bumi
yang telah dihamparkan Alloh untuk kita jaga ternyata
malah membawa hasil yang berakibat buruk buat kita
sendiri...dengan kata lain,..kita dah gagal "menjaga"
alam yang sedianya diciptakan untuk mendukung
kehidupan kita...aneh ya kalo kita nggak kepikiran
buat introspeksi diri? Musibah ini bukan akibat
kesalahan satu atau beberapa pihak aja...kepikir nggak
kalo kita dah memberi kontribusi pada kerusakan yang
menjadi penyebab ini semua...liat2 deh...berapa meter
persegi halaman rumah tersisa untuk
resapan????....mulai dari yang kecil2 aja kali
ya....bisa nggak kita merubah prilaku biar di
kemudian hari masih ada kesempatan alam berbaikan lagi
dengan manusia????








  

         

 
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.

Kirim email ke