saya setuju dg bung ardian kebetulan saya bekerja di media cetak, sehingga bagi saya judul merupakan hal yg sangat penting dalam hal ini, judul yg dibuat oleh bung Qidhir cukup berhasil memancing orang untuk membaca isi dari tulisan, dan itu merupakan hal yg sangat penting bagi seorang penulis orang akan tertarik membaca sesuatu jika ia tertarik pada judulnya tapi, judul tersebut menurut saya bisa membuat orang langsung berpikir negatif, padahal bung Qidhir mengajak kita untuk berpikir positif atau mengambil hikmah dari sebuah peristiwa saya sama sekali tidak ada masalah dengan content dari tulisan, meski pun ada yg langsung merespon dengan nada negatif
mungkin om komar yg sudah menerbitkan beberapa buku bisa sharing lebih banyak tentang teknik tulis menulis, saya rasa itu (mungkin) berguna bagi kita semua rgd OpiK 3A23-93 On 2/7/07, Ardian Pettrucci <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
ini hanya permasalahan judul saja...mungkin rekan qidhir berniat menyampaikan sesuatu hal bahwa dibalik banjir itu ada hal positif yang bisa kita gali lagi... permasalahan judul ini mungkin biar lebih eye catching saja,sehingga dibuat lah judul banjir itu nikmat...awalnya saya pun sempat senyum kecut dengan judul postingan ini,seperti bombastis...setelah saya lihat contentnya hanyalah pancingan atau umpan saja...maaf bung Qidhir...tapi memang judul wacana anda agak kurang tepat saja,tapi mungkin maksud anda baik --- QiDHiR Abdul Salam <[EMAIL PROTECTED] <qidhir%40yahoo.com>> wrote: > Saya pikir hikmah itu sifatnya individualistik > artinya tidak semua orang bisa merasakannya dan > kalaupun bisa, tidak sama rasanya tiap orang. > misalnya orang yang banjirnya cuma semata kaki > mungkin tidak mendapatkan hikmah apapun dibandingkan > orang yang kena sedengkul atau bahkan sampai > terendam rumahnya atau mungkin saja dia > mendapatkannya tapi berbeda jenisnya dan besarnya. > > Tanpa mengurangi rasa simpati dan empati yang > mendalam pada korban banjir, wacana yang terjadi > sekarang ini selalu dikedepankan banjir sebagai > suatu musibah dan anehnya tidak ada yang berubah, > daerah yang kena banjir mudah ditebak atau > diperkirakan misalnya kalau ketinggian air di > tanggul depok diatas normal jakarta pasti banjir dan > daerahnya ya itu-itu juga tapi mereka gak mau pindah > atau berbuat sesuatu yang significant. > > Kita perlu merubah wacana atau diskursus yang > lebih positif, mencoba menerima realitas, dan > berusaha membangun nilai (creating value) yang > positif. Wacana "banjir itu nikmat" akan terasa > biasa saja kalau gak ada banjir tapi karena ada > banjir dengan jangkauannya yang luas, melontarkan > wacana dengan tema "hikmah dibalik banjir" terasa > masih kurang cukup, individualistik dan belum > menyentuh persoalan sesungguhnya. > > Pernyataan "Banjir itu musibah" adalah negatif dan > "banjir itu nikmat" adalah positif. Masalahnya > budaya kita yang berabad-abad lamanya tertanam dalam > pola pikir kita menyatakan bahwa banjir itu musibah > sebagai suatu kepercayaan mutlak. Sehingga ketika > ada pernyataan yang berlawanan dengan mainstream > kepercayaan budaya kita tsb maka dianggap negatif. > itulah yang sesungguhnya terjadi. > > Kepercayaan, persepsi bahkan budaya bukan suatu > kebenaran dia hanya baru sebatas realitas, bukti > atau fakta. We need to explore more and deeper. > >
