"Mereka mencontoh kehidupan di sinetron, tayangan perkosaan di televisi, video porno dan sebagainya. Mereka menilai itu kehidupan nyata, padahal virtual, hanya pencitraan media, komoditifikasi " kutipan di atas salah satu KATA KUNCI, mengapa RUU pornografi diperlukan. kita pasti tahu istilah REWARD & PUNISHMENT, dan lazim dimanapun kita berada ada aturan main, disekolah, dikantor... dst RUU Pornografi bagian dari itu ! Anda setuju atau tidak Pornografi HARUS DIATUR !!! salah satunya karena tayangan di TV sudah amburadul, ngak karuan. JIKA ANDA SALAH SATU ORANG TUA yang tidak ingin Anak & keturunannya terpengaruh dampak PORNOGRAFI ini, MAKA ANDA HARUS MENDUKUNG RUU ini !!! JANGAN HANYA BERPANGKU TANGAN ATAU MALAH CUCI TANGAN, Terima Beres & TIDAK MAU TURUT ANDIL dalam urusan ini. JANGAN NAIF !!! MINIMAL DUKUNG HAL INI UNTUK ANAK ANDA !!! INGAT !!! AZAB ALLAH tidak hanya ditimpakan pada orang yang bermaksiat saja, akan tertapi Orang yang taat beribadah dan beriman juga akan merasakannya terlebih dahulu. Wallahu a'lam... " YA ALLAH SELAMATKANLAH KELUARGA KAMI DARI AZAB API NERAKA, DAN TUNJUKKANLAH KAMI YANG BENAR ITU BENAR & KUATKANLAH KAMI UNTUK MENJALANKANNYA, DAN TUNJUKKANLAH KAMI YANG SALAH ITU SALAH & KUATKANLAH KAMI UNTUK MENJAUHKANNYA " AMIIN
Saprudin Ade M IPA-2'97 PT Sime Darby Offshore Eng --- On Tue, 9/23/08, ahmad usmar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: ahmad usmar <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [sma1bks] 5 Kekeliruan Berpikir Bagi Penolak RUU Pornografi To: [email protected] Date: Tuesday, September 23, 2008, 9:45 AM wah, barang sensitif tuh, sudah sepuluh tahun gak beres-beres. DPR-nya gemblung rek, kalau ditanya gak pernah jelas soal ini. Fraksi yang nolak argumennya juga ganti-ganti, yang menerima alasannya juga melintir ke kanan dan ke kiri. Berapa banyak aturan yang dibuat dpr dan pemerintah gak pernah jalan, satu aturan tumpang tindih dengan aturan yang lain. Baru disahkan setahun, sudah direvisi. Saya sendiri gak peduli RUU Pornografi disahkan atau tidak oleh DPR. Jangan-jangan cuma komoditas politik menjelang pemilu 2009, baik yang nolak maupun terima. Mohon maaf kalau saya meragukan ketulusan para wakil rakyat itu. Saya memang khawatir dengan pornografi yang merebak, apalagi di era globalisasi ini. Bayangkan, setiap hari selalu saja ada video amatir mesum yang dibuat oleh putera-puteri tercinta kita. Tak peduli di kota, bahkan sudah merebak jauh ke pelosok, ke daerah-daerah yang kuat nuansa islamnya, seperti daerah Priangan atau Jawa Timur. Saya selalu mencibir jika ada yang bilang: pornografi seharusnya dididik saja di lingkungan keluarga, tak perlu regulasi. Wah, itu pikiran utopis. Coba kita lihat pengalaman para lelaki di perkotaan (mohon maaf): apakah ibu atau bapak mereka tahu, kapan anaknya nonton video porno, backstreet, atau masturbasi? Jangankan anak-anak, bapak-bapak saja suka buka gambar dan situs porno ketika nge-net di kantor. Tapi, seberapa hebat pun dilarang, saya pesimis kalau itu efektif. Kejahatan pasti punya jalan sendiri untuk melanggarnya. Terus terang sebagai orang tua saya gamang: gimana dengan anak saya nanti? Sekarang saja sudah ancur-ancuran. Di pedesaan, jauh di gunung sana, angka hamil di luar nikah sekarang sudah menjulang. Mereka mencontoh kehidupan di sinetron, tayangan perkosaan di televisi, video porno dan sebagainya. Mereka menilai itu kehidupan nyata, padahal virtual, hanya pencitraan media, komoditifikasi. Ingin menyerahkan bulat-bulat ke dunia pendidikan, juga tak begitu percaya. Mereka cuma dilatih menghafal ayat, tanpa mempertajam isi dan makna, apalagi tingkah laku. Tapi, sesuatu harus dilakukan, betapa pun kecilnya. Saya yakin setiap jaman, punya obat yang berbeda-beda buat masyarakatnya. Tuhan sudah memberi kitab suci, mungkin aktualisasinya yang perlu dicari. Apa RUU pornografi salah satu jawabannya? ----- Original Message ---- From: susanto . <[EMAIL PROTECTED] com> To: [EMAIL PROTECTED] com Cc: [EMAIL PROTECTED] ups.com; [EMAIL PROTECTED] .com; statunpad99@ yahoogroups. com; statunpadnet@ yahoogroups. com Sent: Tuesday, September 23, 2008 21:21:14 Subject: [sma1bks] 5 Kekeliruan Berpikir Bagi Penolak RUU Pornografi "Mereka menolak membuktikan, mereka belum siap berdemokrasi, karena mereka tak menghormati proses panjang wakil rakyat mendiskusikan RUU ini,” terang Muzammil. Jakarta - Meski RUU Pornografi akan segera disahkan, pro kontra terhadap RUU ini tak kunjung usai. Jika kubu penolak menilai RUU pornografi hanya akan mengekang kebebasan berekspresi dan mengancam integrasi, lain halnya bagi kubu penolak. PKS bahkan menuding para penolak telah sesat pikir. "Yang menolak RUU Pornografi telah melakukan lima kekeliruan berpikir. Pertama, melupakan nilai-nilai agama yang diagungkan oleh pancasila yang berarti mengagungkan aturan luhur,” kata anggota FPKS Al Muzammil Yusuf pada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis ( 18/9/2008). Menurut anggota Komisi I DPR ini, selain melupakan nilai agama, para penolak RUU Pornografi juga dinilai tidak siap berdemokrasi. Alasannya, proses panjang dan dialektika antar fraksi yang sudah berjalan lama tidak dihargai semestinya. "Mereka menolak membuktikan, mereka belum siap berdemokrasi, karena mereka tak menghormati proses panjang wakil rakyat mendiskusikan RUU ini,” terang Muzammil. Selain 2 alasan di atas, Muzammil menilai penolakan kelompok tertentu pada RUU Pornografi membuktikan mereka tidak siap menjadi bagian dari keluarga besar Negara Kesatuan Republik Indonesia. "Mereka melupakan amanat UUD 45 pasal 31 ayat 3 bahwa pendidikan nasional bertujuan meningkatkan iman taqwa dan ahlaq mulia. Selain itu, mereka meremehkan upaya penyelamatan generasi muda dan anak,” kata Muzammil. Muzammil juga menilai bahwa penolakan ini lebih menuruti ide kebebasan Barat. "Para penolak RUU lebih terinspirasi dan mewakili ide kebebasan Barat yang nyata-nyata gagal melindungi rakyatnya dari bahaya pornografi,”pungkasnya. Dapatkan nama yang Anda sukai! Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail. com. Get your preferred Email name! Now you can @ymail.com and @rocketmail. com.
