> --- Pada Kam, 16/4/09, nana pras <[email protected]> menulis:
>
> Dari: nana pras <[email protected]>
> Topik: [Usaha-Bersama] Eksekutif Pengantar Pizza....
> Kepada: [email protected]
> Tanggal: Kamis, 16 April, 2009, 7:52 AM
>
> Assalamu'alaikum Wr Wb
>
> Para sedulur ...semoga cerita ini dapat menjadikan renungan kita bersama,
> saya memperolehnya dari seorang teman yang mengirimkan ke email saya.
>
> Bagaimanapun, KERENDAHAN HATI-nya untuk menurunkan GENGSI demi keluarga
> patut diacungi JEMPOL. Seorang yang berada di “atas” tidak akan mudah
> menerima bila sekarang dia berada di ”bawah”. Seorang dengan mental seperti
> ini akan segera dapat bangkit kembali dan menjadi teladan yang baik bagi
> anak-anaknya.
>
>
>
>
>
> Subject: Eksekutif Itu Kini Jadi Pengantar Pizza !
>
> ABC: KEN Karpman bersama keluarga menjalani kehidupan sederhana.
>
> Krisis ekonomi di AS membuat seorang eksekutif bergaji Rp 8,8 miliar per
> tahun jatuh bangkrut. Untuk bertahan hidup, sang eksekutif pun akhirnya
> menjadi pengantar pizza dengan upah rendah. RESESI di Amerika Serikat memang
> begitu kejam. Tak hanya raksasa bisnis yang silih berganti bertumbangan.
> Bagi warganya pun, krisis kali ini benar-benar bisa mengubah nasib mereka
> 180 derajat. Tengok saja apa yang terjadi pada seorang eksekutif bernama Ken
> Karpman ini.
> Selama 45 tahun, Hidup Ken Karpman nyaris sempurna. Lulus dari universitas
> bergengsi UCLA ( University of California ) dengan gelar MBA, Karpman
> langsung mendapat pekerjaan sebagai pialang saham. Dia pun kemudian menikahi
> gadis impiannya, Stephanie, dan dikarunia dua anak. Bersama, mereka telah
> berkeliling dunia dalam paket liburan yang mahal tiap tahun.
> Sekitar 20 tahun meniti karir sebagai pialang, Karpman pun naik jabatan
> dalam perusahaannya. Gajinya turut melonjak mencapai US$750.000 (sekitar
> lebih dari Rp 8,8 miliar) per tahun. ”Saat itu hidup begitu indah. Kami bisa
> menghasilkan banyak uang. Entah mengapa situasi itu kok tidak berlanjut?”
> kata Karpman dalam wawancara khusus dengan stasiun televisi ABC.
> Dari seluruh sisi kehidupan mereka, Ken dan Stephanie Karpman menikmati
> benar gaya hidup kelas atas. Mereka tinggal di wilayah elite, Tampa ,
> Florida . Bahkan mereka memiliki satu lapangan golf seluas 400 kaki persegi.
> Untuk urusan uang, bisa dibilang keluarga ini tidak ada masalah. ”Saya tidak
> pernah memperhatikan harga saat membeli sesuatu di toko,” ujarnya. ”Saya
> hanya tinggal masukkan barang apa pun yang saya inginkan ke dalam troli dan
> membayar berapa pun harganya,” lanjut Karpman.
> Karpman sangat percaya diri dengan keberuntungannya. Dengan dukungan ekonomi
> kuat, dia meninggalkan pekerjaannya pada 2005 untuk memulai usahanya sendiri
> yang sejenis dengan pekerjaan lamanya. Untuk mendirikan perusahaan sendiri
> sekaligus meningkatkan taraf hidup, Karpman dengan enteng mengeluarkan dana
> US$500.000 dari tabungannya. Seperti kebiasaan orang-orang Amerika, Karpman
> juga mengajukan kredit dalam jumlah besar dengan jaminan rumah.
> Namun nasib berkata lain. Keberuntungan itu berbalik arah. Seiring dengan
> badai krisis yang menghantam Negeri Paman Sam, Karpman pun tak mampu menarik
> para investor. Akibatnya, dia dipaksa untuk menggulung tikar perusahaannya.
> Bahkan kini dia tidak memiliki pekerjaan. Dia pontang-panting memasuki
> banyak bursa kerja, namun hasilnya pun nihil.
> Itu tidak pernah dialami Karpman di masa lalu. Urusan pekerjaan kala itu
> begitu sangat mudah. ”Dulu, ketika saya diwawancara untuk kerja, saya bisa
> bersikap kurang ajar karena saya seolah balik mewawancara orang bagian HRD
> apakah perusahaannya memang layak memperkerjakan saya,” ujarnya. ”Kini,
> seolah Anda harus memelas dan bahkan mengemis-ngemis untuk bisa bekerja,”
> tambahnya.
>
> Mengantar Pizza
> Setelah satu masa sulit yang panjang dan pencarian kerja yang sia-sia,
> keluarga Karpman kehabisan uang tabungan untuk keperluan sehari-hari. Bahkan
> mereka dililit utang ratusan ribu dollar. Rumah mewah mereka pun terancam
> disita oleh bank. Membutuhkan uang segar dengan segera untuk memenuhi
> kehidupan sehari-hari, Karpman mencoba menemukan pekerjaan. Apapun akan
> dilakukannya, tidak lagi pilih-pilih pekerjaan, meski itu menurunkan
> derajatnya. Ia mencoba melamar menjadi bartender namun ternyata hanya
> penolakan yang ia dapat.
> Akhirnya, dia membawa mobil Mercedes-nya ke ke Mike’s Pizza & Deli Station
> di Clearwater dan melamar kerja. Mike Dorado, pemilik toko pizza itu,
> mengatakan dirinya terkejut ketika membaca curiculum vittae Karpman. Untuk
> menjadi pengantar pizza dari rumah ke rumah tak perlu harus bergelar MBA dan
> berpengalaman sebagai manajer pialang saham. Dengan kata lain, Karpman
> tergolong over-qualified (bobot pendidikan dan pengalaman kerja terlalu
> tinggi untuk posisi kerja yang dia lamar). Bagaimanapun, yang ada hanya
> lowongan sebagai pengantar pizza.
> Bahkan, sang istri Stephanie Karpman lebih terkejut lagi saat Ken tiba di
> rumah dengan pekerjaan barunya. ”Kamu tidak bercanda, kan ?” kata Stephanie.
> ”Mengantarkan pizza. Tidak pernah terpikirkan olehku, bahkan dalam mimpi
> terliarku sekalipun untuk melakukan itu,” lanjutnya.
> Gaji Karpman terjun bebas. Dari enam digit per jam menjadi hanya USD 7,29
> (RP. 85.000) per jam plus tips, satu angka yang terbilang sangat kecil untuk
> ukuran AS.
> Namun itu adalah uang yang sepatutnya ia syukuri. ”Ini adalah proses terjun
> bebas, luar biasa bagaimana begitu banyak hal yang Anda katakan, ’saya tak
> bisa melakuan itu’ untuk menolak karena gengsi, tapi seminggu kemudian anda
> katakan, ’Ya... saya bisa melakuan itu,’” ujarnya.
> ”Saya tidak akan meniti karir di bidang ini, namun akan mendapatkan sesuatu
> yang lebih di masa depan, itu yang akan saya lakukan untuk tetap menjaga
> agar dapur tetap mengepul,” lanjutnya.
> Tekanan ini memang sempat memberi sedikit dampak pada pernikahan mereka.
> Stephanie mengatakan dirinya tidak ingin suaminya meninggalkan pekerjaan
> sebagai pialang dan berharap suaminya itu punya tabungan yang lebih. Tapi
> itulah fakta yang harus diterimanya. ”Tidak perlu bertanya di mana letak
> kesalahannya,” ujar Ken Karpman. Dan ketika harus menunjuk kambing hitam,
> ”Saya akan menunjuk ke arah saya,” tegasnya.
> Dari pengalamannya ini, Karpman menyadarai, setiap hari membawa satu
> pelajaran baru dalam kehidupan dengan sedikit harta dan lebih banyak
> kerendahan hati. ”Pizza adalah langkah maju,” tandasnya.
> Saat Karpman menghitung setiap sen yang dia terima, dia masih berharap bisa
> kembali ke posisinya yang dulu dan kembali ke gaya hidup papan atas yang
> sekan tak bisa lepas dari tangan. ”Saya butuh beberapa kemenangan,” ujarnya.
> ”Semoga, itu akan segera kembali,” lanjutnya.
>
>
>
> Semoga Manfaat
>
>
> ________________________________
> Akses email lebih cepat.
> Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru
> yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis)
>
Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, Gmail
ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/