kang kalau emang bisa..kalau sy angon bebek...gak banyak-banyak..yang pas..pas 
an aja....

pas ..mau ke pergi haji? pas ada duitnya... he...he...pokoknya serba pas 
deh...he..hee

--- Pada Kam, 16/4/09, komarudin ibnu mikam <[email protected]> menulis:

Dari: komarudin ibnu mikam <[email protected]>
Topik: Re: [sma1bks] Fwd: Eksekutif Pengantar Pizza....
Kepada: [email protected]
Tanggal: Kamis, 16 April, 2009, 7:22 AM











    
            
            


      
      waduh, kalo orang-orang bener pada lari ke kampung, angon bebek. Yang 
ngisi Kota siapa dong?
kayaknnya di tengah megapolitan yang segalanya serba kosmopolit bisa juga masuk 
surga. 
Asyik juga kan kalo hidup kaya raya. mobil alphard, perushaaan penerbit 3, buku 
best seller 100, royaltinya buat ngebiayain 5 pesantren , istri empat (satu 
dari pks, satu lagi yang anti demokrasi dari JAT, satu lagi dari HTI, satu lagi 
artis berjilbab), mati masuk surga....banyak yang ngedoain....


Hayo sapa yang mau ikut?



2009/4/16 Arief Kurniawan <batigol_arief@ yahoo.com>


















    
            
            


      
      
     Saya coba mengutip dari www.geraidinar. com
Jika kita menghindari riba dan bermuamalah insyallah pasti survive di tengah 
krisis

Investasi yang paling mujarab di dunia ini adalah sektor rill. Seperti pernah 
di contohkan rasul. Perputaran uang harus cepat agar semua umat sejahtera. 
Sekto riill ini antara lain adalah beternak, bertani, berdagang kebutuhan 
pokok. Sektor rill sudah teruji tahan terpaan krisis kapitalis saat ini. 


Berikutnya adalah menyediakan layanan jasa, mengajar, service dll. Ini juga 
tahan terpaan krisis kapitalis

Yang paling rendah takarannya untuk survive dari krisis global adalah menabung 
dengan emas. Tapi islam melarang untuk menimbun, ini sesuai dgn nishab emas 
85gram maka akan kena zakat. Lalu bagaimana agar bila kena zakat tapi emas kita 
tidak berkurang? Ada namanya qirad atau jual beli emas yang dilakukan dengan 85 
gram emas.


Apakah cara tsb halal, juga mengutip dari www.geraidinar. com dikatakan oleh 
Pak Muhaimin Iqbal, beliau juga mengutip dari Prof Didin Hafiduddin. Begini:

"Ada pelajaran yang membekas di benak saya dari guru saya dibidang ekonomi 
syariah Prof. Didin Hafiduddin dalam menyikapi berbagai hal yang kita temui di 
kehidupan sehari-hari kita – dalam hal muamalah maupun dalam hal 
Ibadah. Pedomannya sederhana menurut beliau yaitu untuk urusan ibadah – 
perhatikan yang diperintahkan dan dicontohkan oleh junjungan kita Muhammad 
Rasulullah Sholallahu Alaihi Wa Salam. Diluar yang diperintahkan dan 
dicontohkan ini – haram hukumnya dalam Ibadah. Sebaliknya dalam hal muamalah – 
perhatikan yang dilarang , diluar yang dilarang ini boleh hukumnya."


Wallahu alam bi showab

AriefK

Sent from my NerdBerry® freakz smartphone powered by XLFrom:  "Irzan Supriyadi" 
Date: Thu, 16 Apr 2009 14:40:06 +0700

To: <sma1...@yahoogroups .com>
Subject: RE: [sma1bks] Fwd: Eksekutif Pengantar Pizza....
                                
 Ya transmigrasi ke kampuang orang sono, kawin sama orang sono. Angon bebek, 
mbek dan mbok nom. Wis sampe mati kan selesai… Masa sambil hapal Alquran, 
sampeyan gak betah?
     From: sma1...@yahoogroups .com [mailto:sma1...@yahoogroups .com] On Behalf 
Of QiDHiR Abdul Salam

Sent: Thursday, April 16, 2009 1:49 PM
To: sma1...@yahoogroups .com
Subject: RE: [sma1bks] Fwd: Eksekutif Pengantar Pizza....
        


         Kalau sy penginnya sih ...angon bebek atau 'mbek' mas di   kampung 
sambil tani yg organik....

   
   kumpulkan uang recehan yang ada sampai mampu beli seekor domba lalu setelah  
 sholat iedul adha, sembelih  domba tersebut dan bagikan dagingnya ke   fakir 
miskin .... itupun kalau masih ada kampung mas.......he. ..he...

   
   --- Pada Rab, 15/4/09, Irzan Supriyadi <irza...@faber- castell.co. id>   
menulis:   
   Dari: Irzan Supriyadi <irza...@faber- castell.co. id>

   Topik: RE: [sma1bks] Fwd: Eksekutif Pengantar Pizza....
   Kepada: sma1...@yahoogroups .com
   Tanggal: Rabu, 15 April, 2009, 11:42 PM      
      Sorry nih, pendapat saya saja sih.   Kalo saya pulang kekampung nenek 
saya,   bertani dan menangkap ikan sungai. 
   Malamnya menghapal Alquran, kalo ada   peluang ke jalur Gaza saya daftar. 
Mati sahid deh … kalau mati ditembak   musuh.    
             From:   sma1...@yahoogroups .com [mailto:sma1bks@ yahoogroups. 
com] On Behalf Of QiDHiR   Abdul Salam

   Sent: Thursday, April 16, 2009 12:34 PM
   To: sma1...@yahoogroups .com
   Subject: [sma1bks] Fwd: Eksekutif Pengantar Pizza....                   
   
   
                                    
     > --- Pada Kam, 16/4/09, nana pras <nanap...@yahoo. com> menulis:

     >
     > Dari: nana pras <nanap...@yahoo. com>
     > Topik: [Usaha-Bersama] Eksekutif Pengantar Pizza....
     > Kepada: usaha-bersama@ yahoogroups. com
     > Tanggal: Kamis, 16 April, 2009, 7:52 AM

     >
     > Assalamu'alaikum Wr Wb
     >
     > Para sedulur ...semoga cerita ini dapat menjadikan renungan kita     
bersama,
     > saya memperolehnya dari seorang teman yang mengirimkan ke email saya.

     >
     > Bagaimanapun, KERENDAHAN HATI-nya untuk menurunkan GENGSI demi     
keluarga
     > patut diacungi JEMPOL. Seorang yang berada di “atas” tidak akan mudah
     > menerima bila sekarang dia berada di ”bawah”. Seorang dengan mental     
seperti

     > ini akan segera dapat bangkit kembali dan menjadi teladan yang baik     
bagi
     > anak-anaknya.
     >
     >
     >
     >
     >
     > Subject: Eksekutif Itu Kini Jadi Pengantar Pizza !

     >
     >  ABC: KEN Karpman bersama keluarga menjalani kehidupan sederhana.
     >
     > Krisis ekonomi di AS membuat seorang eksekutif bergaji Rp 8,8 miliar     
per
     > tahun jatuh bangkrut. Untuk bertahan hidup, sang eksekutif pun     
akhirnya

     > menjadi pengantar pizza dengan upah rendah. RESESI di Amerika Serikat    
 memang
     > begitu kejam. Tak hanya raksasa bisnis yang silih berganti     
bertumbangan.
     > Bagi warganya pun, krisis kali ini benar-benar bisa mengubah nasib     
mereka

     > 180 derajat. Tengok saja apa yang terjadi pada seorang eksekutif     
bernama Ken
     > Karpman ini.
     > Selama 45 tahun, Hidup Ken Karpman nyaris sempurna. Lulus dari     
universitas
     > bergengsi UCLA ( University of California ) dengan gelar MBA, Karpman

     > langsung mendapat pekerjaan sebagai pialang saham. Dia pun kemudian     
menikahi
     > gadis impiannya, Stephanie, dan dikarunia dua anak. Bersama, mereka     
telah
     > berkeliling dunia dalam paket liburan yang mahal tiap tahun.

     > Sekitar 20 tahun meniti karir sebagai pialang, Karpman pun naik     
jabatan
     > dalam perusahaannya. Gajinya turut melonjak mencapai US$750.000     
(sekitar
     > lebih dari Rp 8,8 miliar) per tahun. ”Saat itu hidup begitu indah.     
Kami bisa

     > menghasilkan banyak uang. Entah mengapa situasi itu kok tidak     
berlanjut?”
     > kata Karpman dalam wawancara khusus dengan stasiun televisi ABC.
     > Dari seluruh sisi kehidupan mereka, Ken dan Stephanie Karpman     
menikmati

     > benar gaya hidup kelas atas. Mereka tinggal di wilayah elite, Tampa ,
     > Florida . Bahkan mereka memiliki satu lapangan golf seluas 400 kaki     
persegi.
     > Untuk urusan uang, bisa dibilang keluarga ini tidak ada masalah. ”Saya   
  tidak

     > pernah memperhatikan harga saat membeli sesuatu di toko,” ujarnya.     
”Saya
     > hanya tinggal masukkan barang apa pun yang saya inginkan ke dalam     
troli dan
     > membayar berapa pun harganya,” lanjut Karpman.

     > Karpman sangat percaya diri dengan keberuntungannya. Dengan dukungan     
ekonomi
     > kuat, dia meninggalkan pekerjaannya pada 2005 untuk memulai usahanya     
sendiri
     > yang sejenis dengan pekerjaan lamanya. Untuk mendirikan perusahaan     
sendiri

     > sekaligus meningkatkan taraf hidup, Karpman dengan enteng mengeluarkan   
  dana
     > US$500.000 dari tabungannya. Seperti kebiasaan orang-orang Amerika,     
Karpman
     > juga mengajukan kredit dalam jumlah besar dengan jaminan rumah.

     > Namun nasib berkata lain. Keberuntungan itu berbalik arah. Seiring     
dengan
     > badai krisis yang menghantam Negeri Paman Sam, Karpman pun tak mampu     
menarik
     > para investor. Akibatnya, dia dipaksa untuk menggulung tikar     
perusahaannya.

     > Bahkan kini dia tidak memiliki pekerjaan. Dia pontang-panting memasuki
     > banyak bursa kerja, namun hasilnya pun nihil.
     > Itu tidak pernah dialami Karpman di masa lalu. Urusan pekerjaan kala     
itu

     > begitu sangat mudah. ”Dulu, ketika saya diwawancara untuk kerja, saya    
 bisa
     > bersikap kurang ajar karena saya seolah balik mewawancara orang bagian   
  HRD
     > apakah perusahaannya memang layak memperkerjakan saya,” ujarnya.     
”Kini,

     > seolah Anda harus memelas dan bahkan mengemis-ngemis untuk bisa     
bekerja,”
     > tambahnya.
     >
     > Mengantar Pizza
     > Setelah satu masa sulit yang panjang dan pencarian kerja yang sia-sia,

     > keluarga Karpman kehabisan uang tabungan untuk keperluan sehari-hari.    
 Bahkan
     > mereka dililit utang ratusan ribu dollar. Rumah mewah mereka pun     
terancam
     > disita oleh bank. Membutuhkan uang segar dengan segera untuk memenuhi

     > kehidupan sehari-hari, Karpman mencoba menemukan pekerjaan. Apapun     
akan
     > dilakukannya, tidak lagi pilih-pilih pekerjaan, meski itu menurunkan
     > derajatnya. Ia mencoba melamar menjadi bartender namun ternyata hanya

     > penolakan yang ia dapat.
     > Akhirnya, dia membawa mobil Mercedes-nya ke ke Mike’s Pizza & Deli     
Station
     > di Clearwater dan melamar kerja. Mike Dorado, pemilik toko pizza itu,
     > mengatakan dirinya terkejut ketika membaca curiculum vittae Karpman.     
Untuk

     > menjadi pengantar pizza dari rumah ke rumah tak perlu harus bergelar     
MBA dan
     > berpengalaman sebagai manajer pialang saham. Dengan kata lain, Karpman
     > tergolong over-qualified (bobot pendidikan dan pengalaman kerja     
terlalu

     > tinggi untuk posisi kerja yang dia lamar). Bagaimanapun, yang ada     
hanya
     > lowongan sebagai pengantar pizza.
     > Bahkan, sang istri Stephanie Karpman lebih terkejut lagi saat Ken tiba   
  di

     > rumah dengan pekerjaan barunya. ”Kamu tidak bercanda, kan ?” kata     
Stephanie.
     > ”Mengantarkan pizza. Tidak pernah terpikirkan olehku, bahkan dalam     
mimpi
     > terliarku sekalipun untuk melakukan itu,” lanjutnya.

     > Gaji Karpman terjun bebas. Dari enam digit per jam menjadi hanya USD     
7,29
     > (RP. 85.000) per jam plus tips, satu angka yang terbilang sangat kecil   
  untuk
     > ukuran AS.
     > Namun itu adalah uang yang sepatutnya ia syukuri. ”Ini adalah proses     
terjun

     > bebas, luar biasa bagaimana begitu banyak hal yang Anda katakan, ’saya   
  tak
     > bisa melakuan itu’ untuk menolak karena gengsi, tapi seminggu kemudian   
  anda
     > katakan, ’Ya... saya bisa melakuan itu,’” ujarnya.

     > ”Saya tidak akan meniti karir di bidang ini, namun akan mendapatkan     
sesuatu
     > yang lebih di masa depan, itu yang akan saya lakukan untuk tetap     
menjaga
     > agar dapur tetap mengepul,” lanjutnya.

     > Tekanan ini memang sempat memberi sedikit dampak pada pernikahan     
mereka.
     > Stephanie mengatakan dirinya tidak ingin suaminya meninggalkan     
pekerjaan
     > sebagai pialang dan berharap suaminya itu punya tabungan yang lebih.     
Tapi

     > itulah fakta yang harus diterimanya. ”Tidak perlu bertanya di mana     
letak
     > kesalahannya,” ujar Ken Karpman. Dan ketika harus menunjuk kambing hitam,
     > ”Saya akan menunjuk ke arah saya,” tegasnya.

     > Dari pengalamannya ini, Karpman menyadarai, setiap hari membawa satu
     > pelajaran baru dalam kehidupan dengan sedikit harta dan lebih banyak
     > kerendahan hati. ”Pizza adalah langkah maju,” tandasnya.

     > Saat Karpman menghitung setiap sen yang dia terima, dia masih berharap   
  bisa
     > kembali ke posisinya yang dulu dan kembali ke gaya hidup papan atas     
yang
     > sekan tak bisa lepas dari tangan. ”Saya butuh beberapa kemenangan,”     
ujarnya.

     > ”Semoga, itu akan segera kembali,” lanjutnya.
     >
     >
     >
     >  Semoga Manfaat
     >
     >
     >____________ _________ _________ __
     > Akses email lebih cepat.

     > Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8     
baru
     > yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis)
     >                    
                   Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman

   Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!              
             
  Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!   
                                           
 

      

    
    
        
        
        
        


        


        
        
        
        
        




-- 
Komarudin Ibnu Mikam
WTS - Writer Trainer Speaker
komarmikam.multiply .com
0818721014-33113503
karya-karya ;
Novel Intelijen SOA (luxima)

sekuntum cinta untuk istriku (GIP)
prahara buddenovsky (GIP)
dinda izinkan aku melamarmu (KBP)
sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat)
nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat)
merit yuk! (qultum media)

rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)



 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru. Lengkap dengan segala yang Anda sukai 
tentang Messenger! http://id.messenger.yahoo.com

Kirim email ke