Ya betul, sebaik2nya Iman seseorang adalah banyak bermanfaat bagi banyak
orang. Ini kata2 favorit saya dari "Rahasia Hatinya" Iman Ghozali.

Namun, bayangkan sudah cape2 cari harta, cape juga dihisabnya, jadi 2 kali
cape-kan. Tinggal pilih mau cape hal yg pertama atau yg kedua?

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
komarudin ibnu mikam
Sent: Thursday, April 16, 2009 9:22 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [sma1bks] Fwd: Eksekutif Pengantar Pizza....

 






waduh, kalo orang-orang bener pada lari ke kampung, angon bebek. Yang ngisi
Kota siapa dong?
kayaknnya di tengah megapolitan yang segalanya serba kosmopolit bisa juga
masuk surga. 
Asyik juga kan kalo hidup kaya raya. mobil alphard, perushaaan penerbit 3,
buku best seller 100, royaltinya buat ngebiayain 5 pesantren , istri empat
(satu dari pks, satu lagi yang anti demokrasi dari JAT, satu lagi dari HTI,
satu lagi artis berjilbab), mati masuk surga....banyak yang ngedoain....

Hayo sapa yang mau ikut?




2009/4/16 Arief Kurniawan <[email protected]>

 

Saya coba mengutip dari www.geraidinar.com
Jika kita menghindari riba dan bermuamalah insyallah pasti survive di tengah
krisis

Investasi yang paling mujarab di dunia ini adalah sektor rill. Seperti
pernah di contohkan rasul. Perputaran uang harus cepat agar semua umat
sejahtera. Sekto riill ini antara lain adalah beternak, bertani, berdagang
kebutuhan pokok. Sektor rill sudah teruji tahan terpaan krisis kapitalis
saat ini. 

Berikutnya adalah menyediakan layanan jasa, mengajar, service dll. Ini juga
tahan terpaan krisis kapitalis

Yang paling rendah takarannya untuk survive dari krisis global adalah
menabung dengan emas. Tapi islam melarang untuk menimbun, ini sesuai dgn
nishab emas 85gram maka akan kena zakat. Lalu bagaimana agar bila kena zakat
tapi emas kita tidak berkurang? Ada namanya qirad atau jual beli emas yang
dilakukan dengan 85 gram emas.

Apakah cara tsb halal, juga mengutip dari www.geraidinar.com dikatakan oleh
Pak Muhaimin Iqbal, beliau juga mengutip dari Prof Didin Hafiduddin. Begini:

"Ada pelajaran yang membekas di benak saya dari guru saya dibidang ekonomi
syariah Prof. Didin Hafiduddin dalam menyikapi berbagai hal yang kita temui
di kehidupan sehari-hari kita - dalam hal muamalah maupun dalam hal Ibadah.
Pedomannya sederhana menurut beliau yaitu untuk urusan ibadah - perhatikan
yang diperintahkan dan dicontohkan oleh junjungan kita Muhammad Rasulullah
Sholallahu Alaihi Wa Salam. Diluar yang diperintahkan dan dicontohkan ini -
haram hukumnya dalam Ibadah. Sebaliknya dalam hal muamalah - perhatikan yang
dilarang , diluar yang dilarang ini boleh hukumnya."

Wallahu alam bi showab

AriefK

Sent from my NerdBerryR freakz smartphone powered by XL

  _____  

From: "Irzan Supriyadi" 
Date: Thu, 16 Apr 2009 14:40:06 +0700
To: <[email protected]>
Subject: RE: [sma1bks] Fwd: Eksekutif Pengantar Pizza....

Ya transmigrasi ke kampuang orang sono, kawin sama orang sono. Angon bebek,
mbek dan mbok nom. Wis sampe mati kan selesai.

Masa sambil hapal Alquran, sampeyan gak betah?

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
QiDHiR Abdul Salam
Sent: Thursday, April 16, 2009 1:49 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [sma1bks] Fwd: Eksekutif Pengantar Pizza....

 






Kalau sy penginnya sih ...angon bebek atau 'mbek' mas di kampung sambil tani
yg organik....

kumpulkan uang recehan yang ada sampai mampu beli seekor domba lalu setelah
sholat iedul adha, sembelih  domba tersebut dan bagikan dagingnya ke fakir
miskin .... itupun kalau masih ada kampung mas.......he...he...

--- Pada Rab, 15/4/09, Irzan Supriyadi <[email protected]>
menulis:


Dari: Irzan Supriyadi <[email protected]>
Topik: RE: [sma1bks] Fwd: Eksekutif Pengantar Pizza....
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 15 April, 2009, 11:42 PM

Sorry nih, pendapat saya saja sih.

Kalo saya pulang kekampung nenek saya, bertani dan menangkap ikan sungai. 

Malamnya menghapal Alquran, kalo ada peluang ke jalur Gaza saya daftar. Mati
sahid deh . kalau mati ditembak musuh.

 

 

From: sma1...@yahoogroups .com [mailto:sma1bks@ yahoogroups. com] On Behalf
Of QiDHiR Abdul Salam
Sent: Thursday, April 16, 2009 12:34 PM
To: sma1...@yahoogroups .com
Subject: [sma1bks] Fwd: Eksekutif Pengantar Pizza....

 

 


 


> --- Pada Kam, 16/4/09, nana pras <nanap...@yahoo. com> menulis:
>
> Dari: nana pras <nanap...@yahoo. com>
> Topik: [Usaha-Bersama] Eksekutif Pengantar Pizza....
> Kepada: usaha-bersama@ yahoogroups. com
> Tanggal: Kamis, 16 April, 2009, 7:52 AM
>
> Assalamu'alaikum Wr Wb
>
> Para sedulur ...semoga cerita ini dapat menjadikan renungan kita bersama,
> saya memperolehnya dari seorang teman yang mengirimkan ke email saya.
>
> Bagaimanapun, KERENDAHAN HATI-nya untuk menurunkan GENGSI demi keluarga
> patut diacungi JEMPOL. Seorang yang berada di "atas" tidak akan mudah
> menerima bila sekarang dia berada di "bawah". Seorang dengan mental
seperti
> ini akan segera dapat bangkit kembali dan menjadi teladan yang baik bagi
> anak-anaknya.
>
>
>
>
>
> Subject: Eksekutif Itu Kini Jadi Pengantar Pizza !
>
>  ABC: KEN Karpman bersama keluarga menjalani kehidupan sederhana.
>
> Krisis ekonomi di AS membuat seorang eksekutif bergaji Rp 8,8 miliar per
> tahun jatuh bangkrut. Untuk bertahan hidup, sang eksekutif pun akhirnya
> menjadi pengantar pizza dengan upah rendah. RESESI di Amerika Serikat
memang
> begitu kejam. Tak hanya raksasa bisnis yang silih berganti bertumbangan.
> Bagi warganya pun, krisis kali ini benar-benar bisa mengubah nasib mereka
> 180 derajat. Tengok saja apa yang terjadi pada seorang eksekutif bernama
Ken
> Karpman ini.
> Selama 45 tahun, Hidup Ken Karpman nyaris sempurna. Lulus dari universitas
> bergengsi UCLA ( University of California ) dengan gelar MBA, Karpman
> langsung mendapat pekerjaan sebagai pialang saham. Dia pun kemudian
menikahi
> gadis impiannya, Stephanie, dan dikarunia dua anak. Bersama, mereka telah
> berkeliling dunia dalam paket liburan yang mahal tiap tahun.
> Sekitar 20 tahun meniti karir sebagai pialang, Karpman pun naik jabatan
> dalam perusahaannya. Gajinya turut melonjak mencapai US$750.000 (sekitar
> lebih dari Rp 8,8 miliar) per tahun. "Saat itu hidup begitu indah. Kami
bisa
> menghasilkan banyak uang. Entah mengapa situasi itu kok tidak berlanjut?"
> kata Karpman dalam wawancara khusus dengan stasiun televisi ABC.
> Dari seluruh sisi kehidupan mereka, Ken dan Stephanie Karpman menikmati
> benar gaya hidup kelas atas. Mereka tinggal di wilayah elite, Tampa ,
> Florida . Bahkan mereka memiliki satu lapangan golf seluas 400 kaki
persegi.
> Untuk urusan uang, bisa dibilang keluarga ini tidak ada masalah. "Saya
tidak
> pernah memperhatikan harga saat membeli sesuatu di toko," ujarnya. "Saya
> hanya tinggal masukkan barang apa pun yang saya inginkan ke dalam troli
dan
> membayar berapa pun harganya," lanjut Karpman.
> Karpman sangat percaya diri dengan keberuntungannya. Dengan dukungan
ekonomi
> kuat, dia meninggalkan pekerjaannya pada 2005 untuk memulai usahanya
sendiri
> yang sejenis dengan pekerjaan lamanya. Untuk mendirikan perusahaan sendiri
> sekaligus meningkatkan taraf hidup, Karpman dengan enteng mengeluarkan
dana
> US$500.000 dari tabungannya. Seperti kebiasaan orang-orang Amerika,
Karpman
> juga mengajukan kredit dalam jumlah besar dengan jaminan rumah.
> Namun nasib berkata lain. Keberuntungan itu berbalik arah. Seiring dengan
> badai krisis yang menghantam Negeri Paman Sam, Karpman pun tak mampu
menarik
> para investor. Akibatnya, dia dipaksa untuk menggulung tikar
perusahaannya.
> Bahkan kini dia tidak memiliki pekerjaan. Dia pontang-panting memasuki
> banyak bursa kerja, namun hasilnya pun nihil.
> Itu tidak pernah dialami Karpman di masa lalu. Urusan pekerjaan kala itu
> begitu sangat mudah. "Dulu, ketika saya diwawancara untuk kerja, saya bisa
> bersikap kurang ajar karena saya seolah balik mewawancara orang bagian HRD
> apakah perusahaannya memang layak memperkerjakan saya," ujarnya. "Kini,
> seolah Anda harus memelas dan bahkan mengemis-ngemis untuk bisa bekerja,"
> tambahnya.
>
> Mengantar Pizza
> Setelah satu masa sulit yang panjang dan pencarian kerja yang sia-sia,
> keluarga Karpman kehabisan uang tabungan untuk keperluan sehari-hari.
Bahkan
> mereka dililit utang ratusan ribu dollar. Rumah mewah mereka pun terancam
> disita oleh bank. Membutuhkan uang segar dengan segera untuk memenuhi
> kehidupan sehari-hari, Karpman mencoba menemukan pekerjaan. Apapun akan
> dilakukannya, tidak lagi pilih-pilih pekerjaan, meski itu menurunkan
> derajatnya. Ia mencoba melamar menjadi bartender namun ternyata hanya
> penolakan yang ia dapat.
> Akhirnya, dia membawa mobil Mercedes-nya ke ke Mike's Pizza & Deli Station
> di Clearwater dan melamar kerja. Mike Dorado, pemilik toko pizza itu,
> mengatakan dirinya terkejut ketika membaca curiculum vittae Karpman. Untuk
> menjadi pengantar pizza dari rumah ke rumah tak perlu harus bergelar MBA
dan
> berpengalaman sebagai manajer pialang saham. Dengan kata lain, Karpman
> tergolong over-qualified (bobot pendidikan dan pengalaman kerja terlalu
> tinggi untuk posisi kerja yang dia lamar). Bagaimanapun, yang ada hanya
> lowongan sebagai pengantar pizza.
> Bahkan, sang istri Stephanie Karpman lebih terkejut lagi saat Ken tiba di
> rumah dengan pekerjaan barunya. "Kamu tidak bercanda, kan ?" kata
Stephanie.
> "Mengantarkan pizza. Tidak pernah terpikirkan olehku, bahkan dalam mimpi
> terliarku sekalipun untuk melakukan itu," lanjutnya.
> Gaji Karpman terjun bebas. Dari enam digit per jam menjadi hanya USD 7,29
> (RP. 85.000) per jam plus tips, satu angka yang terbilang sangat kecil
untuk
> ukuran AS.
> Namun itu adalah uang yang sepatutnya ia syukuri. "Ini adalah proses
terjun
> bebas, luar biasa bagaimana begitu banyak hal yang Anda katakan, 'saya tak
> bisa melakuan itu' untuk menolak karena gengsi, tapi seminggu kemudian
anda
> katakan, 'Ya... saya bisa melakuan itu,'" ujarnya.
> "Saya tidak akan meniti karir di bidang ini, namun akan mendapatkan
sesuatu
> yang lebih di masa depan, itu yang akan saya lakukan untuk tetap menjaga
> agar dapur tetap mengepul," lanjutnya.
> Tekanan ini memang sempat memberi sedikit dampak pada pernikahan mereka.
> Stephanie mengatakan dirinya tidak ingin suaminya meninggalkan pekerjaan
> sebagai pialang dan berharap suaminya itu punya tabungan yang lebih. Tapi
> itulah fakta yang harus diterimanya. "Tidak perlu bertanya di mana letak
> kesalahannya," ujar Ken Karpman. Dan ketika harus menunjuk kambing hitam,
> "Saya akan menunjuk ke arah saya," tegasnya.
> Dari pengalamannya ini, Karpman menyadarai, setiap hari membawa satu
> pelajaran baru dalam kehidupan dengan sedikit harta dan lebih banyak
> kerendahan hati. "Pizza adalah langkah maju," tandasnya.
> Saat Karpman menghitung setiap sen yang dia terima, dia masih berharap
bisa
> kembali ke posisinya yang dulu dan kembali ke gaya hidup papan atas yang
> sekan tak bisa lepas dari tangan. "Saya butuh beberapa kemenangan,"
ujarnya.
> "Semoga, itu akan segera kembali," lanjutnya.
>
>
>
>  Semoga Manfaat
>
>
>________________________________
> Akses email lebih cepat.
> Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru
> yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis)
> 

 

  _____  

Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman
<http://sg.rd.yahoo.com/id/messenger/trueswitch/mailtagline/*http:/id.messen
ger.yahoo.com/invite/> 
Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!

 

  _____  

Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia
<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http:/id.yahoo.com/>  yang baru!




-- 
Komarudin Ibnu Mikam
WTS - Writer Trainer Speaker
komarmikam.multiply.com
0818721014-33113503
karya-karya ;
Novel Intelijen SOA (luxima)
sekuntum cinta untuk istriku (GIP)
prahara buddenovsky (GIP)
dinda izinkan aku melamarmu (KBP)
sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat)
nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat)
merit yuk! (qultum media)
rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)



Kirim email ke