Ada dua hal yg ingin saya ungkapkan:
1. Sebaiknya kita kembali ke Telkom lagi tanpa KSO maupun JVA dengan bentuk
JVC itu, Telkom ya... secara keseluruhan dari Sabang sampe Merauke, caranya
dengan pemberian wewenang yang lebih besar (atau istilah sekarang otonomi
luas) kepada masing2 divre untuk membangun dan mengembangkan usahanya sesuai
dengan dukungan dan karakteristik wilayahnya...(jelas nggak akan seragam
tho, nggak akan sama jenis usaha di Jakarta dengan di Kalimantan atau
Irian)..., nggak beda dengan JVC bisa lebih fleksibel juga tho.  Untungnya
apa:
- Secara moral masih ada rasa kebersamaan kita dan Telkom tetap akan menjadi
satu nama besar bagi Pelayanan Telekomunikasi di Indonesia.
- Permasalahan dalam Interkoneksi yg dikhawatirkan Bang Dedi tentunya dapat
diminimisasi kesulitannya, karena masih sama2 satu atap sehingga kebijakan2
yg dibuat tak kan jauh beda.
- Yang lebih penting kita bersatu dalam TELKOM untuk menghadapi pesaing2 di
bidang Telekomunikasi nanti, jangan sampai Indonesia hanya dijadikan pasar
dan diobok-obok oleh bangsa asing.
2. Jika karena keterpaksaan (akibat KSO ini) hrs ke JVA dengan membentuk
JVC2 tadi, yang hrs diperjelas dan jeli bagi kita adalah Aggreement-nya itu,
sebesar apa prosentase kepemilikan sahamnya, seperti apa operasionalnya,
trus sampai kapan batas JVA itu sendiri dan siapa2 saja yg bakal dijadikan
mitra...wah sepertinya cukup merepotkan ya...
Yang Jelas dengan JVA ini aku nggak bisa panggil kawanku yg ada di Medan,
Aceh...dengan sapaan Selamat Pagi Telkom lagi..., mungkin sudah jadi Good
Morning....,  atau apalah...
Gimana kawan...

Kirim email ke