Setelah baca penjelasan Dedi dan pendapat rekan lain, kelihatan memang KSO
dan JVC sama saja. Sama-sama merugikan Telkom. Pendapat rekan-rekan sebagai
solusi pun canggih. Masalahnya dari dulu Telkom memang tidak pernah berdiri
sendiri dalam mengambil keputusan. Inget pas jamannya mau KSO dulu ? Atau
kejadian lain, penerbitan KD 57 yang ternyata jadi celah bagi oknum
petinggi Telkom untuk hengkang dari Telkom. Belum lagi masalah kepemilikan
satelit, dan anak-anak perusahaan Telkom. Sebelum semua itu terjadi,
rasan-rasan seperti yang kita lakukan ini pernah pula dilakukan di kalangan
karyawan. Keuntungan dan kerugian dilist, dan jelas-jelas lebih banyak
ruginya, atau misalnya Telkom tidak rugi, ya tidak untung. Tapi kemudian
semua penjelasan mengenai kebijakan itu dikemas dengan manisnya, sehingga
kelihatannya Telkom sangat beruntung dengan penerapan kebijakan baru
tersebut. Sementara kita, para karyawan yang notabene hanyalah boneka
serdadu ini bisa berbuat apa, bisa pengaruh apa ... begitu terlihat rada
mbalelo langsung dimasukkan ke dalam kotak. Mungkin laen kalau mbalelonya
kompak ... (ini provokasi bukan, sih ?). Coba, buat apa kita dulu ngisi
angket pendapat mau lanjut atau nggak KSO-nya. Kalau tujuannya untuk
menampung aspirasi karyawan sih, benar-benar sudah tercapai. Gimana
caranya, ya, supaya pendapat-pendapat canggih ini tidak hanya jadi
pengayem-ayeming ati, tapi juga dipakai sebagai bahan oleh para pengambil
keputusan, mungkin ada rekan lain yang punya solusi.