Nelson Tansu meraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika
sebelum berusia 30 tahun. Karena last name-nya mirip nama Jepang, banyak
petinggi Jepang yang mengajaknya "pulang ke Jepang" untuk membangun Jepang.
Tapi Prof. Tansu mengatakan kalau dia adalah pemegang paspor hijau berlogo
Garuda Pancasila. Namun demikian, ia belum mau pulang ke Indonesia. Kenapa?
Di artikel wikimu dari Ardian Syam di awal tahun 2007 ini,
http://www.wikimu.com/News/Print.aspx?id=826, dibahas sedikit tentang Prof.
Nelson Tansu ini. Di artikel ini, akan dibahas lebih jauh siapa sih Profesor
Nelson Tansu ini yang termasuk peraih gelar profesor termuda di Amerika.
Nelson Tansu lahir di Medan, 20 October 1977. Lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1
Medan. Pernah menjadi finalis team Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar
Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical
Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan,
dan dengan predikat Summa Cum Laude. Kemudian meraih gelar Master pada bidang
yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada
usia 26 tahun. Ia mengaku orang tuanya hanya membiayai-nya hingga sarjana saja.
Selebihnya, ia dapat dari beasiswa hingga meraih gelar Doktorat. Dia juga
merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University
tempatnya bekerja sekarang.
Thesis Doktorat-nya mendapat award sebagai "The 2003 Harold A. Peterson Best
ECE Research Paper Award" mengalahkan 300 thesis Doktorat lainnya. Secara
total, ia sudah menerima 11 scientific award di tingkat internasional, sudah
mempublikasikan lebih 80 karya di berbagai journal internasional dan saat ini
adalah visiting professor di 18 perguruan tinggi dan institusi riset. Ia juga
aktif diundang sebagai pembicara di berbagai even internasional di Amerika,
Kanada, Eropa dan Asia.
Karena namanya mirip dengan bekas Perdana Menteri Turki, Tansu Ciller, dan juga
mirip nama Jepang, Tansu, maka pihak Turki dan Jepang banyak yang mencoba
membajaknya untuk "pulang". Tapi dia selalu menjelaskan kalau dia adalah orang
Indonesia. Hingga kini ia tetap memegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila
dan tidak menjadi warga negara Amerika Serikat. Ia cinta Indonesia katanya.
Tetapi, melihat atmosfir riset yang sangat mendukung di Amerika, ia menyatakan
belum mau pulang dan bekerja di Indonesia. Bukan apa-apa, harus kita akui bahwa
Indonesia terlalu kecil untuk ilmuwan sekaliber Prof. Nelson Tansu.
Ia juga menyatakan bahwa di Amerika, ilmuwan dan dosen adalah profesi yang
sangat dihormati di masyarakat. Ia tidak melihat hal demikian di Indonesia. Ia
menyatatakan bahwa penghargaan bagi ilmuwan dan dosen di Indonesia adalah
rendah. Lihat saja penghasilan yang didapat dari kampus. Tidak cukup untuk
membiayai keluarga si peneliti/dosen. Akibatnya, seorang dosen harus mengambil
pekerjaan lain, sebagai konsultan di sektor swasta, mengajar di banyak
perguruan tinggi, dan sebagianya. Dengan demikian, seorang dosen tidak punya
waktu lagi untuk melakkukan riset dan membuat publikasi ilmiah. Bagaimana
perguruan tinggi Indonesia bisa dikenal di luar negeri jika tidak pernah
menghasilkan publikasi ilmiah secara internasional?
Prof. Tansu juga menjelaskan kalau di US atau Singapore, gaji seorang profesor
adalah 18-30 kali lipat lebih dari gaji professor di Indonesia. Sementara,
biaya hidup di Indonesia cuma lebih murah 3 kali saja. Maka itu, ia mengatakan
adalah sangat wajar jika seorang profesor lebih memilih untuk tidak bekerja di
Indonesia. Panggilan seorang profesor atau dosen adalah untuk meneliti dan
membuat publikasi ilmiah, tapi bagaimana mungkin bisa ia lakukan jika ia
sendiri sibuk "cari makan".
Dari diskusi saya dengan beberapa dosen di Indonesia, kelihatannya semua
meng-iya-kan apa yang Prof. Tansu gambarkan tentang dunia perguruan tinggi di
Indonesia. Hmm, memprihatinkan.
Sumber:
Website resmi Prof. Nelson Tansu:
http://www3.lehigh.edu/engineering/ece/tansu.asp
Majalah Campus Asia Volume 1 Number 1 October 2007
Best Regarts
www.dausmedia.cjb.net
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.