Mejuah juah Kila,

Aku lanai bo ku eteh erbelas kila, enggo megogosa ate..

Bujur
Eddy Surbakti

2008/5/29 MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Melala pemikiren, melala pikiran hidup ibas penyelamatan site enda,
> penting ula kita medem (Eddy). Muat lalana usul, aksi, pemikiran,
> kuakap tetap nge muat jilena, atau muat deherna kita ku tujuan.
> Unimed enggo arah lebe bas soal enda. Salut.
> 'Satukan uang makan' nina sembuyak Pa Canggah, sada usul si mungkin
> kang atau tidak mungkin. Tidak mungkin ningku nginget erga taneh adah
> ndai bandinken ras uang makan si terpepulung kita. Adi mungkin
> terpepulung engkai maka lahang, merandalkel. Cuba i orati terdauhen
> uga erga ras kemampuanta enda. Banci kang kapken kari reh
> bantuan 'datas nari' misalna sponsor luar negeri nari si enggo
> terbiasa ngergai penadingen kuno/sejarah.
> Encage soal turis si singetken Pa Canggah. Pertandingan 'putri hijau
> modern', ilengkapi ras pertandingan ridi putri hijau bas pancur putri
> hijau adah ndai, umumken keseluruh dunia, penonton dari seluruh
> dunia, apalagi kalau pertandingan diikuti oleh banyak putri berbagai
> negeri. Pertandingan mandi putri zaman purba, dengan ritual
> tersendiri. Valuta masuk dari acara ini pasti berlebihan untuk
> menyelamatkan site sejarah. Sada pemikiran hehehe . . .
>
> Enda ka lebe
> Bujur
> MUG
>
>
> --- In [email protected] <tanahkaro%40yahoogroups.com>, Pa Canggah
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Mejuah-juah
> >
> > Satukan uang makan, beli kembali situs itu.
> > Itu saja nya caranya yang paling jitu, kempu bulangna.
> > Keke pun kita kalau pengembang sudah bayar sama yang menjualnya,
> khan tak benar juga.
> > Mengharap pemerintah turun tangan? Ee orong me lebe, sangana pula
> sibuk menghadapi pilkado.
> > Kalau pengembang atau yang punya proyek sedikit cerdik, tentu
> situs itu akan di pelihara dan di per cantiknya. Promosikan jadi
> tujuan wisata, tempat acara2 budaya, dan sekali2 jadikan tempat
> pemilihan putri hijau masa kini, bak pemilihan ratu kecantikan.
> Semoga..
> >
> > Egia, perlu juga kita keke, ertina megermet, nggermetti taneh
> sideban, ula kari terdaya kerina taneh nininta nai. Tah enggom pe, la
> sieteh, perban la keke arih?
> >
> > Mejuah-juah
> >
> >
> > Radio Karo Accees Global <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Ija kalak Karo Endai ? Enggo Ka Medem... Jangku Jangku
> Gia ningen kari lalap, adi pedemken rumah..
> >
> >
> >
> > 2008/5/28 pelangiharum <[EMAIL PROTECTED]>:
>
> > Pembangunan Rumah di Situs Sejarah Tetap Jalan
> > Selasa, 27 Mei 2008 | 19:52 WIB
> >
> http://www.kompas.com/read/xml/2008/05/27/19524172/pembangunan.rumah.d
> i.\
> > situs.sejarah.tetap.jalan
> >
> > MEDAN, SELASA - Patok kayu kini sudah tertancap di kawasan situs
> Putri
> > Hijau, Kecamatan Namorambe, Deli Serdang. Patok tersebut merupakan
> > penanda dimulainya pembangunan perumahan di kawasan bersejarah itu.
> >
> > Peneliti sejarah dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Badan
> Warisan
> > Sumatera (BWS) dan mahasiswa merasa diintimidasi mandor pembangunan
> di
> > lokasi.
> >
> > "Saya berusaha menahan diri. Saya jelaskan keperluan kami di lokasi.
> > Namun mereka terus jelaskan bahwa minggu depan akan datang material
> > bangunan lain seperti batu dan semen," kata Eron Damanik peneliti
> dari
> > Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial (Pussis) Unimed, Selasa
> (27/5)
> > di Medan.
> >
> > Menurut Eron sikap mereka tidak bersahabat. Di lokasi bekas Benteng
> > Putri Hijau itu para mandor menginterogasi rombongan dengan nada
> tinggi.
> > "Saya katakan kami dari kampus yang melakukan penelitian dan
> perjalanan
> > sejarah di situs ini bersama mahasiswa," tutur Eron seraya
> menjelaskan
> > jumlah rombongan ada sembilan orang.
> >
> > Sikap para mandor itu cukup menganggu para peneliti dan mahasiswa.
> Meski
> > tidak ada larangan, secara psikologis rombongan tidak merasa nyaman
> di
> > lokasi. Eron menjelaskan bahwa kawasan itu merupakan kawasan sejarah
> > yang tidak boleh mengalami perubahan bentuk dan fungsi. Namun para
> > mandor tidak memedulikannya. "Mereka tidak mau tahu, mereka tetap
> > melaksanakan rencana pembangunan, " katanya.
> >
> > Hal yang sama disampaikan Direktur Pasca Sarjana Universitas Negeri
> > Medan (Unimed) Ichwan Azhari. Dia membatalkan rencana mengabadikan
> > tempat itu meski hal itu ingin dia lakukan untuk keperluan
> penelitian.
> > Tempat bersejarah itu, katanya, tidak boleh rusak atau berubah
> fungsi.
> >
> > Pada abad 12 sampai 15, berdasarkan catatan sejarah, tempat itu
> pernah
> > dipakai Putri Hijaupembesar Kerajaan Arumemakai sebagai benteng.
> Benteng
> > itu persis terletak di barat Sungai Petani. Salah satu penanda
> benteng
> > itu yang bisa dilihat berupa gundukan tanah yang di sisinya dipagari
> > bambu. Tempat itu disebut-sebut pernah menjadi pusat Kerajaan Aru
> yang
> > berpengaruh di pesisir timur Sumatera.
> >
> > Ichwan mengatakan perusakan Benteng Putri Hijau itu menjadi
> perhatian
> > pemerhati sejarah dalam dan luar negeri. Peneliti National
> University of
> > Singapore Edwars McKinnon, tuturnya, melaporkan hal ini ke
> organisasi
> > pendidikan dan kebudayaan dunia (Unesco). Dia dan kalangan pemerhati
> > sejarah akan menemui Bupati Deli Serdang Amri Tambunan untuk
> > menghentikan pembangunan di lokasi bersejarah itu. Perusakan kawasan
> > itu, tuturnya, jelas menyalahi Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1999
> Tentang
> > Benda Cagar Budaya dan Kepurbakalaan.
> >
> > Sebelumnya awal Mei lalu buldozer sempat masuk ke kawasan Benteng
> Putri
> > Hijau di Desa Deli Tua Kuta, Kecamatan Namorambe, Deli Serdang.
> Buldozer
> > itu memeratakan tanah yang akan dipakai untuk perumahan. Saat itu
> > informasi masuknya buldozer disampaikan Edwards Mckinnon yang
> > mengunjungi lokasi.
> >
>
>  
>

Kirim email ke