--- In [email protected], "MU Ginting" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:>
"... Encage soal turis si singetken Pa Canggah. Pertandingan 'putri
hijau modern', ilengkapi ras pertandingan ridi putri hijau bas pancur
putri hijau adah ndai, umumken ke seluruh dunia, penonton dari seluruh 
dunia, apalagi kalau pertandingan diikuti oleh banyak putri berbagai 
negeri. Pertandingan mandi putri zaman purba, dengan ritual
tersendiri. Valuta masuk dari acara ini pasti berlebihan untuk 
menyelamatkan site sejarah. Sada pemikiran hehehe ..."

Man kam duana orangtua kami, Bapa Pa Canggah ras Kaka MU Ginting,
sempat kal aku soor kerna usulendu. Tapi, lit sitek rongketna, aminna
lit kang jalan keluar si rongket é. Kuturiken lebé rongketna maka
kubelasken jalan keluarna.

Sekitar 2 tahun si lewat, sanga kita mengasuh Tabloid SORA MIDO denga,
reh nina Pemimpim Redaksi SORA MIDO man aku (sangé Pemimpin Redaksi
SORA MIDO Ita Apulina Tarigan), aténa meliput dan menulis mengenai
Putri Hijau khususna mengenai Pancur Gading i Namo Rambe.

Ningku man bana sangé: "Pang kam nulissa?" Engkai maka la pang, nina.
Bagénda, ningku. Ketika PJKA mendapat 2 kereta api baru, mereka beri
nama Putri Hijau dan Lancang Kuning. KA Putri Hijau akhirnya anjlok
dan hilang ditelan bumi (aku masih sempat naik Lancang Kuning dari
Medan ke Gunung Pamela PP). Saat PARFI melakukan survey untuk
pembuatan film Putri Hijau, kenderaan mereka jatuh ke jurang di
sekitar Daulu. Tak lama setelah Brahma Putro (K.S. Brahmana)
menerbitkan bukunya "Karo Dari Jaman Ke Jaman" (1982) diapun meninggal
dunia (dalam bukunya itu dia membeberkan sejarah Putri Hijau dan
kaitannya dengan Kerajaan Haru).

Ita Apulina saat itu diam. Tak berikan jawaban. Berbeda sekali saat
aku menjelaskan padanya siapa saja dan preman mana saja terlibat
dengan kasus tanah Durin Tonggal. Dia langsung jawab: "Kalau hanya
menghadapi mafia tanah kita takut, tak usah menerbitkan koran. Pengadi
saja koranta é. Ngeranai saja kam beluh, Iting."

Aku terdiam kaku. Aku merasa diri seperti  bencong. La dilaki la
diberu. Dan aku mengalah. Terpaksa kuakui, dengan serius, bahwa aku
pengecut! Soalnya, semua yang terlibat dalam mafia tanah di Durin
Tonggal adalah kenalanku dan anak buahnya kawanku minum tuak sampai
sekarang. Termasuk Ita Apulina pernah berbaur dengan mereka. Tapi
kebenaran dan orang lemah adalah priortias kita, kata Ita Apulina,
membuatku terpaksa merasa terkibiri. Aku menyerah takluk pada
perempuan yang satu ini yang menjadi Pemred SORA SIRULO dan dulunya
Pemred SORA MIDO.

Kembali ke cerita Putri Hijau. Kusampaikan pada Hendra Gunawan usulan
orangtua kita Bapa Pa Canggah dan Kaka MU Ginting, jawabnya: "Aku la
pang, Ma. Bulu romaku berdiri semua. Putri Hijau tak suka dikomersilkan."

Aku terdiam. "Bagaimana kalau kita buat pemilihan Putri Haru bukan
pemilihan Putri Hijau?" kataku. "É entah uga, tapi ula kal pemilihan
Putri Hijau," jawabnya dari seberang sana.

Kesimpulan, uga siakap adi usulenndu duana kam orangtua kami ula siban
pemilihan Putri Hijau tapi pemilihan Putri Kerajaan Haru?

BTW, soal penghentian buldoser menghancurkan benteng Putri Hijau telah
dapat kita amankan. Tapi, what next? Hanya menghentikan penghancuran
saja? Tidak ada yang bisa kita buat lebih lanjut?

Saya harap, Edmund Edward McKinnon secepatnya menyampaikan proposalnya
ke UNESCO dan di dalam proposal itu tercantum betapa pentingnya media
massa seperti SORA SIRULO. Mudah-mudahan. Berita-berita mengenai
benteng Putri Hijau ini lihat saja SORA SIRULO edisi Juni 2008.

Juara R. Ginting











Kirim email ke