Melala pemikiren, melala pikiran hidup ibas penyelamatan site enda, 
penting ula kita medem (Eddy). Muat lalana usul, aksi, pemikiran, 
kuakap tetap nge muat jilena, atau muat deherna kita ku tujuan. 
Unimed enggo arah lebe bas soal enda. Salut. 
'Satukan uang makan' nina sembuyak Pa Canggah, sada usul si mungkin 
kang atau tidak mungkin. Tidak mungkin ningku nginget erga taneh adah 
ndai bandinken ras uang makan si terpepulung kita. Adi mungkin 
terpepulung engkai maka lahang, merandalkel. Cuba i orati terdauhen 
uga erga ras kemampuanta enda. Banci kang kapken kari reh 
bantuan 'datas nari' misalna sponsor luar negeri nari si enggo 
terbiasa ngergai penadingen kuno/sejarah. 
Encage soal turis si singetken Pa Canggah. Pertandingan 'putri hijau 
modern', ilengkapi ras pertandingan ridi putri hijau bas pancur putri 
hijau adah ndai, umumken keseluruh dunia, penonton dari seluruh 
dunia, apalagi kalau pertandingan diikuti oleh banyak putri berbagai 
negeri. Pertandingan mandi putri zaman purba, dengan ritual 
tersendiri. Valuta masuk dari acara ini pasti berlebihan untuk 
menyelamatkan site sejarah. Sada pemikiran hehehe . . .  

Enda ka lebe
Bujur
MUG


--- In [email protected], Pa Canggah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mejuah-juah
>    
>   Satukan uang makan, beli kembali situs itu.
>   Itu saja nya caranya yang paling jitu, kempu bulangna. 
>   Keke pun kita kalau pengembang sudah bayar sama yang menjualnya, 
khan tak benar juga.
>   Mengharap pemerintah turun tangan? Ee orong me lebe, sangana pula 
sibuk menghadapi pilkado.
>   Kalau pengembang atau yang punya proyek sedikit cerdik, tentu 
situs itu akan di pelihara dan di per cantiknya. Promosikan jadi 
tujuan wisata, tempat acara2 budaya, dan sekali2 jadikan tempat 
pemilihan putri hijau masa kini, bak pemilihan ratu kecantikan. 
Semoga..
>    
>   Egia, perlu juga kita keke, ertina megermet, nggermetti taneh 
sideban, ula kari terdaya kerina taneh nininta nai. Tah enggom pe, la 
sieteh, perban la keke arih?
>    
>   Mejuah-juah
>   
> 
> Radio Karo Accees Global <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Ija kalak Karo Endai ? Enggo Ka Medem... Jangku Jangku 
Gia ningen kari lalap, adi pedemken rumah.. 
> 
> 
> 
>   2008/5/28 pelangiharum <[EMAIL PROTECTED]>:
>             Pembangunan Rumah di Situs Sejarah Tetap Jalan
> Selasa, 27 Mei 2008 | 19:52 WIB
> 
http://www.kompas.com/read/xml/2008/05/27/19524172/pembangunan.rumah.d
i.\
> situs.sejarah.tetap.jalan
> 
> MEDAN, SELASA - Patok kayu kini sudah tertancap di kawasan situs 
Putri
> Hijau, Kecamatan Namorambe, Deli Serdang. Patok tersebut merupakan
> penanda dimulainya pembangunan perumahan di kawasan bersejarah itu.
> 
> Peneliti sejarah dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Badan 
Warisan
> Sumatera (BWS) dan mahasiswa merasa diintimidasi mandor pembangunan 
di
> lokasi.
> 
> "Saya berusaha menahan diri. Saya jelaskan keperluan kami di lokasi.
> Namun mereka terus jelaskan bahwa minggu depan akan datang material
> bangunan lain seperti batu dan semen," kata Eron Damanik peneliti 
dari
> Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial (Pussis) Unimed, Selasa 
(27/5)
> di Medan.
> 
> Menurut Eron sikap mereka tidak bersahabat. Di lokasi bekas Benteng
> Putri Hijau itu para mandor menginterogasi rombongan dengan nada 
tinggi.
> "Saya katakan kami dari kampus yang melakukan penelitian dan 
perjalanan
> sejarah di situs ini bersama mahasiswa," tutur Eron seraya 
menjelaskan
> jumlah rombongan ada sembilan orang.
> 
> Sikap para mandor itu cukup menganggu para peneliti dan mahasiswa. 
Meski
> tidak ada larangan, secara psikologis rombongan tidak merasa nyaman 
di
> lokasi. Eron menjelaskan bahwa kawasan itu merupakan kawasan sejarah
> yang tidak boleh mengalami perubahan bentuk dan fungsi. Namun para
> mandor tidak memedulikannya. "Mereka tidak mau tahu, mereka tetap
> melaksanakan rencana pembangunan, " katanya.
> 
> Hal yang sama disampaikan Direktur Pasca Sarjana Universitas Negeri
> Medan (Unimed) Ichwan Azhari. Dia membatalkan rencana mengabadikan
> tempat itu meski hal itu ingin dia lakukan untuk keperluan 
penelitian.
> Tempat bersejarah itu, katanya, tidak boleh rusak atau berubah 
fungsi.
> 
> Pada abad 12 sampai 15, berdasarkan catatan sejarah, tempat itu 
pernah
> dipakai Putri Hijaupembesar Kerajaan Arumemakai sebagai benteng. 
Benteng
> itu persis terletak di barat Sungai Petani. Salah satu penanda 
benteng
> itu yang bisa dilihat berupa gundukan tanah yang di sisinya dipagari
> bambu. Tempat itu disebut-sebut pernah menjadi pusat Kerajaan Aru 
yang
> berpengaruh di pesisir timur Sumatera.
> 
> Ichwan mengatakan perusakan Benteng Putri Hijau itu menjadi 
perhatian
> pemerhati sejarah dalam dan luar negeri. Peneliti National 
University of
> Singapore Edwars McKinnon, tuturnya, melaporkan hal ini ke 
organisasi
> pendidikan dan kebudayaan dunia (Unesco). Dia dan kalangan pemerhati
> sejarah akan menemui Bupati Deli Serdang Amri Tambunan untuk
> menghentikan pembangunan di lokasi bersejarah itu. Perusakan kawasan
> itu, tuturnya, jelas menyalahi Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1999 
Tentang
> Benda Cagar Budaya dan Kepurbakalaan.
> 
> Sebelumnya awal Mei lalu buldozer sempat masuk ke kawasan Benteng 
Putri
> Hijau di Desa Deli Tua Kuta, Kecamatan Namorambe, Deli Serdang. 
Buldozer
> itu memeratakan tanah yang akan dipakai untuk perumahan. Saat itu
> informasi masuknya buldozer disampaikan Edwards Mckinnon yang
> mengunjungi lokasi.
>


Kirim email ke