Mengubah nama terung jepan atau terung belanda menjadi terung brastagi atau 
terung karo, buat spanduk atau sticker / pamflet dan bagikan ke pedagang terung 
"karo" .

Selamat

Salam,
Antoni Ginting

MyPhone®

-----Original Message-----
From: "gintingmu" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 23 Aug 2010 19:42:27 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [tanahkaro] Re: Jangan Lagi Sebut Terong Belanda


Sangat setuju dengan Ibu LT Djamin Ginting, mari kita rame-rame mengganti nama 
'terong penjajah' itu dengan nama Terong Berastagi. Patutnya memang harus kita 
juga yang memulai, terutama orang-orang Karo yang tinggal di luar Berastagi 
atau diluar Karo. 
Nama-nama buah lainnya juga perlu disertakan untuk diubah, seperti jeruk 
Berastagi, markisah Berastagi dan juga sayur-sayurannya. 
Penggantian nama ini berpengaruh besar juga terhadap perkembangan industri 
turism di Karo dan Sumut dan bahkan terhadap Indonesia umumnya, dan semakin 
populer semakin tinggi juga harganya.  
Bujur
MUG

--- In [email protected], Alexander Firdaust <daustco...@...> wrote:
TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Di usianya yang kini 86 tahun, istri pejuang 
kemerdekaan yang menentang Pemerintah Hindia Belanda di Tanah Karo, Ny LT 
Djamin Ginting masih menyimpan rasa kekecewaan dan masih tersirat di dalam 
hatinya. 

Kekecewaan itu terkait dengan penyebutan nama hasil tanaman dari Kabupaten Karo 
yang dinilainya tidak cocok. Yakni, Terong Berastagi yang di pasaran akrab 
disebut Terong Belanda.

Unik memang, tapi jika dicermati lebih dalam masuk akal juga apa yang selama 
ini dikeluhkan istri mantan Pangdam I Bukit Barisan, Letjen Djamin Ginting itu. 
Waktu itu, Ny.LT Djamin Ginting bersama keluarga makan di sebuah restoran. 
Seorang pelayan datang menghampiri dan menanyakan  menu apa  yang hendak 
dipesan. Setelah memesan makanan, pelayan itu pun menawarkan berbagai aneka 
minuman juice buah-buahan kepadanya. Pelayan itu menawarkan jus Terong Belanda 
kepadanya.

Wanita yang pernah menjadi anggota MPR RI dua periode dari Partai Golkar 
(1978-1983, 1983-1988) itu pun terkejut mendengarnya, lalu tersirat dalam 
hatinya, mengapa buah yang dihasilkan dari dataran tinggi Karo tersebut diberi 
nama terong Penjajah, yaitu Terong Belanda dan Terong Jepang.

"Buah itu kan dihasilkan dari Tanah Karo, mengapa tidak diberi nama Terong 
Tanah karo atau Terong Berastagi. Mengapa harus Terong penjajah (Belanda-Jepang 
red)," ucapnya kepada Tribun Medan.

Seorang wanita pejuang yang berangkat dari pribadi guru sederhana itu kini 
berharap agar masyarakat jangan lagi menyebut Terong Belanda maupun Terong 
Jepang. Tambahnya lagi,  perusahaan yang memproduksi buah tersebut menjadi 
aneka minuman segar agar kiranya mulai mempopulerkannya dengan nama Terong 
Berastagi atau Terong Tanah Karo.

Terong Berastagi adalah buah yang banyak ditemukan di dataran tinggi yang 
dingin. Buah ini banyak ditemukan di Sumut, terutama Kota Berastagi, Kabupaten 
Karo. Bentuknya oval sebesar telur ayam. Waktu muda warnanya kuning, saat 
matang warnanya berubah menjadi keunguan. Rasanya asam, biasanya  dibuat  jus, 
namun bisa juga dikonsumsi langsung sebagai buah segar.

Selain kaya akan air, buah tersebut mengandung provitamin A yang bagus untuk 
kesehatan mata dan Vitamin C untuk mengobati sariawan dan meningkatkan daya 
tahan tubuh. Di pasar buah Kota Berastagi, buah tersebut banyak dijual, 
harganya juga beraneka macam, mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 15 ribu. Jika Anda 
sedang bertandang ke daerah dataran tinggi Karo, tepatnya Berastagi, jangan 
lupa singgah dan cicipi Terong Berastagi. (*)

Sumber: http://www.tribunnews.com/2010/08/23/jangan-lagi-sebut-terong-belanda

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community



Kirim email ke