Di gundaling farm, kami juga menanam terong itu dan sudah 2 tahun ini kami perkenalkan dengan nama Terong Berastagi, contoh tanaman yg sudah berbuah ada di depan kantor kami.... dan memang banyak yang menanyakan......dan yg penting membeli... dan mencoba. Yang kami perkenalkan juga hasil farm kami sunkist-berastagi, Susu murni berastagi. Bujur, Per"Baroeng"Peceren
--- Pada Sel, 24/8/10, robinson g munthe <[email protected]> menulis: Dari: robinson g munthe <[email protected]> Judul: Re: [tanahkaro] Re: Jangan Lagi Sebut Terong Belanda Kepada: [email protected] Tanggal: Selasa, 24 Agustus, 2010, 4:37 AM Emaka mejingkat ningen rusur e, gelah ula ketadingen. --- On Mon, 8/23/10, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: [tanahkaro] Re: Jangan Lagi Sebut Terong Belanda To: [email protected] Date: Monday, August 23, 2010, 3:13 PM Kalau di Makassar dan beberapa kota di Sulawesi Selatan, mereka sudah berupaya mengganti namanya bukan lagi terong belanda, tapi bukan juga terong berastagi/tanah karo, melainkan terong toraja dan didukung penuh oleh pemerintah setempat (diklaim berasal dari dataran tinggi toraja). Padahal di makassar dan sekitarnya terong ini baru muncul sekitar 10 tahun terakhir ini (demikian juga di toraja belum terlalu populer) sedangkan setahu saya sejak saya lahir sudah ada terong berastagi di tanah karo. Saya setuju semua anggota milis ini mulai menggunakan kata terong berastagi dalam setiap kesempatan. Para web master buatkan juga situs2 tentang terong berastagi ini biar bisa go national dan international. Bujur, -eddy- Powered by Telkomsel BlackBerry®From: "gintingmu" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Mon, 23 Aug 2010 19:42:27 -0000To: <[email protected]>ReplyTo: [email protected] Subject: [tanahkaro] Re: Jangan Lagi Sebut Terong Belanda Sangat setuju dengan Ibu LT Djamin Ginting, mari kita rame-rame mengganti nama 'terong penjajah' itu dengan nama Terong Berastagi. Patutnya memang harus kita juga yang memulai, terutama orang-orang Karo yang tinggal di luar Berastagi atau diluar Karo. Nama-nama buah lainnya juga perlu disertakan untuk diubah, seperti jeruk Berastagi, markisah Berastagi dan juga sayur-sayurannya. Penggantian nama ini berpengaruh besar juga terhadap perkembangan industri turism di Karo dan Sumut dan bahkan terhadap Indonesia umumnya, dan semakin populer semakin tinggi juga harganya. Bujur MUG --- In [email protected], Alexander Firdaust <daustco...@...> wrote: TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Di usianya yang kini 86 tahun, istri pejuang kemerdekaan yang menentang Pemerintah Hindia Belanda di Tanah Karo, Ny LT Djamin Ginting masih menyimpan rasa kekecewaan dan masih tersirat di dalam hatinya. Kekecewaan itu terkait dengan penyebutan nama hasil tanaman dari Kabupaten Karo yang dinilainya tidak cocok. Yakni, Terong Berastagi yang di pasaran akrab disebut Terong Belanda. Unik memang, tapi jika dicermati lebih dalam masuk akal juga apa yang selama ini dikeluhkan istri mantan Pangdam I Bukit Barisan, Letjen Djamin Ginting itu. Waktu itu, Ny.LT Djamin Ginting bersama keluarga makan di sebuah restoran. Seorang pelayan datang menghampiri dan menanyakan menu apa yang hendak dipesan. Setelah memesan makanan, pelayan itu pun menawarkan berbagai aneka minuman juice buah-buahan kepadanya. Pelayan itu menawarkan jus Terong Belanda kepadanya. Wanita yang pernah menjadi anggota MPR RI dua periode dari Partai Golkar (1978-1983, 1983-1988) itu pun terkejut mendengarnya, lalu tersirat dalam hatinya, mengapa buah yang dihasilkan dari dataran tinggi Karo tersebut diberi nama terong Penjajah, yaitu Terong Belanda dan Terong Jepang. "Buah itu kan dihasilkan dari Tanah Karo, mengapa tidak diberi nama Terong Tanah karo atau Terong Berastagi. Mengapa harus Terong penjajah (Belanda-Jepang red)," ucapnya kepada Tribun Medan. Seorang wanita pejuang yang berangkat dari pribadi guru sederhana itu kini berharap agar masyarakat jangan lagi menyebut Terong Belanda maupun Terong Jepang. Tambahnya lagi, perusahaan yang memproduksi buah tersebut menjadi aneka minuman segar agar kiranya mulai mempopulerkannya dengan nama Terong Berastagi atau Terong Tanah Karo. Terong Berastagi adalah buah yang banyak ditemukan di dataran tinggi yang dingin. Buah ini banyak ditemukan di Sumut, terutama Kota Berastagi, Kabupaten Karo. Bentuknya oval sebesar telur ayam. Waktu muda warnanya kuning, saat matang warnanya berubah menjadi keunguan. Rasanya asam, biasanya dibuat jus, namun bisa juga dikonsumsi langsung sebagai buah segar. Selain kaya akan air, buah tersebut mengandung provitamin A yang bagus untuk kesehatan mata dan Vitamin C untuk mengobati sariawan dan meningkatkan daya tahan tubuh. Di pasar buah Kota Berastagi, buah tersebut banyak dijual, harganya juga beraneka macam, mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 15 ribu. Jika Anda sedang bertandang ke daerah dataran tinggi Karo, tepatnya Berastagi, jangan lupa singgah dan cicipi Terong Berastagi. (*) Sumber: http://www.tribunnews.com/2010/08/23/jangan-lagi-sebut-terong-belanda Salam Mejuah Juah Karo Cyber Community
