Emha: Pemimpin Belum Miliki Moralitas
                        Sabtu, 28 Agustus 2010 | 15:43 WIB
            SURABAYA, KOMPAS.com — Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) 
menilai pemimpin Indonesia hingga kini belum memiliki moralitas.

"Mulai
 dari Presiden SBY, menteri, hingga anggota DPR/DPRD enggak mau berubah.
 Tunggu saja, nanti akan ada yang mengubah," katanya di Surabaya, Kamis 
malam.

Ia mengemukakan hal itu dalam Buka Bersama dan Shalat 
Tarawih Keluarga Besar Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dengan Cak
 Nun.

Dalam acara bertopik "Excellence with Morality" itu, Cak 
Nun memberi apresiasi dengan semangat Unair yang mengusung visi dan misi
 "Excellence with Morality."

"Itu karena di Indonesia enggak ada yang mau berubah. Mereka nyolong (korupsi) 
seenaknya sendiri," katanya didampingi Rektor Unair Prof Dr H Fasich pt.

Suami
 dari artis Novia Kolopaking itu menyatakan, para pemimpin di Indonesia 
juga hanya menghargai diri sendiri dan tidak menghargai rakyatnya.

"Kalau
 menghargai orang lain itu berarti memiliki moralitas yang tinggi. 
Moralitas itu lebih tinggi dari hukum karena hukum itu bisa direkayasa, 
sedangkan moralitas itu dari nurani," katanya.

Menurut arek Jombang
 kelahiran 27 Mei 1953 itu, pemimpin yang menghargai orang lain itu 
tidak mementingkan jabatan, tetapi mementingkan moralitas.

"Jabatan
 itu enggak penting karena apa pun jabatan kita kalau memiliki 
moralitas, maka hal itu lebih penting, meski kita adalah tukang sapu," 
katanya.

Pemimpin kelompok Kiai Kanjeng itu menyatakan, pemimpin 
yang memiliki moralitas itu tidak menarik pajak sebelum memberikan 
fasilitas yang memadai.

"Kalau punya moral itu tidak hanya narik pajak dengan aturan-aturan hukum yang 
ada, tapi justru mengutamakan fasilitas, baru narik pajak," katanya.

Dalam
 kesempatan itu, Cak Nun mencontohkan dirinya yang sekarang tidak 
menghargai diri sendiri karena membuat segala bentuk jabatan yang 
disandang.

"Saya sudah enggak menghargai diri, apa saja akan saya lakukan, termasuk 
ngamen, karena saya ingin menghargai orang lain," katanya.

Dalam
 agama, Allah SWT sudah mengajarkan penarikan pajak hanya 2,5 persen, 
tetapi fasilitas sudah diberikan terlebih dulu dan bahkan sangat 
berlebihan.

"Allah SWT mengajarkan hubungan ’suami-istri’ antara 
diri-Nya dengan manusia. Suami itu memberi fasilitas, baru memberikan 
perintah ini-itu. Kalau kita mau seperti itu, insya Allah akan ada 
perubahan, jangan menunggu Allah yang mengubah," katanya.
http://oase.kompas.com/read/2010/08/28/15430716/Emha.Pemimpin.Belum.Miliki.Moralitas-8

 



  






      

Kirim email ke