Saya ingin mengomentari sedikit : Satria Iman Pribadi wrote: > Assalamu'alaikum w.w. > > delete.... > Cuma yang saya protes sebelumnya adalah kita akan jadi bergeser > dari > membahas Tasawuf jadi membahas hal yang diluar itu. tetapi > mungkin bisa > dikaitkan dengan tasawuf, misalnya ada yang pernah menulis > bahwa ada sufi > yang mampu menghidupkan orang mati dengan izin Allah, walaupun > dia bukan > Nabi. > > Kemampuan "sufi" ini juga jauh lebih hebat dari Raja Jin > misalnya, dalam > al-Qur-an diceritakan bahwa Raja Jin (Ifrit) hanya mampu paling > cepat > membawa kursi Ratu Balqis secepat Nabi Sulaiman berdiri dari > posisi duduk > dikursinya. Ternyata ada "orang" lain yang lebih hebat dari dia > (bukan > Malaikat), yaitu secepat kerdipan mata. Akhirnya Nabi Sulaiman > memakai dia > untuk memindahkan kursi Ratu Balqis. kata seorang Ustadz, orang > itu adalah > "orang shaleh". Ini menunjukkan bahwa "orang shaleh, mungkin > sekali seorang > sufi" mampu melakukan hal-hal tersebut yang lebih hebat dari > Jin Ifrit. > "Allah telah menetapkan bahwa tiada kamus kalah bagi-Ku (Kalimah-Ku) dan Rasul-Rasul-Ku (si Pembawanya) sesungguhya Allah Maha Kuat dan Maha Gagah" (Q.S Al Mujadilah : 21) Konklusi : NAMA-Nya pun MAHA KUAT dan MAHA GAGAH dan juga tidak mempunyai kamus kalah pula! Kalimah ALLAH inilah yang kita jadikan mata tombak dalam hidup kita dunia-akherat. Oleh sebab itu Ia harus masuk juga dalam sukma (Ruh) kita; untuk ini harus memakai metodologi. Sufi yang sudah masuk dalam golongan "Aulia Allah", mampu membawa "Kalimah Allah" yang tidak mempunyai kamus kalah. Oleh makhuk apapun (termasuk raja jin). Para Kekasih Allah tentu saja lebih mulai daripada Jin, bahkan mungkin lebih mulia daripada Malaikat (seperti halnya Nabi Muhammad SAW). > Juga cerita seperti di film Sunan kalijaga juga bukan hal yang > tidak > mungkin bagi kalangan Sufi. Saya pernah juga baca buku berbagai > kemampuan > sufi yang "hebat-hebat". Tetapi tentu bukan kemampuan ini yang > dituju oleh > seorang sufi. Apa yang dituju oleh seorang sufi, dan bagaimana > mencapainya > ?, saya kira inilah yang sedang dan seharusnya kita bahas. > > Jadi kemampuan dan mukjizat Nabi-Nabi pada dasarnya bisa ditiru > oleh > kemampuan sufi. Jadi tidak perlu terlalu mengistimewakan > kemampuan Nabi Isa > bisa menghidupkan orang mati. > Rahasia-rahasia "kehebatan" dan kekeramatan para Nabi dan para Wali sebenarnya bisa dipelajari dan diamalkan, begitu kata Mursyid kami. Secara ilmiah (hukum sebab-akibat), hal itu adalah tidak mustahil. Tentunya harus dengan suatu "metode", yang di dalam tasawuf dinamakan Thariqat (Thariqatullah). Tapi tujuan Thariqat bukanlah mencari "kekeramatan", tapi untuk mendekat kepada Allah, untuk meraih ridla dan kasih-Nya. > Kemudian Saya tetap sependapat seperti Pak Sunarman dan banyak > teman lain > yang mengatakan bahwa semua Nabi-Nabi itu adalah Muslim (orang > yang > berserah diri). Banyak ayat al-Qur-an yang mengatakan bahwa > Nabi-Nabi itu > adalah seorang yang Islam. Ajaran yang dibawa oleh nabi-Nabi > dan Rasul > sejak Nabi Adam AS sampai Nabi Muhammad SAW adalah ajaran > Islam, termasuk > Nabi Isa adalah Muslim, dan tidak membawa ajaran agama Nasrani > atau > Kristen. > Pada jaman Nabi Adam, Nama Muhammad sudah "bergandeng" dengan Nama Allah dalam Syahadat. Dan Nabi Adam berdo'a dengan "syafa'at" Muhammad. Di dalam kalimah Syahadat ini terdapat makna yang sangat dalam, bukan hanya sekedar untuk diucapkan saja.Maka orang yang Ma'rifatullah adalah orang yang ilmul yaqin, ainul yaqin dan haqqul yaqin akan Kalimah Syahadat. Konon, "Nur" Muhammad yang pertama kali diciptakan. Alam semesta ini diciptakan karena Muhammad SAW. Para Nabi (juga Para Wali) dalam "munajat" ke hadirat Allah-pun dengan channel "Nur" Muhammad SAW. Jadi pada hakekatnya mereka itu "satu jalan". Hingga dalam buku "4Book", sifat khas Guru Spiritual yang matang al: Ia mengikuti Perintah-perintah Allah dan Jalan para Nabi dengan sepenuhnya. "Jalan para Nabi" bukan hanya jalan Nabi Muhammad, karena pada hakekatnya jalan para Nabi adalah "sama". Semua Nabi mengajarkan agama "Tauhid". Di dalam Q.S An Nur : 35, "Nurun 'Ala Nurin" (Cahaya di atas Cahaya), Mursyid kami menafsirkannya sebagai "Nur Allah dan Nur Muhammad". Allah menunjuki kepada Cahaya-Nya kepada siapa yang dikehendakinya. Betapa mulianya Rasulullah Muhammad SAW. Seharusnya ini bukan dijadikan untuk sekedar berbangga-bangga atau berbantah-bantahan, tapi untuk lebih mensyukuri kita sebagai umat Muhammad SAW. > Lantas bagaimana menjawab tantangan Kristenisasi ?. Saya kira > banyak cara > lain selain berdebat dengan orang Kristen. Dalam Al-Qur-an juga > dianjurkan > kita untuk tidak berbantah-bantahan dengan orang luar Islam. > Ajaklah mereka > dengan bahasa yang lebih penuh hikmah. > Yang lebih penting adalah "pertahanan" di dalam diri kita masing-masing.Allah juga mengajarkan "lakum dinukum waliadin". > Sekian saja tambahan komentar saya dan saya kira mari kita baca > tulisan Uda > Nadri tentang Nabi Isa menurut pemahaman dan penelitian saudara > kita dari > Ahmadiyah, dan kita istirahat sejenak dari membahas Tasawuf > (sebenarnya > saya tidak suka pengalihan pembicaraan ini, karena sebaiknya > ini dibahas di > milis lain saja). > > Mohon ma'af jika ada yang salah. > > Wassalamu'alaikum w.w.
--------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
