Assalamu'alaikum wr.wb.

Satria Iman Pribadi wrote:
 
> Pak Sunarman sebelumnya meminta saya sabar, akan tetapi dengan e-mail Pak
> Sunarman menanggapi Nabi Isa, saya jadi berbalik mendukung uda Nadri untuk
> cerita. Ternyata memang banyak yang tidak tahu ihwal cerita "akan turunnya
> nabi Isa ini", misalnya saudara Taufan yang ikut ingin tahu.

Nah, begitu rasanya lebih baik. Rupanya perkataan saya kepada Bang
Nadri memantul dengan efektif kepada anda. Bang Nadri pada dasarnya
baik, ia berniat menjamu kita dengan makanan rendang kegemarannya.
Ia menyangka makanan itu pulalah yang terbaik bagi kita. Ia tidak
menyadari bahwa rendang yang dihidangkannya mengandung bumbu
[promosi] terlalu pekat, sehingga sebagian dari kita sakit perut.

Ketika saya menyindir dengan "dan saya lebih suka kalau langsung
disajikan setelah dimasak dalam keadaan masih panas," saya bermaksud
berkata bahwa saya lebih menyukai tulisan-tuliasn bernuansa baru
katimbang tulisan-tulisan stok lama yang sudah berumur puluhan
tahun.

Aliran apapun, tak terkecuali aliran Ahmadiyah, selama bertujuan
untuk mencapai ridha Allah dengan penyerahan diri, tak dapat begitu
saja disebut sesat. Namun kita tetap perlu menghindari benturan
dengan pihak lain dengan bertindak arif, dengan "angon wayah, angon
papan" [memperhatikan waktu, situasi dan kondisi setempat].

Dalam hal ini saya perlu mengungkapkan bahwa aliran Ahmadiyah
bertumpu pada keyakinan bahwa Hz. Mirza Ghulam Ahmad [pendiri aliran
itu] merupakan Imam Mahdi sebagai wujud kemunculan kembali Nabi Isa
di akhir zaman untuk membenahi umat Islam yang sudah berantakan. Di
sinilah letak titik peka yang dapat memicu perselisihan, hingga hal
ini penting untuk saya kemukakan. Kalau landasan pokok kelompok
Ahmadiyah ini diusik, jelas mereka akan kebakaran jenggot. Karena
itu, sangatlah tidak bijaksana bila orang luar mengusik dasar
keyakinan mereka. Sebaliknya, kelompok Ahmadiyah sendiri perlu sadar
bahwa orang luar tidak selalu menerima hal itu, sehingga dalam
berkomunikasi dengan pihak luar, hendaknya masalah yang sensitif ini
tidak dibawa-bawa. Mungkin dalam kasus ini "Lakum dinukum
waliyadiin" dapat direduksi menjadi "Bagimu aliranmu, bagiku
aliranku."

> Lantas bagaimana menjawab tantangan Kristenisasi ?. Saya kira banyak cara
> lain selain berdebat dengan orang Kristen. Dalam Al-Qur-an juga dianjurkan
> kita untuk tidak berbantah-bantahan dengan orang luar Islam. Ajaklah mereka
> dengan bahasa yang lebih penuh hikmah.

Dalam pandangan pribadi saya, Kristenisasi perlu kita hadapi dengan
cara memperbaiki [menyempurnakan] diri kita sendiri melalui
perbuatan nyata, bukan dengan adu argumentasi atau adu "Bapakku
lebih hebat daripada bapakmu". Renungkan ayat berikut:

   ... Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia
   menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat)
   kebaikan. QS 2:148

Wassalamu'alaikum wr.wb.
RS


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke