Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Peristiwa ini hendaknya tidak dipandang sebagai sebuah peristiwa
yang berdiri sendiri. Ini hanyalah merupakan bagian kecil dari
rangkaian sebab-akibat yang sangat rumit. Kita semua telah membuat
kekeliruan dengan membiarkan hawa nafsu kita berkuasa selama ini.
Ada benarnya sinyalemen Sri Bintang Pamungkas bahwa kerusuhan ini
dipicu oleh penempatan tokoh ICMI untuk mengepalai wilayah yang
mayoritas beragama Nasrani. Namun ini hanyalah pemicu semata-mata.
Banyak kebobrokan lain sebelumnya yang telah kita perbuat dan
menjadikan negara ini seperti neraka.

Ilmu tasawuf mengajar kita agar mencari kesalahan di dalam diri kita
sendiri, bukan di pihak lain. Karena ini saya mengajak rekan-rekan
untuk mengoreksi diri kita masing-masing, mengoreksi bentuk/corak
Islam yang kita terapkan, mengoreksi sikap dan perilaku kita
tergadap kelompok non-islam, mengoreksi tindakan bangsa kita dll.
Sangatlah berharga bila kita menemukan kekeliruan-kekeliruan itu,
agar kita tidak mengulanginya di masa mendatang.

Mari kita meningkatkan keimanan dan taqwa kita masing-masing sambil
berdoa agar bencana ini berakhir, karena daya akal manusia
semata-mata tidaklah mampu mengentaskan kita dari neraka yang tengah
membara di seluruh bagian negeri ini. Boleh jadi sekarang ini
'tangan-tangan Allah' tengah bekerja tanpa kita sadari; boleh jadi
kita masih akan mengalami neraka yang lebih panas sebelum terjadi
anti-klimaks yang menyejukkan. Wallahua'lam bishshawab.

Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
RS


Ali Abidin wrote:

> Saya jengkel-sedih campur aduk membaca berita ini. Apalagi jika membaca
> komentar orang-orang nasrani ambon mengenai peristiwa ambon ......
> apalagi ditambah membaca laporan TPF Partai Keadilan di Ambon... apalagi
> membaca pemutarbalikan fakta yang dilakukan media Indonesia ataupun
> media asing.........apalagi melihat di TV betapa ribuan orang berdesakan
> di kapal menjadi pengungsi terusir dari Ambon hanya karena mereka orang
> islam.
> 
> Barangkali sebenarnya umat islam tidak merasa 1 tubuh lagi melihat
> saudaranya ditindas sedemikian rupa. Barangkali selama bukan anak/ istri
> / famili yang diperlakukan sedemikian maka kita tidak mampu merasakan
> apa-apa. Barangkali memang umat islam sudah tidak lagi mempunyai ghirah.
> Barangkali kita semua memang demikian?
> 
> Saya jadi teringat sekilas hadist yang harus saya hapal ketika SD dulu:
> 
> "Bukan ummatku kecuali hingga seorang mencintai saudara muslim
> sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri". Hadist#?
> 
> "Umat islam bagaikan satu tubuh, bila satu anggotanya sakit maka anggota
> badan lainnya akan meradang panas dan berjaga semalaman". Hadist#?
> 
> "Tidak beriman seseorang sehingga dia mengharapkan saudaranya muslim
> sesuai apa yang diharapkan untuk dirinya sendiri".
> Bukhari, Hadist #12, dari Anas
> 
> Saya tiba-tiba berpikir bila saat ini tiba-tiba Rasulullah Muhammad SAAW
> menjenguk kita, Apa iya kita masih mampu mengaku umat Muhammad SAAW?
> Apakah saya tidak malu sekali atas apa yang kita lakukan (atau karena
> tidak melakukan apa-apa) atas kejadian yang menimpa saudara kita muslim
> di maluku selatan? Apakah Rasulullah SAAW akan bangga atas apa yang kita
> lakukan ataukah Rasulullah SAAW justru akan menangis menyaksikan
> perilaku kita, ketidak pedulian kita?
>

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke