R. Sunarman wrote:
> 
> Assalamu'alaikum wr wb.
> 
> Maaf, dengan terpaksa saya tidak dapat memenuhi harapan anda untuk
> memberi "kesimpulan" dari setiap tema diskusi kita. Karena ini milis
> tasawuf, maka kesimpulan-kesimpulan harus diambil menurut kaidah
> tasawuf pula. Untuk memberi gambaran bagaimana kaidah tasawuf dalam
> mengambil kesimpulan itu, saya berikan ilustrasi sbb:
> 
> Komputer itu mempunyai CPU sebagai pengolah data dan pengambil
> keputusan, dan mempunyai alat-alat input seperti keyboard, mouse,
> mic, scanner dll. Manusia pun seperti itu. Otak kita ibarat CPU;
> sedangkan panca indera merupakan alat-alat input yang diketahui umum.
> Alat input lain pada manusia disebut indera keenam, hati, kalbu,
> nurani atau sebutan-sebutan lainnya. Output dari hasil kerja otak
> (pikiran) adalah sikap, perkataan dan perbuatan.
> 
> Kita semua tahu bahwa masing-masing dari panca indera mempunyai fungsi
> tersendiri yang tidak dapat dipertukarkan. Karena itu, kita hanya
> boleh mempercayai input dari lidah kalau kita ingin mendapat informasi
> mengenai rasa makanan; kita hanya boleh mempercayai input dari mata
> untuk informasi mengenai wujud seekor gajah. Demikian seterusnya
> untuk segala permasalahan di alam fisik, kita gunakan salah satu dari
> panca indera kita yang paling sesuai.
> 
> Untuk masalah-masalah metafisik, sebagaimana umumnya topik-topik
> bahasan dalam agama, kita tidak boleh gegabah dalam mengambil
> keputusan atau kesimpulan jika inputnya masuk melalui panca indera
> (membaca, mendengar dll). Alat input yang paling tepat untuk dipakai
> di sini adalah hati. Apapun pandangan atau pendapat yang kita
> lontarkan di milis ini, semua hanya boleh dianggap sebagi input dari
> alat-alat yang tidak berkompeten. Harus ditunggu sampai hati kita
> masing-masing memberi input.
> 
> Apakah input dari hati itu dapat diandalkan? Ya, kalau hati itu
> dipelihara dan dikalibrasikan dengan semestinya. Mata kita pun, kalau
> sudah minus atau plus, perlu dikoreksi dengan kaca mata yang sesuai.
> Begitu pula hati kita perlu dikalibrasikan dengan metode tertentu,
> terutama dengan melenyapkan cengkeraman hawa nafsu. Metode
> mengkalibrasikan hati kita inilah yang merupakan titik sentral
> tasawuf. Dan metode ini bersifat ilmiah; artinya dapat diulang-ulang
> dengan hasil yang sama dengan hanya sedikit kasus pengecualian. Kalau
> hati kita sudah benar-benar bersih, apapun informasi yang datang
> darinya, kita memperoleh informasi yang jernih. Informasi semacam
> itulah "shirathal mustaqim" yang dimaksud di dalam setiap bacaan Al
> Fatihah. Dengan itu, kita dapat terlepas dari golongan mereka yang
> tersesat.
> 
> Dalam posting-posting yang lain baru-baru ini, saya telah menjelaskan
> bahwa ada kendala-kendala dalam menyampaikan informasi itu kepada
> pihak lain; dan karena itu orang yang ingin tahu harus datang sendiri
> kepada hatinya msing-masing. Masalah misi hidup dan hakikat alam
> semesta yang anda sebut itu, termasuk fakta yang tak dapat
> dikomunikasikan secara utuh menurut gambar aslinya. Kalau mau tahu
> Ka'bah dalam bentuk asli tanpa distorsi, anda harus datang sendiri.
> Perkataan tidak akan mampu menjelaskannya sebaik melihat sendiri.
> Potret dan video pun masih mengandung bias.
> 
> Sayang sekali, di milis ini masih banyak orang yang ngotot bahwa untuk
> melihat Ka'bah sebagaimana adanya itu tidak harus datang sediri, bahwa
> untuk tahu rasa rujak cingur tidak harus mencicipi sendiri. Sungguh,
> saya kadang-kadang merasa kewalahan melayani pendapat demikian.
> 
> Saya sangat memaklumi kehendak anda agar diskusi di sini tidak
> berakhir dengan 'ngambang'. Tetapi hendaklah kita belajar dari
> kasus-kasus diskusi yang ngambang itu, bahwa input dari panca indera
> mengenai masalah metafisik tidak dapat menghasilkan keputusan yang
> dapat diterima dengan damai oleh semua orang. Kalau saya memaksakan
> diri mengambil kesimpulan bagi anda, saya merasa bersalah karena
> memperkosa hak nurani anda. Agar dapat mencapai kesatuan keputusan,
> kita masing-masing perlu terlebih dahulu menyatukan alat input: hati
> yang disucikan. Insya Allah, di sana kita akan bertemu, karena hati
> orang mukmin merupakan singgasana Allah, sedangkan Allah itu Maha
> Esa; Dia tetap satu meskipun hadir di dalam hati tiap individu
> manusia pada saat yang bersamaan.
> 
> Botol anda kosong dan anda tidak ingin mengisinya dengan sembarangan?
> Itu bagus! Isilah dengan perkataan dari hati anda yang disucikan.
> 
> Wassalamu' alaikum wr. wb.
> RS
> 
> Reda Adiyasa wrote:
> 
> > Ibarat botol saya ini masih sebagai botol kosong, tapi saya tidak ingin
> > mengisinya dengan asal isi, salah satunya saya mengikuti milis ini, tapi
> > disini kami masih menemukan hambatan yaitu, kapan kita menggunakan kata
> > hati dan kapan kita menggunakan akal pikiran, karena saya baru mengikuti
> > milis ini dan pak Sunarman sebagai salah satu Mediator dalam milis ini
> > mungkin bisa memberikan kejelasan pada setiap membuka atau menutup
> > permasalahan. sampai saat ini masih ada masalah yang mengambang ( misi
> > hidup, hidup tanpa tujuan, system alam semesta) kenapa saya menilai
> > demikian mungkin karena ketidak tahuan saya tsb. Ada kata hati yang
> > harus diilmiahkan sementara ada akal pikiran yang ingin dikata hatikan
> > sedangkan menurut saya akal pikiran harus dipisahkan dengan kata hati
> > (tolong untuk dikoreksi pemikiran saya tsb).


Assalamu alaikum' wr. wb

Sebetulnya yang saya perlukan disini, bagaimana rasa/kata hati setiap 
indifidu, bukan pola pikir/rekayasa, sehingga kita bisa saling berbagi 
rasa. selebihnya saya tahu apa yang dirasakan pak Sunarman setiap 
membuka atau menutup permasalahan, (mohon dimaafkan ketidak tahuan saya 
ini).

wassalamu' alaikum wr.wb.


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke