Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
Bambang Edy wrote:
> Ada salah satu ikhwan
> saya yang menerangkan masalah raga (jasad), jiwa (nafs), dan ruh, namun
> saya masih bingung dengan penjelasan ikhwan saya tersebut, untuk itu
> saya mohon bantuannya agar "kebingungan" saya ini tidak menghantui
> setiap saat, maklumlah dengan kecerdasan yang terbatas dan ilmu yang
> belum sampai ketingkat itu jadilah saya bertambah bingung.
Bingung itu pertanda baik.
Bingung itu awal dari mengerti.
> Kalau ruh meninggalkan raga (jasad) berarti manusia itu akan mati, lha
> kalau ketika kita tidur lalu kita bermimpi pergi ke Mekah misalnya dan
> benar-benar menyaksikan kabah, melihat arafah, melihat kota mekah,
> madinah dll, yang menjadi pertanyaan adalah ... apakah yang berjalan-
> jalan itu ruhnya atau apanya, sebab saat terjaga dari mimpi kita bangun
> kembali dari tidur dan masih hidup, lha kalau ruh yang keluar dari raga
> saat kita sedang tidur maka artinya kita telah mati sesaat dan hidup
> lagi ketika terjaga, rasanya koq tidak mungkin, aduh bingung saya !!
Saya sendiri kurang ngerti kok, ruh itu seperti apa ujudnya dan di
mana tempatnya. Katanya ruh itu memang ngelayap ketika tidur tetapi
tidak jauh dari tubuh. Kalau terlalu jauh, fungi otak dan jantung
dapat berhenti dan orang disebut mati secara klinis, atau
sekurang-kurangnya mengalami NDE (near-death experience) atau koma.
Kalau orang bermimpi ketika tidur, berarti otaknya masih berfungsi,
dan ruh tidaklah jauh darinya. Itu kata orang, lho. Kalau pengertian
saya sendiri, ruh itu adalah Dzat Hidup, ia tidak mengenal dimensi
tempat. Di mana pun ia berada, kalau ia masih berkehendak memberi
hidup kepada tubuh itu, maka hiduplah tubuh itu.
Mimpi itu merupakan gambaran isyarat-isyarat yang diterima otak selama
tidur, yang sumbernya bermacam-macam, di antaranya:
1. Rangsangan dari pancaindera. Badan kedinginan menyebabkan mimpi
kehujanan, napas sesak menyebabkan mimpi disekap, kebelet kencing
menyebabkan mimpi berada di WC.
2. Rangsangan dari alam bawah sadar (subconscious mind). Pengalaman
hidup yang berkesan sejak bangun tidur yang terakhir tersimpan di
bawah-sadar; mimpi seolah-oleh merupakan pengulangan pengalaman itu
dalm bentuk yang berlainan. Nonton film horror sebelum tidur dapat
menyebabkan ketakutan dalam akhir mimpi. Selain itu, keinginan yang
belum tercapai, kadang-kadang muncul menjadi 'kenyataan' dalam mimpi.
3. Petunjuk dari Allah. Ini yang penting untuk kita kelola dalam
tasawuf. Seringkali petunjuk Allah (shirathal mustaqim) datang kepada
kita melalui mimpi. Petunjuk itu bisa berupa perintah/larangan atau
sekedar info mengenai apa yang teral/sedang/akan terjadi. Nabi Ibrahim
mendapat petunjuk untuk menyembelih puteranya - melalui mimpi.
Demikian pula, banyak kasus mimpi sebagai petunjuk dimunculkan di
dalam Al Qur'an. Nabi Yusuf dikisahkan sebagai ahli takwil mimpi.
Kalau rekan-rekan ada yang tahu bagaimana cara membedakan mimpi mana
yang merupakan petunjuk, dan mana mimpi yang nggak karuan -- harap
bagi-bagi di sini.
> Mohon bantuan penjelasan ya pak, semoga berkenan dan sebelumnya saya
> sampaikan terimakasih, semoga pahala/ kebaikan dan ridho Allah selalu
> tercurah kepada bapak dan kita semua amin.
Nggak usah ngerayu gitu, wong Gusti Allah sudah menggaji saya untuk
pekerjaan itu kok! :-)
Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)