Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Bambang Edy wrote:

> Oh yaa, yang saya pertanyakan mengenai ruh kaitannya dengan mimpi ....
> maksudnya adalah mimpi yang merupakan petunjuk dari Allah, ilusi saya
> tadinya juga seperti itu bahwa ruh yang tidak mengenal dimensi ruang &
> waktu dapat berkelana kemanapun sesuai kehendak Allah ?? Tapi kalau ruh
> berkelana meninggalkan jasad apakah tidak mengakibatkan mati ??  Atau
> barangkali ruh yang berkelana tetapi nyawa/ jiwa yang tetap tinggal
> dengan raga, tapi bingung lagi nih ... apa bedanya ruh dengan nyawa dan
> apa bedanya dengan jiwa ?? Apakah itu hanya istilah kata saja atau
> bagaimana yang sebenarnya ... akal saya tidak mampu menganalisa hal
> tersebut ... alias bingung !!, mohon dibantu.    

Hehehe... saya sendiri bingung kok ditanyai.
Pengertian 'ruh' dan 'jiwa' itu sulit sekali dibedakan, sehingga
seringkali dipersamakan. 

Istilah 'nyawa' tidak dipakai di dalam tasawuf; ini istilah pasar
dengan maksud serupa tapi tak sama karena 'nyawa' berkonotasi sbb:
bernyawa berarti hidup, dan tak bernyawa = mati. 
Ruh dan jiwa dipakai dalam konteks lain. Ruh tidak mengenal dimensi
tempat, sehingga kalau dikatakan ruhnya jalan-jalan, tidak berarti
ruh itu meninggalkan tubuh; jasadnya tetap hidup selama ruh itu
berkehendak memberi hidup. Sebaliknya, biarpun ruh itu hadir di dalam
suatu jasad, tetapi kalau ruh itu tidak berkehendak menghidupkan jasad
itu, maka jasad itu tetap mati. Tentu saja jasad yang sudah rusak pada
umumnya tidak bisa hidup. 

[Baca teks terjemahan The Meaning of the Four Books di bawah]

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
RS


------

SIFAT RUH 
(Dari tulisan Al-Ghazzali)

Bab ini mengenai tujuan Allah dalam bersabda: �Ketika Aku telah
menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku...�
(15:29)

Peniupan Ruh ke dalam Adam

�Menyempurnakan kejadian� terdiri dari perbuatan terhadap sasaran yang
berkaitan dengan ruh. Sasaran itu adalah tanah liat dalam kasus Adam,
dan biji dalam kasus anak-anak [bani Adam, bani-nya, anak cucunya,
keturunannya]. Oleh karena itu, manusia menjadi sasaran transformasi
[watak] dan pengaturan total. Tubuh diubah ke kondisi termurni yang
dapat menerima ruh, dan dengan demikian juga tujuan Penciptaan. Ini
mirip dengan sumbu dari lampu minyak, yang menjadi siap dinyalakan
setelah dibasahi dengan minyak.

Peniupan (nafh) merupakan proses menyalakan ruh di dalam wadahnya.
Maka, meniupkan merupakan sebab dari menyala. Tidak mungkin untuk
memahami peniupan Allah Yang Maha Perkasa. Diri (nafs) yang
dihasilkan, dijelaskan oleh peniupan (nafh), yaitu proses penyalaan
dalam sumbu dari biji. Selain itu, terdapat cara dan hasil akhir dari
peniupan. Cara, untuk tujuan menyalakan, merupakan transmisi cinta dan
kehendak ke dalam seseorang penerima embusan dari Dia yang bertiup.
Alasan menyalakan cahaya ruh merupakan sifat yang ada pada Pelaku dan
penderita yang menerima ruh. 

Sifat Pelaku adalah Kemurahan, yang menjadi sumber dari segala
keberadaan. Ia menghias semua makhluk dengan memasukkan realita ke
dalamnya. Sifat ini disebut Keperkasaan. Ini serupa dengan matahari,
yang jika tidak ada penghalang, sinarnya menerangi segala sesuatu yang
mampu menerima cahaya. Kemampuan menerima itu terdapat pada
benda-benda yang berwarna, dan keragaman; udara yang tidak berwarna
tidak dapat menerima.  Sifat Penerima adalah �moderat� dan �homogen�
yang dihasilkan oleh proses-proses persiapan. Allah Yang Maha Perkasa
bersabda: �Ketika Aku mempersiapkannya...�

Sifat penerimaan mirip dengan sifat cermin. Cermin, kecuali
dibersihkan dan dilap, tidak dapat menerima dan menghasilkan bayangan
meskipun sesuatu bentuk berada dekat di depannya. Tetapi jika cermin
itu bersih, bentuk benda itu muncul sebagai bayangan di dalamnya.

Begitu pula, jika keseragaman penerimaan terdapat di dalam biji, ruh
menjelma di dalam biji tanpa perubahan pada sisi Pencipta. Tetapi ruh
tidak diciptakan pada saat itu. Penciptaan sudah terlebih dahulu
dilakukan, sebelum lokus diubah dalam proses homogenisasi. 

Kelimpahan Kemurahan berarti bahwa Kemurahan Ilahi menyebabkan cahaya
keberadaan bersinar dalam tiap sifat yang sanggup menerima Kemurahan
itu. Ini disebut kelimpahan Derma. Tentu ini tidak dapat dipersamakan
dengan penuangan air dari cangkir ke tangan seseorang, karena di sini
air mencapai tangan setelah terpisah [dari sumbernya] meninggalkan
cangkir. Allah Yang Maha Perkasa tidak dapat dibandingkan demikian. 


Kebenaran Ruh Merupakan Rahasia

Kebenaran ruh merupakan rahasia. Adapun Nabi tidak diijinkan untuk
menerangkan ini kecuali kepada orang tertentu yang berhak. Kalau anda
berhak, anda akan dapat mendengarkannya.

Ruh bukan sesuatu yang memasuki tubuh seperti air memasuki cangkir.
Ruh juga bukan sesuatu yang memasuki kalbu seperti pewarna hitam yang
menyerap ke dalam benda hitam, atau masuknya pengetahuan kepada orang
berilmu. Sebaliknya, mereka yang tahu bersepakat bahwa ruh merupakan
sesuatu yang tidak dapat dibagi. Seandainya dapat dibagi, satu bagian
akan tahu, dan bagian lain tidak tahu, jadi keduanya akan tahu dan
tidak tahu, in ini mustahil. Ini merupakan bukti bahwa ruh itu tidak
dapat dibagi. 

Mengapa Nabi tidak diperkenankan untuk membeberkan rahasia dan
kebenaran tentang ruh? Karena ruh mempunyai sifat tertentu yang tidak
dapat dimengerti. Pada masa itu, masyarakat dibagi atas orang biasa
dan orang yang tahu. Orang-orang biasa [bahkan] tidak menyetujui apa
yang disampaikan Nabi dan diperkenankan oleh Allah. Bagaimana mereka
dapat mengerti keberadaan Ruh Manusia? Bahkan, beberapa orang biasa
menyangkal Allah dengan memisahkan-Nya dari kebendaan dan
pengejawantahan. Mereka pikir keberadaan Allah adalah tanda
kebendaan-Nya. Orang-orang yang mampu berpikir lebih jauh dari
orang-orang biasa segera menjauhkan Allah dari sifat kebendaan, tetapi
mereka menyifatkan arah kepada Allah, karena kemampuan mental mereka
tidak mampu memisahkan-Nya dari sifat kebendaan. Hanya dua mazhab yang
mampu memisahkan Allah dari sifat kebendaan dan arah. 

Dan mengapa rahasia tentang ruh disembunyikan? Karena mereka
memustahilkan segala sifat selain yang Ilahi [yaitu mereka bertindak
terlalu jauh ke arah Kerterpisahan atau Kekhususan (tanzih).] Saat
kamu menyebutkan sifat-sifat [manusia] ini, mereka akan menuduhmu
murtad dan berkata: �Ini pembandingan dengan Allah. Kamu [menerapkan
kepada dirimu sendiri] sifat yang hanya dimiliki Allah. Kamu [tidak
mengerti hakikat] sifat-sifat Allah.�

Tetapi sebagaimana kita dapat mengatakan bahwa manusia hidup dan
memiliki pengetahuan, kekuatan dan kemauan, mendengar, melihat,
berbicara, dan lain-lain, jadi dapat kita katakan bahwa Allah Yang
Maha Perkasa memiliki sifat-sifat tersebut. Kebebasan ruang dan arah
bukanlah sifat khusus Allah. Sebaliknya, sifat-sifat tersebut adalah
yang paling umum. Salah satu sifat khusus Allah adalah Wujud. Selain
Allah ada juga yang terwujud, tetapi hanya Dia yang terwujud oleh dan
melalui diri-Nya sendiri, tanpa membutuhkan yang lain. Meskipun semua
hal akan hancur lenyap dan keberadaannya merupakan pinjaman,
keberadaan Allah merupakan sifat dan tidak dipinjam dari manapun;
[sedangkan] keberadaan sesuatu selain Allah adalah pinjaman dari Allah
dan bukan sifatnya sendiri. Sifat Wujud hanya dimiliki Allah.

Apakah arti hubungan Ruh dengan Allah saat Dia bersabda: �Aku tiupkan
padanya Ruh-Ku�? Ruh itu bebas dari ruang dan arah. Ia mampu melihat
[mengenal] dan memahami semua ilmu pengetahuan. Hal ini tidak mungkin
dimiliki benda lain. Karena itu, dikhususkan-Nya untuk Ruh dalam
hubungannya dengan Allah. 


Alam Perintah dan Alam Permulaan

Kamu terdiri dari dua hal: tubuh dan ruh. Manusia adalah makhluk dalam
dua alam. Ia berhubungan dengan Alam Khalikah (Permulaan, khalq)
dengan tubuhnya, dan dengan Alam Kuasa atau Amar (Perintah, amr)
dengan ruhnya. Ini dijelaskan pada kalimat: �Katakanlah: ... Ruh ada
di bawah Amar (amr) Tuhan-ku� (17:85). Semua yang dapat diukur dan
dihitung terdapat pada Alam Permulaan. Tetapi ruh dan hati tidak dapat
diukur atau diungkapkan dalam satuan.

Ada pun Alam Kuasa dan Permulaan, artinya sbb: Telah diketahui bahwa
segala sesuatu yang terjadi pada Ruh adalah dekrit, keputusan, dan ini
termasuk penyatuan dengan tubuh dan sifat-sifatnya. Ini arti Alam
Permulaan.

Permulaan ini merupakan pra-takdir Allah, bukan pengejawantahan-Nya
dan bukan penciptaan-Nya. Dalam konteks ini, Permulaan berarti
penentuan, tahap penetapan sesuatu sebelum dijadikan di dunia. Sesuatu
yang tidak memiliki jumlah dan takdir disebut Perintah Ilahi;
merupakan kemiripan dan kaitan dengan Allah. Manusia dan ruh malaikat,
yang serupa dengan ini, disebut Alam Perintah.

Alam Perintah berisi sesuatu yang tidak memiliki jumlah, tetapi
mempunyai ukuran dan dekrit dengan menyatu dengan Alam Permulaan,
seperti benda eksternal yang berkaitan dengan indera, imajinasi, arah,
ruang, diam dan masuk.
Jika keadaan ruh itu demikian, bukankah dalam hal ini sesuatu yang
abadi dan bukan makhluk?

Kesalahan ini [hanya] dapat terjadi karena kebodohan dan tertipu.
Jika seseorang berkata: �Tidak ditakdirkan dan berkuantitas berarti
Ruh bukan makhluk, tidak dapat dibagi dan tidak mempunyai perluasan,�
itu benar. Tapi jika ia berkata: �Ruh bukan makhluk dalam arti ia
abadi dan bukan bersifat sementara,� itu salah. Beberapa orang percaya
bahwa Ruh tidak berawal, bahwa ia pre-eksisten secara abadi, tetapi
ini keliru. Yang lain keliru karena mengira bahwa Ruh merupakan tubuh,
tetapi tidak dapat dibagi dan berlanjut. 

Pemunculan Ruh di dalam tubuh tergantung kesiapan biji untuk
menerimanya, bagaikan bayangan suatu bentuk di depan cermin yang hanya
terlihat jika cermin itu bersih, meskipun benda itu ada sebelum cermin
dibersihkan. 
Nabi bersabda: �Allah menciptakan manusia dalam citra-Nya sendiri
(dalam bayangan Pengasih).� Apa artinya?

Bayangan, atau bentuk, dapat berkenaan dengan tubuh, dapat berupa
campuran, dan dapat merupakan unsur-unsur sederhana yang
berlapis-lapis. Dapat juga menyangkut arti, yaitu bersifat dapat
dipikir, bukan diindera. Arti-arti dapat pula [teratur] diatur,
[komposit/majemuk] campuran dan serasi.

Tetapi bagaimana dengan bayangan di atas? Ini bentuk rohani yang dapat
dipikir, menunjuk kepada kesamaan dan keterkaitan dengan Allah yang
sudah disebutkan. Ia juga kembali kepada Dzat, Sifat, dan Tindakan
[Afal] Allah, dan kepada realita unsur Ruh. 

Ruh bukan sifat, bukan tubuh; tidak makan tempat, tidak mempunyai
perluasan dan arah; tidak terhubung dengan tubuh dan dunia; tetapi
juga tidak terpisah dari mereka. Tubuh bukan tempat yang sejati dari
Ruh; melainkan hanya merupakan alat. Ruh tidak terhubung dengan tubuh,
dan [namun]  tidak jauh darinya. Ruh menggunakan tubuh untuk melayani
tujuannya. Ruh bukan di dalam tubuh dan dunia, tetapi juga bukan di
luarnya.

Semua itu merupakan sifat esensiil [Zat Ilahi] Allah. Sifat-sifat yang
penting adalah: Hidup, Pengetahuan, Perkasa, Berkehendak, Mendengar,
Melihat, dan Berbicara. Ruh juga  memiliki sifat-sifat itu, dan dalam
hal ini mempunyai kelekatan? dengan Allah.


Percampuran Ruh di dalam Tubuh

Tindakan Allah: dipandang dari sudut kehendak, ini merupakan awal dari
tindakan manusia sendiri. Efeknya mula-mula timbul di dalam kalbu.
Lalu menyebar melalui ruh Hewani (penggerak), dalam bentuk �uap� halus
di dalam rongga hati. Dari situ naik ke otak, kemudian disebarkan ke
seluruh organ tubuh, termasuk ujung jari. Jari terpengaruh dan
bergerak, menggerakkan pena, yang kemudian menggerakkan ujung pena.

Dari situ [maka dari itu] , apa yang akan ditulis tergambar dalam
imajinasi. Jika seseorang tidak membentuk sesuatu dalam imajinasinya
terlebih dahulu, tidak akan ada sesuatu yang tertulis di atas kertas.

Orang yang tahu bagaimana Allah menjadikan tumbuh-tumbuhan dan Hewani
di bumi, dan bagaimana Ia menggerakkan langit dan bintang dengan
Tindakan-Nya dan malaikat-malaikat (gaya-gaya), akan mengerti bahwa
kehendak manusia dalam alamnya sendiri adalah serupa dengan Kehendak
Allah terhadap seluruh alam semesta (makro-kosmos,  alam kabri), dan
akan mengerti ujaran: �Allah menciptakan manusia dalam bayangan-Nya
sendiri.� (Kejadian 1:27) Maka Allah menciptakan manusia itu menurut
gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia.


Perbedaan Penciptaan dan Permulaan

Nabi bersabda: �Allah menciptakan ruh-ruh jauh sebelum Ia menciptakan
tubuh.� �Dari Alam Khaliqah [Permulaan, khalq, AL-MUBDI = originator =
yang menjadikan segala sesuatu dari tiada, Pen], akulah Nabi yang
pertama. Dalam kenabian, aku yang terakhir. Aku menjadi Nabi ketika
Adam masih berbentuk antara air dan tanah liat.�

Apa arti perkataan itu?
Kebenarannya adalah: tiada sesuatu yang membuktikan bahwa Ruh itu
abadi. Pada perkataan pertama, yang dimaksud dengan ruh adalah ruh
malaikat, dan tubuh adalah tubuh dan keberadaan dunia, seperti langit,
bintang-bintang, air, udara dan bumi.
Dengan perkataan �Aku Nabi pertama� berarti terlebih dulu
ditakdirkan, bukan berarti Penciptaan atau menjadikannya makhluk,
karena Nabi Allah tidak diciptakan sebelum ia dilahirkan. Tetapi
tujuan dan hasilnya adalah mula-mula ditakdirkan, dan kemudian
dijadikan. Allah Yang Maha Perkasa mula-mula membentuk ihkwal
makhluk-makhluk ilahi dan benda-benda sementara [di Lauh Mahfuz].

Setelah anda memahami hal-hal di atas mengenai [ke]dua macam
keberadaan, anda juga akan tahu keberadaan Nabi sesudah Adam, yaitu
datang sebelumnya bukan sebagai makhluk yang tampak, tetapi sebagai
yang lebih dulu ditakdirkan.
Allah Yang Maha Perkasa mengetahui kebenaran mengenai hal ini.


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke