Eko Raharjo wrote:
> Saya membayangkan bila tidak jelas garis batasnya atau banyak orang
> Islam yang sengaja mengaburkan garis batas itu dengan mengatakan jangan
> bilang mereka kafir akan datang suatu masa dimana umat memilih pemimpin
> yang salah , yaitu itu tadi karena salah persepsi bahwa mereka tidak
> kafir.
>
> Padahal di Quran jelas quote janganlah jadikan orang kafir sebagai
> pemimpin kalian
> "Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi wali
> dengan meninggalkan orang-orang mu'min.... (QS. 3:28)"
Assalamu'alaikum wr wb.
Mas Eko berbicara mengenai kriteria kafir bagi pemimpin.
Orang Islam awam berkata, kalau tidak beragama Islam orang itu kafir.
Orang Nasrani awam berkata, selain Kristen, semuanya kafir.
Itu semua penilain subyektif dan tendensius.
Setahu saya, seseorang disebut kafir atau kufur karena cermin hatinya
tertutup sehingga tidak mampu memantulkan cahaya kebenaran [Allah] ke
dalam pikirannya. Penutupnya adalah berlapis-lapis tirai (hijab).
Umumnya tirai pertama yang dibuka ialah tirai yang bila dibuka akan
menimbulkan keyakinan "ada sesuatu yang disebut Allah" Kita umumnya
beranggapan bahwa kalau seseorang mengucapkan kalimat syahadat, ia
sudah boleh disebut tidak kafir lagi, padahal masih berlapis-lapis
tirai yang harus disingkapkan satu persatu. Tirai-tirai berikutnya
mengungkapkan kebenaran demi kebenaran yang diciptakan Allah di alam
semesta ini. Tirai terakhir yang harus disingkap ialah tirai
ketauhidan; jika tirai ini disingkap, seseorang akan mampu menyaksikan
keesaan Allah dengan mata hatinya dan ia 'menyatu' atau 'berimpit'
dengan sifat-sifat keutamaan Allah [lihat asma-ulhusna].
Atas dasar itu, maka tidak penting lagi agama apa yang dipeluknya.
Apakah ia seorang Yahudi, Nasrani atau Islam, kita mengukur kekafiran
seseorang dari jumlah hijab yang berhasil disingkapkan oleh
masing-masing individu. Kalau seseorang telah terbuka [sebagian]
hijab-hijabnya, maka ia akan bertindak dengan adil dan berbuat penuh
kasih sayang. Pemimpin-pemimpin yang demikianlah yang perlu kita cari,
karena ia pasti berpihak kepada orang-orang yang dipimpinnya
berdasarkan bimbingan cahaya dari Allah. Kasih Allah adalah kasih yang
tak berbatas; kasih itu melampaui batas-batas duniawi seperti
selera/kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, partai, bangsa, agama
dll. Kalau seseorang mampu mencurahkan kasih sayangnya seperti itu, ia
pantas kita angkat menjadi pemimpin.
Ayat "Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi
wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min," saya tafsirkan sebagai
anjuran agar kita memilih orang yang derajat kekafirannya paling kecil
di antara kita. Kata "mu'min" dan "kafir" pada ayat itu mengisyaratkan
dua tingkat kekafiran relatif yang berbeda. Jadi bisa saja seorang
Yahudi itu lebih mu'min daripada seorang Muslim; seorang Romo Mangun
lebih mu'min daripada seorang Suharto.
Maaf, ini hanya pendapat pribadi.
Wassalamu'alaikum wr wb
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)