Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Yap kali ini saya 100% setuju dengan pak Sunarman.... 
Hihihi... jarang sekali saya bisa 100% setuju dengan tulisan pak
Sunarman (barangkali karena hijab kekafiran saya lebih tebal daripada
pak Sunarman :-)

'Kafara' kan salah satu artinya adalah penutup = 'hijab' dalam
penjelasan pak Sunarman. Untuk mengatakan hal tsb pak Sunarman
menjelaskan dengan caranya sendiri, demikian juga pak Imam Suhadi, pak
Sigit, mbak Yani, pak Wargino dll menjelaskan dengan caranya
sendiri..... tetapi semuanya mengatakan hal yang sama "Orang kafir itu
ada pada semua agama....". Justru kita di milis ini sedang belajar
supaya tidak (terlalu) kafir, dan membuka sedikit demi sedikit hijab di
hati kita.

Meskipun orang kafir ada pada semua agama tetapi tidak berarti semua
agama sama. Yakin 100% bahwa orang-orang yang berangkat dari agama islam
untuk menghilangkan hijab (kafir) di hati memiliki jauh lebih besar
kemungkinan suksesnya daripada orang-orang yang berangkat dari agama
lain. Orang-orang yang berangkat dari agama lain memiliki beberapa
lapisan kekafiran yang insyaallah tidak dijumpai pada pengkut Muhammad
SAAW. Ayat-ayat yang mengecam kekafiran sebagian orang yahudi dan
nasrani mestinya dipahami sebagai Allah menunjukkan beberapa lapisan
kekafiran yang ada pada pemeluk agama lain. Ayat-ayat lain yang
mengatakan kekafiran tanpa menyebut landasan agamanya jauh lebih banyak
dijumpai dalam AlQuran. Semua ayat tersebut mengingatkan kita agar
menghilangkan kekafiran dari diri kita.

Wassalaamu 'alaikum wr. wb.

>----------
>From:  R. Sunarman[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>Sent:  Saturday, 10 April 1999 11:41
>To:    [EMAIL PROTECTED]
>Subject:       Re: [Tasawuf] Redefinisi Pengertian dalam Islam-2
>
>Eko Raharjo wrote:
>
>> Saya membayangkan bila tidak jelas garis batasnya atau banyak orang
>> Islam yang sengaja mengaburkan garis batas itu dengan mengatakan jangan
>> bilang mereka kafir akan datang suatu masa dimana umat memilih pemimpin
>> yang salah , yaitu itu tadi karena salah persepsi bahwa mereka tidak
>> kafir.
>> 
>> Padahal di Quran jelas quote janganlah jadikan orang kafir sebagai
>> pemimpin kalian
>> "Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi wali
>> dengan meninggalkan orang-orang mu'min.... (QS. 3:28)"
> 
>Assalamu'alaikum wr wb. 
>
>Mas Eko berbicara mengenai kriteria kafir bagi pemimpin. 
>
>Orang Islam awam berkata, kalau tidak beragama Islam orang itu kafir.
>Orang Nasrani awam berkata, selain Kristen, semuanya kafir.
>Itu semua penilain subyektif dan tendensius.
> 
>Setahu saya, seseorang disebut kafir atau kufur karena cermin hatinya
>tertutup sehingga tidak mampu memantulkan cahaya kebenaran [Allah] ke
>dalam pikirannya. Penutupnya adalah berlapis-lapis tirai (hijab).
>Umumnya tirai pertama yang dibuka ialah tirai yang bila dibuka akan
>menimbulkan keyakinan "ada sesuatu yang disebut Allah" Kita umumnya
>beranggapan bahwa kalau seseorang mengucapkan kalimat syahadat, ia
>sudah boleh disebut tidak kafir lagi, padahal masih berlapis-lapis
>tirai yang harus disingkapkan satu persatu. Tirai-tirai berikutnya
>mengungkapkan kebenaran demi kebenaran yang diciptakan Allah di alam
>semesta ini. Tirai terakhir yang harus disingkap ialah tirai
>ketauhidan; jika tirai ini disingkap, seseorang akan mampu menyaksikan
>keesaan Allah dengan mata hatinya dan ia 'menyatu' atau 'berimpit'
>dengan sifat-sifat keutamaan Allah [lihat asma-ulhusna].
>
>Atas dasar itu, maka tidak penting lagi agama apa yang dipeluknya.
>Apakah ia seorang Yahudi, Nasrani atau Islam, kita mengukur kekafiran
>seseorang dari jumlah hijab yang berhasil disingkapkan oleh
>masing-masing individu. Kalau seseorang telah terbuka [sebagian]
>hijab-hijabnya, maka ia akan bertindak dengan adil dan berbuat penuh
>kasih sayang. Pemimpin-pemimpin yang demikianlah yang perlu kita cari,
>karena ia pasti berpihak kepada orang-orang yang dipimpinnya
>berdasarkan bimbingan cahaya dari Allah. Kasih Allah adalah kasih yang
>tak berbatas; kasih itu melampaui batas-batas duniawi seperti
>selera/kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, partai, bangsa, agama
>dll. Kalau seseorang mampu mencurahkan kasih sayangnya seperti itu, ia
>pantas kita angkat menjadi pemimpin.
>
>Ayat "Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi
>wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min," saya tafsirkan sebagai
>anjuran agar kita memilih orang yang derajat kekafirannya paling kecil
>di antara kita. Kata "mu'min" dan "kafir" pada ayat itu mengisyaratkan
>dua tingkat kekafiran relatif yang berbeda. Jadi bisa saja seorang
>Yahudi itu lebih mu'min daripada seorang Muslim; seorang Romo Mangun
>lebih mu'min daripada seorang Suharto.
>
>Maaf, ini hanya pendapat pribadi.
>
>Wassalamu'alaikum wr wb
>RS
>
>
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>
>

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke