Assalamu'alaikum wr wb
Saudara seiman topik ini sebenarnya sangat menarik kalau kita bahas
terus menerus bagaimana seharusnya pemimpin itu baik secara personal
ataupun kapasitasnya sebagai pemimpin negara. Atau barangkali bisa
ditarik lebih jauh bagaimana seharusnya system pemerintahan dijalankan
untuk dapat mengubah bumi menjadi 'Sorga.
Kalifah sejati seperti yang disebut Pak Sunarman yang dapat mengubah
bumi ini menjadi 'sorga' rasanya hanya impian bila system pemerintahan
yang digunakan sangat tidak mendukungnya.
Contoh walaupun dipimpin oleh seorang kalifah yang katakan mumpuni tapi
bila perekonomian yang digunakan masih membuat rakyat kecil sengsara
karena harus terlilit angsuran bunga bank yang tinggi guna pengembangan
usahanya rasanya kata 'Sorga' masih impian.
Atau system pendidikan dan ketenaga kerjaan yang menjauhkan rakyat dari
kehidupan beragama rasanya hal tersebut juga cuma mimpi. Ngomong-ngomong
soal jam kerja saya punya sahabat dari Pakistan yang mengatakan selama
bulan puasa mereka bekerja dari jam 7 pagi hingga jam 2/3 siang
,sehingga saat ashar dan magrib tentunya mereka telah berada
dirumah/dimasjid untuk beribadah. Bandingkan dengan kita yang jam 9
malam kadang masih dikantor.
Apakah kita kita yakin dengan system yang kita jalani sekarang tidak
membuat masyarakat semakin jauh dari agamanya. Dan bila semakin jauh
dari agama walaupun punya pemimpin kalifah yang mumpuni dalam segala hal
masih bisa merasakan 'sorga' yang kita bicarakan. Kalau menurut saya
sih rasanya sulit sekali.
Dengan system pemerintahan dan pendidikan seperti yang sekarang ini
bagaimana bisa menghasilkan pemimpin yang bisa mengubah bumi menjadi
'sorga' ???
Wassalamu'alaikum wr wb
ERa
>----------
>From: R. Sunarman[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>Sent: Thursday, 15 April 1999 11:44
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: [Tasawuf] Renungan akan Kedaulatan ???
>
>Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
>
>Dari cermin saya yang masih buram, tampak gambaran seperti berikut.
>Allah menghendaki pemimpin yang dalam hatinya terdapat keadilan,
>kearifan dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat yang dipimpinnya.
>Tidak penting apakah ia dipilih secara demokratis melalui pemilu atau
>sistem pemilihan lainnya, raja yang menduduki takhta secara
>turun-temurun, orang yang muncul begitu saja di tengah kekacauan, atau
>orang yang merebut kekuasaan melalui kekerasan -- selama setiap saat
>ia memikirkan keadilan dan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya,
>selama dalam mimpinya ia merindukan bimbingan Allah untuk mengatasi
>permasalahan di negerinya -- saya yakin, dialah khalifah sejati di
>bumi ini; ia akan mampu mengubah bumi ini menjadi 'sorga'.
>Di sinilah rakyat [dan begitu pula, Allah] 'berdaulat'.
>
>Sebaliknya, biarpun seorang pemimpin yang sehari-harinya tampak tekun
>beribadah dan berkelakuan baik, dari mulutnya keluar perkataan-
>perkataan yang menyejukkan, dan ia dipilih secara demokratis --
>tetapi setelah ia dipilih menjadi pemimpin ternyata selalu lebih
>mengutamakan kepentingan dirinya, kroninya, atau kelompoknya, maka
>yang terjadi adalah kebalikan daripada kasus yang saya sebut di atas.
>
>Karena cermin pribadi saya memantulkan bayangan demikian, maka tentu
>sikap saya terpengaruh olehnya. Saya tidak peduli dengan sistem,
>asalkan pada akhirnya kita dikaruniai pemimpin yang baik. Pemilu, ya
>pemilu karena saya merasa tak berkompeten untuk memutuskannya, tetapi
>saya kan tiap hari berhubungan dengan Allah yang saya yakini sebagai
>Penguasa Tertinggi. Jadi saya manfaatkan saja hubungan itu untuk
>memohon, kiranya negeri ini segera dikaruniai pemimpin yang mampu
>mendatangkan 'sorga' bagi rakyat. Terserah bagaimana Allah mengatur
>bagaimana prosesnya, saya hanya mohon hasil akhirnya saja.
>
>Saya tidak patriotik, ya? Bisanya cuma berdoa doang!
>
>Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
>RS
>
>
>arief muLya wrote:
>>
>> Assalaamu 'alaykum wR wB,
>>
>> maafkan rekan Saliks ysh,
>> setelah capai memikirkan mengenai hakikat penciptaan, sekarang renungan
>> saya beralih ke sesuatu hal lain yang dipicu oleh posting2 bidah ikut
>> pemilu.
>>
>> Sebenarnya telah lama saya memikirkan hal ini, yang inti pemikiran
>> saya itu, begini :
>> Demokrasi itu kan menempatkan kedaulatan Rakyat diatas segala-galanya,
>> bisa kita sepakat akan hal ini ? Ini saya ambil dari arti Demokrasi itu
>> sendiri. Nah kalau begitu, bagaimana mungkin, kita menyandingkan
>> kedaulatan Allah dengan kedaulatan Rakyat ??? bukankah Allah Maha
>> Berdaulat ? Dan dalam kekuasaan-Nyalah segala apa yang ada di langit dan
>> di bumi ???
>>
>> Some would say : yup that's right, tetapi disini ini sistemnya memang
>> dibuat seperti itu untuk menuju ke kedaulatan Allah.
>> Me : ??? Demokrasi berketuhanan ??? bagaimana ini ??? apa kurang ajaran
>> Al-Qur'an ? apa nggak cukup kitab hadits dan sirah nabi ??? apa nggak
>> ada ulama yang bisa berijtihad lagi dalam memutuskan sesuatu, sehingga
>> perlu 'Rakyat' sebagai pelegitimasi keputusannya ???
>>
>> Some would say : iya tapi kan, sekarang kan beda, banyak persoalan baru.
>>
>> Me : bedanya apa ? teknologi ? itu kan cuma perubahan kecanggihan martil
>> batu jadi robot yang bisa ngetok paku. Yang beda sebetulnya kan sikap
>> kita dalam mengahadapi sesuatu. Kita menjadi cenderung begitu materialis
>> (dibuktikan dengan ditemukan dan di'dewa'kannya sesuatu yang disebut
>> 'Uang'), sehingga melupakan nilai-nilai yg sesungguhnya. Terus contoh
>> lain, coba dulu, 10 th lalu aja, make rok mini pasti udah dianggap 'wow'
>> silau, tapi sekarang ??? kalo belum berbikini, belon ngetrend.
>>
>> Menurut saya disinilah hebatnya propaganda demokrasi dibbandingkan
>> paham-paham lain seperti komunisme, sosialisme, etc,dsb. Sifat demokrasi
>> yang begitu tersembunyi keasliannya. Emaskah ia ? ataukah hanya besi
>> berkarat berbungkus emas ???
>>
>> Setahu saya, yang bersesuaian dengan Islam itu hanya, musyawarah u/
>> mufakat, (misalnya untuk ijtihad, ijma' dll), tetapi demokrasi ??? saya
>> kira itu suatu hal yang berbeda.
>>
>> Tapi ya, monggo dech, kalo memang ada yang berpendapat itu kan udah
>> keputusan ulama2, berarti udah bener dong. Saya tidak ingin memaksakan
>> pendapat kok. Hanya ingin mengutarakan apa yang dipantulkan 'cermin'
>> saya dari 'Cahaya' yang datang. Entah sumber cahayanya salah/ benar,
>> entah cerminnya bagus/jelek. Just that,
>>
>> Wallahu 'alam.
>> Wassalaamu 'alaykum wR wB,
>>
>> arief muLya
>> ------------
>> "There's always a light in the heart of ones who Love"
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)