Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Mungkin kalau kita melihat kepada sejarah keNabian Rasulullah saw, kita
akan menemukan jawaban dari pertanyaan Pak Narman, apakah sistem atau
pemimpin yang baik yang harus lebih dulu ada.
Di masa Nabi sistem pemerintahan adalah sistem jahiliyah. Kurang lebih
sama dengan sistem saat ini: penindasan, korupsi, manipulasi, kekerasan,
dan tidak kejahatan lainnya merajalela hingga ke seluruh pelosok negeri.
Hanya mungkin sekarang dilakukan dengan lebih modern, namun esensinya
tetap sama.
Lalu Allah mengangkat seorang Nabi yang sejak dari awal sudah dikenal
oleh masyarakatnya sebagai Yang Dipercaya atau Al Amin. Seorang yang
mulia, berasal dari keturunan yang mulia, dan memiliki sifat-sifat
kemuliaan yang dipercaya oleh semua orang.
Selama kurang lebih 13 tahun Rasulullah menyerukan mereka kepada Islam.
Selama itu pula penindasan demi penindasan dihadapi dengan tabah oleh
para sahabat Al Awalun. Selama 13 tahun itu Allah melalui RasulNya
menanamkan keimanan agar mengakar kuat di hati para sahabat setia
beliau.
Lalu 10 tahun berikutnya, dasar-dasar pemerintahan mulai diterapkan.
Dimulai dengan piagam Madinah yang terkenal, mengakui hak asasi setiap
penduduk Madinah yang beragam. Satu hal yang tidak lazim di masa itu
mengingat banyaknya kelompok dan kepentingan di sana.
10 tahun yang tidak mudah. Pengkhianatan demi pengkhianatan, serangan
demi serangan, datang silih berganti. Perang Badar, perang Uhud, perang
Khandaq, perang Khaibar, semuanya silih berganti hingga 'the Conquest of
Mecca' di tahun ke 9 hijriyah. Di mana Mekah akhirnya tunduk tanpa
syarat dan tanpa pertumpahan darah yang berarti kepada Nabi.
Pemimpin yang seperti itu tidak akan kita dapatkan lagi di muka bumi
ini. Tapi kita bisa memohon kepada Allah, seperti yang diusulkan oleh
Pak Narman, agar bangsa kita dikaruniai seorang Pemimpin yang
'mendekati' kesempurnaan Rasulullah saw.
Kembali kepada pertanyaan apakah pemimpin atau sistem yang harus ada
lebih dulu?
Ingat kejadian di gua Hira? Pengangkatan Rasulullah sebagai Nabi
dibarengi dengan turunnya ayat suci Al Quran. Artinya, kedua-duanya
harus ada bersamaan. Calon pemimpin-pemimpin kita haruslah seorang yang
tahu harus dibawa ke mana negara ini. Mereka haruslah orang-orang yang
tidak mementingkan diri dan kelompoknya sendiri-sendiri.
Apabila sistem harus lebih dulu ada, siapa yang membuat? MPR? Dapatkah
MPR yang korup menghasilkan sistem yang bersih? Bisakah air got/comberan
membersihkan pakaian atau digunakan untuk mencuci baju? Dapatkah pohon
yang buruk (QS. 14:26), yang telah tercabut dengan akar-akarnya,
kemudian menghasilkan buah yang baik?
Bagaimana dengan pemimpin yang baik lebih dahulu?
Ingat, selama 13 tahun lamanya Rasulullah dan pengikut-pengikut beliau
ditindas di luar batas-batas peri kemanusiaan. Sekarang ini sudah ada
pengamat HAM baik di Indonesia maupun di luar negeri. Dulu di zaman Nabi
belum ada. Jadi separah-parahnya penindasan, tidak akan ditindas seberat
Rasulullah dahulu ditindas. Siapa Pemimpin yang berani berkorban seperti
Nabi dan para sahabat beliau, demi sebuah cita-cita yang mementingkan
hajat hidup rakyat banyak? Karena seorang Pemimpin yang sanggup merubah
suatu sistem, umumnya melalui cobaan yang tidak ringan.
Semoga Allah menganugerahi kita dengan pemimpin-pemimpin yang tidak
mementingkan dirinya dan kelompoknya sendiri, tidak haus kekuasaan,
adil, bijaksana, takut kepada Allah dan tabah dalam menghadapi segala
macam cobaan.
Amin
Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Rizki Herucakra
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)