Assalamu'alaikum wr wb,
Ngomong-ngomong tentang sorga atau kondisi ideal, saya cuplikkan kisah
konyol namun bermakna. Dulu, kisah ini pernah saya munculkan di milis
ini, tetapi saya dihujat karena dianggap tidak ada kaitannya dengan
'mendekatkkan diri kepada Tuhan'. Semoga kali ini kita jukup jeli
untuk belajar dari kisah itu, di mana sorga itu berada.
----
Nasruddin tinggal di sebuah kampung yang padat. Penduduk kampung itu
anaknya banyak karena tidak mengenal KB dan rumah mereka sempit
sehingga mereka hidup berdesak-desakan.
Pada suatu hari seorang tetangga datang kepada Nasruddin dan berkata,
"Nasruddin, kau ini orang pandai. Saya mau minta tolong. Seperti kau
tahu, rumah kami sangat kecil, sedangkan saya hidup bersama istri,
enam orang anak, bapak saya yang tua, dan ibu isteri saya. tentu saja
rumah itu penuh sesak. Kami smaa sekali tak pernah mengenyam
kebahagiaan. Hidup kami ruwet setiap hari."
Nasruddin bertanya, "Kamu punya kambing?"
"Tidak," jawab orang itu.
"Kalau begitu, beli seekor kambing dan pelihara kambing itu dalam
rumahmu," kata Nasruddin.
"Lho, kamar kami sudah sesak, kalau ada seekor kambing lagi, tentu
tambah sesak."
Nasruddin berkata sambil melotot, "Kamu mau ditolong atau tidak?"
"Tentu saja, mau."
"Kalau begitu, beli seekor kambing."
Seminggu kemudian orang itu datang kembali. Nasruddin langsung
bertanya, "Kamu sudah beli kambing?"
"Sudah," orang itu menjawab.
"Kamu sudah bahagia sekarang?"
"Jalas tidak. Rumah kami tambah sesak, dan kami tambah sengsara"
"Kalau begitu, beli enam ekor ayam dan pelihara dalam rumahmu juga."
Seminggu kemudian, orang itu datang untuk ketiga kalinya, dan berkata
"Nasruddin, keadaan rumah kami makin kacau-balau. Ada anak-anak, ada
orang tua, ada kambing, ada ayam pula."
Namun Nasruddin berkata lagi, "Belilah seekor biri-biri, dan pelihara
di dalam rumahmu."
Minggu berikutnya orang itu berkata, "Nasruddin, rumah kami
benar-benar menjadi neraka. Kami sudah tidak tahan lagi."
"Bagus, kalau begitu. Pulanglah dan jual biri-biri itu."
Minggu berukutnya tetangga itu datang kembali dengan wajah yang agak
cerah. "Rumah kami agak lega sedikit. Barangkali karena biri-biri itu
sudah tidak ada lagi."
"Bagus. Sekarang pulanglah dan jual ayam-ayam itu"
Seminggu kemudian orang itu muncul lagi. Sinar kebahagiaan terpancar
dari wajahnya. "Sekarang ayam-ayam itu sudah tidak ada lagi. Jadi
suasana di rumah kami lebih lega."
Nasruddin tersenyum dan berkata, "Sekarang, jual pula kambingmu."
Ketika orang itu nongol lagi pada minggu berikutnya, ia berkata,
"Rumah kami bagaikan sorga, sekarang. Kami semua berbahagia hidup di
dalamnya. Kau telah membantu kami mengubah rumah kami yang sesak
menjadi rumah yang membahagiakan. Terima kasih, Nasruddin."
----
Di negeri ini, adakah Nasruddin-Nasruddin lain yang sedang mengubah
negeri kita menjadi sorga?
Wassalamu'alaikum wr wb.
RS
Wargino wrote:
>
>
> Saya kok malah berkesimpulan bahwa kondisi yang ideal seperti yang
> rekan-rekan
> harapkan itu ternyata hanyalah angan-angan kosong belaka.
> Kita baru saja berbicara masalah baik-buruk, ada dan tidak ada namun tetap
> saja
> kita mempunyai pandangan dan pemahaman yang berbeda.
> Kenapa saya katakan angan-angan kosong? Sebagai buktinya dalam lingkup
> yang
> kecil ini (di milis ini saja) dan semua beragama islam tetapi yang namanya
> berbeda
> pendapat tidak pernah bisa dihindari. Para ulama pun dalam fiqih juga
> berbeda
> pendapat, walaupun itu tidak berarti salah. Apalagi dalam kelompok yang
> lebih besar
> dalam wadah negara yang berpenduduk 200 juta ini, tentu yang namanya
> perbedaan
> pendapat, kepentingan, kebutuhan, ambisi, tujuan, kepercayaan, budaya, dsb
> tidak
> mungkin dapat dihindari.
> Belum lagi campur tangan negara lain dari efek globalisasi yang mau tidak
> mau, boleh
> atau tidak boleh kita harus tetap terpengaruh. Kita tidak bisa berdiri
> sendirian seperti
> bernegara di planet asing yang jauh dari campur tangan manusia lain.
> Putus asa? pesimistis?.... tidak!
> Usaha perbaikan adalah wajib bagi setiap pribadi, namun TIDAK wajib
> mecapai puncak
> ideal seperti yang kita cita-citakan. Allah tidak selalu menilai hasil
> akhir dari setiap usaha
> hambanya, melainkan menilai PROSES usaha itu dilakukan.
> Seorang guru dibayar setiap bulannya bukan karena mereka menjadikan anak
> muridnya
> semua jadi menteri, atau semua jadi presiden(siapa rakyatnya ya....) atau
> semua jadi
> pegawai, melainkan proses dan usaha mengajar itu yang dihargai.
> Jangan lupa bahwa negara kita ini bukan hanya diatur oleh seorang presiden
> atau
> seorang khalifah tetapi juga diatur oelh yang Maha Mengatur:
> *"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi
> dalam enam
> masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy (singgasana) untuk mengatur
> segala urusan.
> Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada
> keizinan-Nya. Yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia.
> Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran. (QS. 10:3)"
> *"...Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda
> (kebesaran-Nya),
> supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu. (QS. 13:2)
> Saya percaya tidak satupun diantara kita berani menyalahkan atau
> mengkritik Pemimpim
> yang satu ini.
> APA YANG KITA LAKUKAN?
> Negara ini jadi baik bukan semata-mata pekerjaan pemimpin atau khalifah
> saja melainkan
> melibatkan segala aspek system negara ini. Yang mudah dan pasti bisa kita
> lakukan adalah
> kita memperbaiki mulai dari diri kita sendiri, keluarga, tetangga menurut
> kapasitas dan peran
> kita masing-masing. Kalau konsep ini bisa berjalan insya Allah kondisinya
> akan BERPROSES
> mengarah kepada kondisi yang lebih baik.
> BAGAIMANA MERASAKAN SORGA DI DUNIA INI?
> Menurut pendapat saya, cara pandang kita terhadap kondisi itu lebih
> penting dari pada
> memikirkan kondisi itu sendiri.
> Untuk kita pikirkan.
> --------------------
> Orang bilang ayam goreng itu enak, tinggal dirumah besar dan mewah itu
> enak, gaji besar
> itu enak, istri cantik itu enak... dsb.
> Tapi di saat kita sakit, yang enak-enak tadi kok jadi tidak enak. Kalau
> enak itu berada
> pada makanan yang enak, rumah yang mewah, uang yang banyak serta istri
> yang cantik...
> mestinya bagaimanapun kondisi kita akan tetap bisa merasakan enak.
> Pertanyaanya adalah:
> Apakah enak itu?
> Dimanakah enak itu?
> Di dalam diri kita atau di luar diri kita?
> Kalau kita mampu memahami dalam lingkup yang sempit ini, insya Allah akan
> lebih mudah
> memahami dalam lingkup yang lebih besar yakni dunia di luar diri kita.
> Amin
> Kurang lebih mohon maaf,
> Wassalamu'alaikum wr wb,
> Wargino
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)