Assalamu'alaikum wr wb,
     Saya kok malah berkesimpulan bahwa kondisi yang ideal seperti yang
     rekan-rekan
     harapkan itu ternyata hanyalah angan-angan kosong belaka.
     Kita baru saja berbicara masalah baik-buruk, ada dan tidak ada namun tetap
     saja
     kita mempunyai pandangan dan pemahaman yang berbeda.
     Kenapa saya katakan angan-angan kosong? Sebagai buktinya dalam lingkup
     yang
     kecil ini (di milis ini saja) dan semua beragama islam tetapi yang namanya
     berbeda
     pendapat tidak pernah bisa dihindari. Para ulama pun dalam fiqih juga
     berbeda
     pendapat, walaupun itu tidak berarti salah. Apalagi dalam kelompok yang
     lebih besar
     dalam wadah negara yang berpenduduk 200 juta ini, tentu yang namanya
     perbedaan
     pendapat, kepentingan, kebutuhan, ambisi, tujuan, kepercayaan, budaya, dsb
     tidak
     mungkin dapat dihindari.
     Belum lagi campur tangan negara lain dari efek globalisasi yang mau tidak
     mau, boleh
     atau tidak boleh kita harus tetap terpengaruh. Kita tidak bisa berdiri
     sendirian seperti
     bernegara di planet asing yang jauh dari campur tangan manusia lain.
     Putus asa? pesimistis?.... tidak!
     Usaha perbaikan adalah wajib bagi setiap pribadi, namun TIDAK wajib
     mecapai puncak
     ideal seperti yang kita cita-citakan. Allah tidak selalu menilai hasil
     akhir dari setiap usaha
     hambanya, melainkan menilai  PROSES usaha itu dilakukan.
     Seorang guru dibayar setiap bulannya bukan karena mereka menjadikan anak
     muridnya
     semua jadi menteri, atau semua jadi presiden(siapa rakyatnya ya....) atau
     semua jadi
     pegawai, melainkan proses dan usaha mengajar itu yang dihargai.
     Jangan lupa bahwa negara kita ini bukan hanya diatur oleh seorang presiden
     atau
     seorang khalifah tetapi juga diatur oelh yang Maha Mengatur:
     *"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi
     dalam enam
     masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy (singgasana) untuk mengatur
     segala urusan.
     Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada
     keizinan-Nya. Yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia.
     Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran. (QS. 10:3)"
     *"...Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda
     (kebesaran-Nya),
     supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu. (QS. 13:2)
     Saya percaya tidak satupun diantara kita berani menyalahkan atau
     mengkritik Pemimpim
     yang satu ini.
     APA YANG KITA LAKUKAN?
     Negara ini jadi baik bukan semata-mata pekerjaan pemimpin atau khalifah
     saja melainkan
     melibatkan segala aspek system negara ini. Yang mudah dan pasti bisa kita
     lakukan adalah
     kita memperbaiki mulai dari diri kita sendiri, keluarga, tetangga menurut
     kapasitas dan peran
     kita masing-masing. Kalau konsep ini bisa berjalan insya Allah kondisinya
     akan BERPROSES
     mengarah kepada kondisi yang lebih baik.
     BAGAIMANA MERASAKAN SORGA DI DUNIA INI?
     Menurut pendapat saya, cara pandang kita terhadap kondisi itu lebih
     penting dari pada
     memikirkan kondisi itu sendiri.
     Untuk kita pikirkan.
     --------------------
     Orang bilang ayam goreng itu enak, tinggal dirumah besar dan mewah itu
     enak, gaji besar
     itu enak, istri cantik itu enak... dsb.
     Tapi di saat kita sakit, yang enak-enak tadi kok jadi tidak enak. Kalau
     enak itu berada
     pada makanan yang enak, rumah yang mewah, uang yang banyak serta istri
     yang cantik...
     mestinya bagaimanapun kondisi kita akan tetap bisa merasakan enak.
     Pertanyaanya adalah:
         Apakah enak itu?
         Dimanakah enak itu?
         Di dalam diri kita atau di luar diri kita?
     Kalau kita mampu memahami dalam lingkup yang sempit ini, insya Allah akan
     lebih mudah
     memahami dalam lingkup yang lebih besar yakni dunia di luar diri kita.
     Amin
     Kurang lebih mohon maaf,
     Wassalamu'alaikum wr wb,
     Wargino

Eko Raharjo wrote:

> Assalamu'alaikum wr wb
>
> Saudara seiman topik ini sebenarnya sangat menarik kalau kita bahas
> terus menerus bagaimana seharusnya pemimpin itu baik secara personal
> ataupun kapasitasnya sebagai pemimpin negara. Atau barangkali bisa
> ditarik lebih jauh bagaimana seharusnya system pemerintahan dijalankan
> untuk dapat mengubah bumi menjadi 'Sorga.
>
> Kalifah sejati seperti yang disebut Pak Sunarman yang dapat mengubah
> bumi ini menjadi 'sorga' rasanya hanya impian bila system pemerintahan
> yang digunakan sangat tidak mendukungnya.
>
> Contoh walaupun dipimpin oleh seorang kalifah yang katakan mumpuni tapi
> bila perekonomian yang digunakan masih membuat rakyat kecil sengsara
> karena harus terlilit angsuran bunga bank yang tinggi guna pengembangan
> usahanya rasanya kata 'Sorga' masih impian.
>
> Atau system pendidikan dan ketenaga kerjaan yang menjauhkan rakyat dari
> kehidupan beragama rasanya hal tersebut juga cuma mimpi. Ngomong-ngomong
> soal jam kerja saya punya sahabat dari Pakistan yang mengatakan selama
> bulan puasa mereka bekerja dari jam 7 pagi hingga jam 2/3 siang
> ,sehingga saat ashar dan magrib tentunya mereka telah berada
> dirumah/dimasjid untuk beribadah. Bandingkan dengan kita yang jam 9
> malam kadang masih dikantor.
>
> Apakah kita kita yakin dengan system yang kita jalani sekarang tidak
> membuat masyarakat semakin jauh dari agamanya. Dan bila semakin jauh
> dari agama walaupun punya pemimpin kalifah yang mumpuni dalam segala hal
> masih bisa merasakan 'sorga' yang kita bicarakan.   Kalau menurut saya
> sih rasanya sulit sekali.
>
> Dengan system pemerintahan dan pendidikan seperti yang sekarang ini
> bagaimana bisa menghasilkan pemimpin yang bisa mengubah bumi menjadi
> 'sorga' ???
>
> Wassalamu'alaikum wr wb
>
> ERa
>
> >----------
> >From:  R. Sunarman[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> >Sent:  Thursday, 15 April 1999 11:44
> >To:    [EMAIL PROTECTED]
> >Subject:       Re: [Tasawuf] Renungan akan Kedaulatan ???
> >
> >Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
> >
> >Dari cermin saya yang masih buram, tampak gambaran seperti berikut.
> >Allah menghendaki pemimpin yang dalam hatinya terdapat keadilan,
> >kearifan dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat yang dipimpinnya.
> >Tidak penting apakah ia dipilih secara demokratis melalui pemilu atau
> >sistem pemilihan lainnya, raja yang menduduki takhta secara
> >turun-temurun, orang yang muncul begitu saja di tengah kekacauan, atau
> >orang yang merebut kekuasaan melalui kekerasan -- selama setiap saat
> >ia memikirkan keadilan dan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya,
> >selama dalam mimpinya ia merindukan bimbingan Allah untuk mengatasi
> >permasalahan di negerinya -- saya yakin, dialah khalifah sejati di
> >bumi ini; ia akan mampu mengubah bumi ini menjadi 'sorga'.
> >Di sinilah rakyat [dan begitu pula, Allah] 'berdaulat'.
> >
> >Sebaliknya, biarpun seorang pemimpin yang sehari-harinya tampak tekun
> >beribadah dan berkelakuan baik, dari mulutnya keluar perkataan-
> >perkataan yang menyejukkan, dan ia dipilih secara demokratis --
> >tetapi setelah ia dipilih menjadi pemimpin ternyata selalu lebih
> >mengutamakan kepentingan dirinya, kroninya, atau kelompoknya, maka
> >yang terjadi adalah kebalikan daripada kasus yang saya sebut di atas.
> >
> >Karena cermin pribadi saya memantulkan bayangan demikian, maka tentu
> >sikap saya terpengaruh olehnya. Saya tidak peduli dengan sistem,
> >asalkan pada akhirnya kita dikaruniai pemimpin yang baik. Pemilu, ya
> >pemilu karena saya merasa tak berkompeten untuk memutuskannya, tetapi
> >saya kan tiap hari berhubungan dengan Allah yang saya yakini sebagai
> >Penguasa Tertinggi. Jadi saya manfaatkan saja hubungan itu untuk
> >memohon, kiranya negeri ini segera dikaruniai pemimpin yang mampu
> >mendatangkan 'sorga' bagi rakyat. Terserah bagaimana Allah mengatur
> >bagaimana prosesnya, saya hanya mohon hasil akhirnya saja.
> >
> >Saya tidak patriotik, ya? Bisanya cuma berdoa doang!
> >
> >Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
> >RS
> >
> >
> >arief muLya wrote:
> >>
> >> Assalaamu 'alaykum wR wB,
> >>
> >> maafkan rekan Saliks ysh,
> >> setelah capai memikirkan mengenai hakikat penciptaan, sekarang renungan
> >> saya beralih ke sesuatu hal lain yang dipicu oleh posting2 bidah ikut
> >> pemilu.
> >>
> >> Sebenarnya telah lama saya memikirkan hal ini,  yang  inti pemikiran
> >> saya itu, begini :
> >> Demokrasi itu kan menempatkan kedaulatan Rakyat diatas segala-galanya,
> >> bisa kita sepakat akan hal ini ? Ini saya ambil dari arti Demokrasi itu
> >> sendiri. Nah kalau begitu, bagaimana mungkin, kita menyandingkan
> >> kedaulatan Allah dengan kedaulatan Rakyat ??? bukankah Allah Maha
> >> Berdaulat ? Dan dalam kekuasaan-Nyalah segala apa yang ada di langit dan
> >> di bumi ???
> >>
> >> Some would say : yup that's right, tetapi disini ini sistemnya memang
> >> dibuat seperti itu untuk menuju ke kedaulatan Allah.
> >> Me : ??? Demokrasi berketuhanan ??? bagaimana ini ??? apa kurang ajaran
> >> Al-Qur'an ? apa nggak cukup kitab hadits dan sirah nabi ??? apa nggak
> >> ada ulama yang bisa berijtihad lagi dalam memutuskan sesuatu, sehingga
> >> perlu 'Rakyat' sebagai pelegitimasi keputusannya ???
> >>
> >> Some would say : iya tapi kan, sekarang kan beda, banyak persoalan baru.
> >>
> >> Me : bedanya apa ? teknologi ? itu kan cuma perubahan kecanggihan martil
> >> batu jadi robot yang bisa ngetok paku. Yang beda sebetulnya kan sikap
> >> kita dalam mengahadapi sesuatu. Kita menjadi cenderung begitu materialis
> >> (dibuktikan dengan ditemukan dan di'dewa'kannya sesuatu yang disebut
> >> 'Uang'), sehingga melupakan nilai-nilai yg sesungguhnya. Terus contoh
> >> lain, coba dulu, 10 th lalu aja, make rok mini pasti udah dianggap 'wow'
> >> silau, tapi sekarang ??? kalo belum berbikini, belon ngetrend.
> >>
> >> Menurut saya disinilah hebatnya propaganda demokrasi dibbandingkan
> >> paham-paham lain seperti komunisme, sosialisme, etc,dsb. Sifat demokrasi
> >> yang begitu tersembunyi keasliannya. Emaskah ia ? ataukah hanya besi
> >> berkarat berbungkus emas ???
> >>
> >> Setahu saya, yang bersesuaian dengan Islam itu hanya, musyawarah u/
> >> mufakat, (misalnya untuk ijtihad, ijma' dll), tetapi demokrasi ??? saya
> >> kira itu suatu hal yang berbeda.
> >>
> >> Tapi ya, monggo dech, kalo memang ada yang berpendapat itu kan udah
> >> keputusan ulama2, berarti udah bener dong. Saya tidak  ingin memaksakan
> >> pendapat kok. Hanya ingin mengutarakan apa yang dipantulkan 'cermin'
> >> saya dari 'Cahaya' yang datang. Entah sumber cahayanya salah/ benar,
> >> entah cerminnya bagus/jelek. Just that,
> >>
> >> Wallahu 'alam.
> >> Wassalaamu 'alaykum wR wB,
> >>
> >> arief muLya
> >> ------------
> >> "There's always a light in the heart of ones who Love"



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke