At 12:42 AM 5/25/99 -0700, you wrote:
>Bismillah,
>
>Terima kasih atas pejelasannya, Akhie Harto Nading.
>Itulah yang saya selalu cari jawabannya selama ini.
>Sementara itu saya masih saja dikejar beberapa pertanyaan yang agak sulit
>dijelaskan dan diluar dari akal kita. Antara alam makhluk halus -- ruh
>penasaran -- ruh orang mati penasaran,
>syaithon, jin, malaikat, alam perkumpulan -- dimana para arwah dikumpulkan
>-- contohnya para awliya yang telah meninggal
>tetapi masih bisa menemui atau berdialog dengan seseorang melalui karomah.
Orang yang sudah meninggal jasadiyah, apabila ia meninggal (minimal) dalam
keadaan suci bersih (seperti ketika baru lahir), maka ia (Jiwanya) akan
lepas dari siksa kubur.
Karenanya ia (Jiwa-nya bukan ruh-nya) dapat berada dimanapun berada, tetapi
kita yang tidak beriman dengan hakiki tidak menyadarinya.
Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami
berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu "dia dapat
berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia", serupa dengan orang yang
keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar
dari padanya. (QS. 6:122)
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan
Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup,
tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. 2:154)
>Jin adalah makhluk kasat mata begitu juga syaithon ataupun malaikat,
>apakah mereka hidup berdampingan?
Berdampingan namun berbeda alam. Seperti juga manusia dan jin. Hidup
berdampingan namun berbeda alam.
>Dan ada pula yang ingin saya tanyakan disini,
>karena banyaknya pertentangan pemikiran mengenai dialog antara
>Allah dengan manusia ataupun saling berhadap-hadapannya tanpa tabir pemisah
>Allah dengan Manusia di dunia. Sebagian ada yang mengatakan 'bisa' dan yang
>lain 'tidak'.
Unsur dari manusia yang dapat berkomunikasi langsung dengan Allah adalah
Jiwa Muthmainnah.
Dimana pernah dilakukan seperti terdokumentasi dalam QS 7:172. Bukan jasad
yang berkomunikasi langsung.
Bahkan lebih jauh, kalau kita melihat hadits Qudsi Riwayat Ahmad:
"Tidaklah dapat merangkul Zat-Ku seluruh langit dan bumi, kecuali hati
(hati ruhaniyah) orang-orang mukmin".
Artinya, apabila seorang mukmin 'benar-benar' mukmin sejati, maka dalam
hati ruhaniyahnya adalah Allah SWT itu sendiri (realitas Allah yang disebut
Ruhul Qudus). Orang-orang nasrani salah mengerti tentang konsepsi Ruhul
Qudus ini sehingga timbullah konsepsi Trinitas.
Nah kalau ini terjadi, maka teringkaplah sebuah ungkapan hadits Qudsi yang
mengatakan:
"Aku adalah rahasia manusia, dan manusia adalah Rahasia-Ku"
Jadi sesungguhnya "benar" bila dimengerti maksud dari kata-kata : "manusia
saling berhadap-hadapannya tanpa tabir pemisah Allah".
Tetapi jadi salah kaloimat diatas, bila tidak dimengerti maksudnya.
+++++++
Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau
ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana. (QS. 2:32)
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)