At 11:24 PM 5/26/99 -0400, you wrote:
>Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Waalaikumussalam Wr. Wb

>> Kalau Bapak Mansur tidak keberadatan rasa diri atau rasadiri atau rasa-diri
>> yang ditanyakan ini dalam konteks dan arah bagaimana? Mungkin bisa
>> ditambahkan dengan sedikit deskripsi kalimat.
>
>Kata rasa diri digunakan dalam kalangan Subud. "Rasa diri" itu termasuk
>salah satu unsur batin manusia, tetapi saya belum mempunyai gambaran
>yang cukup jelas untuk memungkinkan saya menterjemahkannya dengan tepat
>ke dalam bahasa Inggris.

Bapak Muhammad Subud (semoga Allah melimpahkan Rahman & Rahiim-Nya) -menurut pengetahuan saya- adalah salah seorang yang shalih, bahkan telah "bertemu diri". Dimana misi hidup beliau adalah membimbing (mursyid) semua orang (tidak memandang Islam atau tidak) untuk berjalan menuju Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT).

Karena pengajarannya demikian --tidak memandang agama--, masyarakat Islam lebih memandangnya sebagai ahli kebatinan, dibandingkan sebagai seorang pemeluk agama Islam yang shalih. -wallahu'alam

Saya juga sedang mencoba mencari informasi yang  lebih lengkap mengenai  Bapak Muhammad Subud. Mungkin Bapak Mansur bisa memberikannya kepada saya. Terima kasih sebelumnya.


>Yang terang, "rasadiri" tidak identik dengan sukma, jiwa, nafsu, hati,
>akal-pikiran, kalbu, hawa, hati sanubari, otak, atau kehendak, karena
>istilah-istilah itu juga digunakan secara eksplisit.

Kalau kita (saya) menggunakan kata "Jiwa", hal ini lebih banyak mengarah kepada "Jiwa Muthmainnah" yang belum benar-benar lepas dari bungkus syahwat dan hawa nafsu.

Kalau kita ikuti kajian dalam diskusi di milis ini, jelaslah yang dimaksud dengan
rasa diri ini adalah "Jiwa Muthmainnah" tsb.

Lihat kutipan kalimat bapak diatas.

>[Itu] akan membahagiakan hidupmu, karena dilahirkan atau ditumbuhkan
>oleh jiwa manusiamu yang membawa hidupnya seluruh rasa-dirimu.

Jiwa Muthmainnah adalah hakikat diri manusia. Jiwa Muthmainnah ini
mulai tumbuh dan terlahir ketika seorang mensucikan diri.

Seperti pernah kita bahas tingkatan jiwa adalah sebagai berikut:

------------------------
- Jiwa Rabbaniyah
------------------------
- Jiwa Rahmaniyah
------------------------
- Jiwa Ruhaniyah
------------------------
- Jiwa Jasmaniyah
------------------------
- Jiwa Hewan
------------------------
- Jiwa Tumbuhan
------------------------
- Jiwa Material
------------------------
- Jiwa Syaithan
------------------------

Tingkatan Jiwa diatas pernah dibahas oleh Jalaluddin Ar-Rumi dan Imam Khomeini.

Manusia lahir dalam tingkatan Jiwa Jasmaniyah (modal dasar).
Dalam perjalanannya hampir semua manusia degradasi turun kepada Jiwa yang lebih rendah (hewan, tumbuhan, material atau syaithan). Dengan proses penyucian diri ia dapat kembali ke tingakatan Jiwa Jasmaniyah, atau yang lebih tinggi dari itu.

Sehingga dibahasakan diatas "membawa hidupnya seluruh Jiwa Muthmainnah (rasa diri) mu".

>Itulah sesungguhnya yang disebut: kebudayaan, karena berasal dari jiwa
>manusia yang diterima oleh rasa-diri yang telah bangkit terhindar dari
>pengaruh daya-daya pesertanya.

Jiwa Muthmainnah punya penyakit yang akan membungkusnya yaitu "syahwat dan hawa nafsu". Dibahasakan "penyakit pembungkus" tersebut dengan "pengaruh daya-daya pesertanya".

>Sebagai penutup tulisan ini, tiada lain yang diharap semoga para pelatih
>rajin menjalankan latihan rasa-diri.

Jiwa Muthmainnah yang terbungkus oleh Hawa Nafsu dan Syahwat perlu dilatih (riyadloh) untuk penyucian diri. Penyucian diri itu sendiri pada hakikatnya adalah "Menyelaraskan diri kita dengan Karsa Allah". Atau dalam bahasa Al Qur'an dibahasakan dengan kata Taqwa, yaitu : "Tunduk, patuh, berserah diri".

Agar Jiwa Muthmainnah tersucikan, maka perlu dilatih. Yang guna latihan ini untuk persiapan mengahadapi kehidupan sehari-hari.







+++++++
Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. 2:32)
--------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)

Kirim email ke