> ----------
> From:         Syariefudin Algadrie[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> 
> Sham oon bin Lawi bin Yahuda adalah seorang pendita. Pada suatu hari
> beliau
> telah menemui Rasulullah S.A.W.A.
> Sham oon bertanya, " Jelaskan kepadaku tentang akal. Apakah ciri-ciri
> orang yang
> mempunyai akal dan ciri-ciri orang yang
> tidak mempunyai akal?
> Nabi Muhammad SAWmenjawab, " Akal adalah satu hijab yang bertentangan
> dengan
> kejahilan dan ruh adalah seperti binatang
> buas. Sekiranya ia tidak dikawal, ia akan melakukan sesuatu tanpa batas
> yang
> terjerumus kepada kesalahan-kesalahan. Oleh itu akal adalah satu hijab
> bertentangan dengan kejahilan. Allah menciptakan akal (lalu mengujinya)
> dan
> berfirman kepadanya: "
> Datanglah kepadaku dan (akal) mara ke hadapan, kemudian Dia berfirman: "
> Undurlah kamu, dan ia (akal) mengundur ke
> belakang. Kemudian Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Pemurah berfirman, "
> Demi
> Kekuasaan dan KemuliaanKu tiada satu
> makhluk pun lebih dekat kepadaku selain daripada kamu. Maka kepada kamu
> aku
> perintahkan (ketaatan) dan kepada kamu
> juga aku perintahkan larangan. Aku akan membalas kebaikan kamu dan
> menghukum
> kejahatan kamu."
> 
Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Terimakasih banyak. Saya pernah membaca hadist seperti ini. Ketika saya
membacanya dan kemudian "Akal" disini selalu saya gambarkan sebagai "Lubb" +
"Akal Otak" maka hadist ini masih mampu saya pahami. Masalahnya kemudian
ketika disebutkan bahwa "Ruh" adalah seperti binatang buas, maka saya
menjadi sangat curiga bahwa sebenarnya "Jiwa"-lah yang seperti binatang
buas. Karena "Ruh" / "Arruuhu" selalu dipergunakan dalam pengertian
"kepatuhan kepada Allah SWT" di dalam Al-Quran., sehingga saya cenderung
curiga bahwa dalam bahasa arabnya, bukan kata "Arruuhu" yang dipergunakan
melainkan "Anfus" atau " Nafs" yang lebih pas diartikan "Jiwa". Tapi nanti
coba saya baca dalam kitab hadistnya, insyaallah ada di Al-Kafi dan
insyaallah benar bahwa bukan "Arruuhu" yang dipergunakan.

Sebenarnya juga dalam buku pak Jalaluddin yang pernah saya kutipkan dalam
milis ini ketika menerangkan tentang Silaturrahmi dalam alam malakut.
Seluruh kata "Ruh" yang ada dalam tulisan pak Jalaluddin telah saya ubah
menjadi "Jiwa" agar pas dengan pengertian saya. Tentu bukan minterin pak
Jalaluddin, hehehe... tetapi hanya agar pengertian dalam tulisan tersebut
konsisten dengan pengertian Ruh & Jiwa yang pernah dibicarakan di milis
ini.... makanya saya katakan bahwa tulisan itu saya kutipkan dari pak
Jalaluddin dengan bahasa saya sendiri.

Wassalaamu 'alaikum wr. wb.


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke