Assalamu a'laikum wr.wb.

Mencukur rambut kepala sendiri itu hampir tidak mungkin; kita
memerlukan bantuan orang lain, tetapi tidak sembarang orang bisa
mencukur dengan baik. Apalagi mencukur, lha wong untuk menyadari bahwa
rambut sendiri sudah tidak pantas saja kita perlu bantuan orang lain
atau sekurang-kurangnya sebuah cermin!

Orang yang mampu menyadari keburukan diri sendiri dan mampu
melenyapkannya dengan kekuatan sendiri sepenuhnya, sungguh, dia adalah
manusia super! Never seen that kind of man! Nabi pun tidak mencapai
kesucian atas kekuatannya sendiri; sekurang-kurangnya kita semua tahu
bahwa Malaikat Jibril berperan sangat dominan.

Kasus Mas Ali Abidin adalah kasus typical kita semua. Kita ingin
menjadi orang yang baik tetapi kita tidak punya stamina yang konstan;
dalam bahasa agama kita digoda oleh syaitan, sehingga kita merasa
lelah, bosan dan kemudian lalai dalam mencapai tujuan itu. Ibarat
komputer, sesekali aliran listrik PLN tiba-tiba mati sehingga hasil
kerja kita sia-sia terutama bila kita lupa melakukan SAVE. Kita perlu
sistem backup energi agar komputer dapat terus bekerja pada saat power
failure.

Kalau Nabi dibackup oleh malaikat Jibril, kita pun perlu backup yang
serupa. Dari mana backup energi itu diperoleh? Salah satunya adalah
dari mursyid. Setiap murid diberi tambahan energi itu ketika dibai'at.
Tetapi ini bukan satu-satunya jalan. Salah satu hikmah dari anjuran
shalat berjamaah adalah agar kita tidak lalai atau malas dalam
melakukannya. Demikian pula, kalau sekurang-kurangnya dua orang
berniat membersihkan diri bersama-sama, keduanya dapat saling
mendukung, saling mengingatkan, saling 'mencukur'. Makin banyak
anggota jamaah itu, makin baik hasilnya. Bagaimana kalau anda hidup di
tengah hutan belantara dan tak ada teman untuk diajak berjamaah? Ada
Allah. Anda bisa minta kepada-Nya apapun, termasuk suplai energi yang
tak terputus. Tak ada yang tak dapat diselesaikan bila kita menyadari
bahwa Allah itu ada di mana-mana dan siap membantu tanpa minta
imbalan.

Assalamu a'laikum wr.wb.
RS

[EMAIL PROTECTED] wrote:
 
> Kalau boleh saya nimbrung dikit bahawa,  urusan dalam beragama yang
> sebenar-benarnya muslim tidak ada yang dikenal istilah instan-instanan,
> sebab didalam alam sahada berlaku hukum ; Ruang, Waktu, Proses, dan
> menghasilkan Perubahan.
> Istilah instan mungkin lebih dikenal nanti di alam Akherat, dimana disana
> nanti hukum berlaku terbalik : yaitu Nol Waktu (zero time), semuanya ber
> gerak diatas kecepatan cahaya, untuk selama-lamanya (waktu akherat).
> 
> Tip-tip yang bisa dilakukan untuk menekan hawa nafsu adalah ;
> 1. * Berpuasa jasmani dan rohani, sebenar-benar puasa *
> 2. * Bertaubat sebenar-benar Taubat *
> 
> "Sebenar-benar" yang dimaksudkan disini adalah; bak nekadnya orang
> mati,...ya sekali mati..nggak bangun-bangun lagi untuk selama-lamanya,
> perkara ada harta bermilyaran Rp, punya isteri dan anak yang sangat di
> sayangi, ...semua dicuekin..dan harus ditinggal........
> 
> Jika hari ini bertaubat, lalu besok berbuat lagi,...itu namanya bukan
> bertaubat
> tetapi sudah masuk dalam kategori mempermainankan perintah ALLAH.
> Kitakan sudah pada tahu semuanya..apa ganjaran bagi orang yang bermain
> main dalam agama Allah..?
> 
> Demikian Tip yang sederhana ini, semoga manfaatnya lebih banyak.
> 
> Wassalam
> H.Nading

Ali Abidin:
 
> > Zaman serba instan, sehingga Tasawufpun maunya diinstant-kan :-)...
> > asyiiik...
> >
> > Karena banyaknya dosa saya maka memohon ampun rasanya bukan lagi pekerjaan
> > yang berat bagi saya. Meski dulu saya memandang ini semua sebagai dosa
> > kecil tapi sekarang akhirnya saya menyadari itu semua sebagai maksiat yang
> > keterlaluan. Sukses pada langkah satu yaitu menyadari kesalahan dan
> > kemudian memohon ampun :-)
> >
> > Nah sekarang pada langkah ke-2 yaitu bertaubat yaitu untuk kembali ke
> > tempat semula (otomatis artinya memperbaiki diri ya agar tidak
> > terus-terusan mengulang kesalahan yang sama?). Masalahnya tiba-tiba saya
> > sadar bahwa ada gunung hawa nafsu yang guede membentang yang menghalangi
> > jalan saya untuk kembali tersebut. Dan susah bener melewatinya. Begitu
> > besarnya hawa nafsu ini sehingga saya rasa mau menyerah saja :-(.... Dan
> > pengalaman rasanya saya lebih banyak kalahnya daripada menangnya.
> >
> > Adakah tips dari Abah agar mampu menerabas belantara nafsu ini dengan
> > selamat?
> >
> > Wassalaamu 'alaikum wr. wb.


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke