Assalaamu a'alikum wr.wb.

Sungguh jika ada diantara hambah-hambah Allah yang berbahagia pada hari ini,
maka "Pak Ali Abidin" lah orangnya,......kenapa..? nah ini yang membuat
saya menjadi kagum, kenapanya ini.. ha..ha.
Saya melihat dalam diri Pak Ali Abidin ada sesuatu potensi yang besar disana
yang membuat sang Iblis dan kroni-kroni-nya bertekuk lutut dan lari tunggang
langgang begitu melihat Pak Ali Abidin.

Kadang2 sifat manusia ini aneh,...dan amat sangat mudah menyalahkan orang
lain ketimbang dirinya sendiri, nah jika sudah ada diantara hambah2 Allah
yang sanggup menyalahkan diri sendiri, menyadari perbuatan2 dosa yang lalu
dan sangat menyesalinya sehingga timbul niat yang kuat untuk tidak
mengulangi lagi perbuatan tsb, maka Rajanya Iblis-pun akan lari
terbirit-birit
karena ketakutan, dan tidak berani lagi mendekat kepada hambah Allah tsb,
sehingga jalan kebenaran menuju Allah terbuka lapang baginya.

Maaf,... Pak Ali Abidin,...maksudnya dalam posting yang lalu, Yaitu ;
"Sebenar-benar taubat..bak nekadnya orang mati" itu adalah hanya sebuah
kiasan cara untuk bertaubat, yakni hendaknya bertaubat itu hanya satu kali
saja, sesegera mungkin setelah menyadari dosa dan kesalahan, dan setelah
itu tidak lagi ada taubat atas kesalahan yang sama.
Dan "Puasa sebenar-benar puasa" yaitu sebuah kiasan untuk mengendalikan hawa
nafsu (keinginan2 yang mendorong untuk berbuat hal2 yang negatif),
jika hanya "berpuasa" saja, pengetiannya agak dangkal artinya kalau hanya
berpuasa semua orang juga bisa, tetapi "Berpuasa sebenar-benar puasa" itu
hanya orang2 tertentu saja yang menyanggupinya, dan semoga Pak Ali dan semua
anggota Milis Tasawuf ini sudah termasuk dalam golongan tsb.

Sebagai manusia biasa,..siapapun tidak akan luput dari semua godaan2 yang
menggiurkan dan merobohkan iman, hanya saja setiap orang pasti mempunyai
cara2 yang berbeda untuk menyelesaikannya, dengan kata lain jika kita mem
punyai atau berkeinginan berbuat sesuatu yang mungkin sifatnya negatif,....
dorongan keinginan tsb biasanya sering bergejolak didalam hati, sehingga ada
perasaan/bisikan dalam hati..antara mau atau tidak mau, nah finalnya ini
yang
sangat menentukan, pilih yang mana..? gitu. Jika kanfas rem didalam kalbu
dalam keadaan prima maka  tentunya  kita pilih "Tidak mau", dan pada saat
vonis hati kita mengatakan "tidak mau",..maka sang Iblis langsung loyo...tak
berkutik, dan dia lari dari hadapan kita.

Jadi saya harap Pak Ali tidak perlu mati berkali-kali jika menginginkan
sesuatu, ha..ha,  tetapi Rasulullah saw menganjurkan umatnya agar berusaha
mengingat "kematian" setiap saat, tentu makna hadis tersebut sangat dalam.

Wassalam bil maaf
H.Nading   

> ----------
> From:         Ali Abidin[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To:     [EMAIL PROTECTED]
> Sent:         Monday, June 21, 1999 8:51 AM
> To:   '[EMAIL PROTECTED]'
> Subject:      RE: [Tasawuf] Bimbingan Praktis Tasawuf - 1
> 
> Assalaamu 'alaikum wr. wb.
> 
> Pada posting sebelumnya, saya mengatakan bahwa jalan pulang (taubat)
> ternyata membentang gunung Hawa Nafsu yang besar, lalu saya bertanya
> adakah
> tips untuk mampu melewati gunung hawa nafsu tsb.
> 
> Dari pak Sunarman, taubat mulai saya sadari sebagai suatu proses panjang
> yang butuh stamina yang prima (sehingga itulah salah satu gunanya mursyid
> yaitu untuk  membackup energi). Pelan-pelan seakan taubat ini mulai
> terkait
> dengan "sabar". Sekarang saya membayang surat Al-Ashr ketika mengatakan
> "Wa
> tawashou bi Shabri" seakan-akan menjadi saling mengisi stamina dalam
> perjalanan pulang tersebut. Barangkali apa yang sedang kita lakukan di
> milis
> ini juga sedang saling mengisi stamina gitu pak? Pengetahuan, saya rasakan
> adalah pengisi stamina yang paling mujarab. 
> 
> Pak Nading menyarankan untuk nekad taubat (& puasa) seperti nekadnya orang
> yang mati. Wah tips dari pak Nading ini sangat segar, saya belum pernah
> mendengar tips seperti ini. Memang kematian itu sesuatu yang pasti dan
> memang orang yang mati sudah pasti terlepas dari hawanafsu (&syahwat).
> Jadi
> kalau latihan nekad meninggalkan hawa nafsu seperti nekadnya orang mati
> mestinya hasilnya akan sangat bagus. Barangkali ketika saya sedang sangat
> tergoda kepada nafsu seksual maka saya bisa meyakinkan diri saya bahwa
> saya
> sudah mati sehingga tidak ada gunanya lagi objek seks tersebut (atau
> minimal
> membayangkan bahwa kalau saya mati maka objek seks tersebut tidak akan
> bermanfaat apapun bagi saya). Atau ketika saya tergoda untuk memiliki
> suatu
> barang yang sangat bagus meski saya tidak memerlukannya maka saya bisa
> berbisik kembali bahwa saya sudah mati sehingga barang tersebut tidak ada
> gunanya lagi buat saya. Hihihi...saya akan mati berkali-kali kalau begitu.
> 
> 
> Barusan ketika sedang menulis, ada objeks seks yang lewat dan saya mencoba
> tipsnya pak Nading ternyata sulit sekali untuk mencoba menolak gejolak
> nafsu
> tersebut :-(, Jadi tips tersebut meski mungkin sangat manjur tetapi
> ternyata
> melihat kelemahan diri saya saat ini, rasanya sangat sulit untuk mampu
> melakukan nasehat dari pak Nading ini seketika. Barangkali saya harus
> latihan dulu membayangkan rasanya "mati" itu sendiri ya pak? Atau
> barangkali
> suatu saat pada malam hari (barangkali setelah sholat malam) saya harus
> memsugesti  bahwa hari ini saya mati jadi tidak lagi tergoda pada hawa
> nafsu....??????.  Atau sesuai subjek pada posting ini yaitu "Bimbingan
> Praktis", adakah ide praktis dari pak Nading agar mampu "mati" tersebut
> pak?
> Maaf kalau kesannya jadi rada maksa minta semakin di 'praktis' kan ;-).
> 
> Kebetulan baca Al-Quran tentang taubat, saya terhenyak membaca Al-Ahzab 73
> dimana dikatakan "Yatuubu Allaha...." yang secara kaidah bahasa Arab yang
> saya ketahui hingga saat ini (tolong dikoreksi bagi yang lebih tahu bahasa
> Arab), secara harfiah berarti "Allah bertaubat" meski ditafsir depag
> dituliskan "Allah menerima taubat". Bandingkan dengan An-nuur- 31dimana
> dikatakan "Yatuubu ila Allaha" yang kali ini memiliki sisipan "ila"
> sehingga
> memang secara harfiah berarti "Bertaubat kepada Allah". Jika pengertian
> saya
> tentang Al-Ahzab 73 itu benar, maka saya mau tidak mau berpikir bahwa
> Allah
> juga bertaubat dalam arti Allahpun kembali mendekat kepada makhluk-Nya,
> persis seperti hadist Qudsi yang sering dikutip dalam milis ini yaitu
> "Bila
> seorang hamba mendekat kepada Allah dengan berjalan, maka Allah akan
> mendekat kepadanya dengan berlari...dst". Berarti bahwa Allahpun
> benar-benar
> berusaha mendekat kembali (red: baca sebagai "bertaubat") kepada hamba-Nya
> yang berusaha mendekat kepada-Nya. Barangkali kalau cerita unta hilangnya
> pak Sigit itu, maka sang Pemilik unta juga berusaha mendekat kepada si
> unta.
> Ayat ini sangat membesarkan hati meski ide bahwa Allah-pun ber-"taubat'
> memang rada aneh pada awalnya.
> 
> Untuk Abah, masih ditunggu seri berikutnya dari tulisan ini....
> 
> Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
> 
> 
> > ----------
> > From:       R. Sunarman[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > Sent:       Saturday, 19 June 1999 9:51
> > To:         [EMAIL PROTECTED]
> > Subject:    Re: [Tasawuf] Bimbingan Praktis Tasawuf - 1
> > 
> > Assalamu a'laikum wr.wb.
> > 
> > Mencukur rambut kepala sendiri itu hampir tidak mungkin; kita
> > memerlukan bantuan orang lain, tetapi tidak sembarang orang bisa
> > mencukur dengan baik. Apalagi mencukur, lha wong untuk menyadari bahwa
> > rambut sendiri sudah tidak pantas saja kita perlu bantuan orang lain
> > atau sekurang-kurangnya sebuah cermin!
> > 
> > Orang yang mampu menyadari keburukan diri sendiri dan mampu
> > melenyapkannya dengan kekuatan sendiri sepenuhnya, sungguh, dia adalah
> > manusia super! Never seen that kind of man! Nabi pun tidak mencapai
> > kesucian atas kekuatannya sendiri; sekurang-kurangnya kita semua tahu
> > bahwa Malaikat Jibril berperan sangat dominan.
> > 
> > Kasus Mas Ali Abidin adalah kasus typical kita semua. Kita ingin
> > menjadi orang yang baik tetapi kita tidak punya stamina yang konstan;
> > dalam bahasa agama kita digoda oleh syaitan, sehingga kita merasa
> > lelah, bosan dan kemudian lalai dalam mencapai tujuan itu. Ibarat
> > komputer, sesekali aliran listrik PLN tiba-tiba mati sehingga hasil
> > kerja kita sia-sia terutama bila kita lupa melakukan SAVE. Kita perlu
> > sistem backup energi agar komputer dapat terus bekerja pada saat power
> > failure.
> > 
> > Kalau Nabi dibackup oleh malaikat Jibril, kita pun perlu backup yang
> > serupa. Dari mana backup energi itu diperoleh? Salah satunya adalah
> > dari mursyid. Setiap murid diberi tambahan energi itu ketika dibai'at.
> > Tetapi ini bukan satu-satunya jalan. Salah satu hikmah dari anjuran
> > shalat berjamaah adalah agar kita tidak lalai atau malas dalam
> > melakukannya. Demikian pula, kalau sekurang-kurangnya dua orang
> > berniat membersihkan diri bersama-sama, keduanya dapat saling
> > mendukung, saling mengingatkan, saling 'mencukur'. Makin banyak
> > anggota jamaah itu, makin baik hasilnya. Bagaimana kalau anda hidup di
> > tengah hutan belantara dan tak ada teman untuk diajak berjamaah? Ada
> > Allah. Anda bisa minta kepada-Nya apapun, termasuk suplai energi yang
> > tak terputus. Tak ada yang tak dapat diselesaikan bila kita menyadari
> > bahwa Allah itu ada di mana-mana dan siap membantu tanpa minta
> > imbalan.
> > 
> > Assalamu a'laikum wr.wb.
> > RS
> > 
> > [EMAIL PROTECTED] wrote:
> >  
> > > Kalau boleh saya nimbrung dikit bahawa,  urusan dalam beragama yang
> > > sebenar-benarnya muslim tidak ada yang dikenal istilah
> instan-instanan,
> > > sebab didalam alam sahada berlaku hukum ; Ruang, Waktu, Proses, dan
> > > menghasilkan Perubahan.
> > > Istilah instan mungkin lebih dikenal nanti di alam Akherat, dimana
> >    disana nanti hukum berlaku terbalik : yaitu Nol Waktu (zero time),
> semuanya ber
> > > gerak diatas kecepatan cahaya, untuk selama-lamanya (waktu akherat).
> > > 
> > > Tip-tip yang bisa dilakukan untuk menekan hawa nafsu adalah ;
> > > 1. * Berpuasa jasmani dan rohani, sebenar-benar puasa *
> > > 2. * Bertaubat sebenar-benar Taubat *
> > > 
> > > "Sebenar-benar" yang dimaksudkan disini adalah; bak nekadnya orang
> > > mati,...ya sekali mati..nggak bangun-bangun lagi untuk selama-lamanya,
> > > perkara ada harta bermilyaran Rp, punya isteri dan anak yang sangat di
> > > sayangi, ...semua dicuekin..dan harus ditinggal........
> > > 
> > > Jika hari ini bertaubat, lalu besok berbuat lagi,...itu namanya bukan
> > > bertaubat tetapi sudah masuk dalam kategori mempermainankan perintah
> ALLAH.
> > > Kitakan sudah pada tahu semuanya..apa ganjaran bagi orang yang bermain
> > > main dalam agama Allah..?
> > > 
> > > Demikian Tip yang sederhana ini, semoga manfaatnya lebih banyak.
> > > 
> > > Wassalam
> > > H.Nading
> > 
> > Ali Abidin:
> >  
> > > > Zaman serba instan, sehingga Tasawufpun maunya diinstant-kan :-)...
> > > > asyiiik...
> > > > Karena banyaknya dosa saya maka memohon ampun rasanya bukan lagi
> >       pekerjaan yang berat bagi saya. Meski dulu saya memandang ini
> semua                   sebagai dosa kecil tapi sekarang akhirnya saya
> menyadari itu semua sebagai          maksiat yang keterlaluan. Sukses pada
> langkah satu yaitu menyadari                   kesalahan dan kemudian
> memohon ampun :-)
> > > >
> > > > Nah sekarang pada langkah ke-2 yaitu bertaubat yaitu untuk kembali
> ke
> > > > tempat semula (otomatis artinya memperbaiki diri ya agar tidak
> > > > terus-terusan mengulang kesalahan yang sama?). Masalahnya tiba-tiba
> >       saya sadar bahwa ada gunung hawa nafsu yang guede membentang yang
> >       menghalangi jalan saya untuk kembali tersebut. Dan susah bener
> melewatinya.                            Begitu besarnya hawa nafsu ini
> sehingga saya rasa mau menyerah saja :-(....
> >       Dan pengalaman rasanya saya lebih banyak kalahnya daripada
> menangnya.
> > > >
> > > > Adakah tips dari Abah agar mampu menerabas belantara nafsu ini
> dengan
> > > > selamat?
> > > >
> > > > Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
> > 
> > 
> > ---------------------------------------------------------------------
> > Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> > Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> > Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> > Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
> 
> 
> 
> 
> 

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke