Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Pada posting sebelumnya, saya mengatakan bahwa jalan pulang (taubat)
ternyata membentang gunung Hawa Nafsu yang besar, lalu saya bertanya adakah
tips untuk mampu melewati gunung hawa nafsu tsb.

Dari pak Sunarman, taubat mulai saya sadari sebagai suatu proses panjang
yang butuh stamina yang prima (sehingga itulah salah satu gunanya mursyid
yaitu untuk  membackup energi). Pelan-pelan seakan taubat ini mulai terkait
dengan "sabar". Sekarang saya membayang surat Al-Ashr ketika mengatakan "Wa
tawashou bi Shabri" seakan-akan menjadi saling mengisi stamina dalam
perjalanan pulang tersebut. Barangkali apa yang sedang kita lakukan di milis
ini juga sedang saling mengisi stamina gitu pak? Pengetahuan, saya rasakan
adalah pengisi stamina yang paling mujarab. 

Pak Nading menyarankan untuk nekad taubat (& puasa) seperti nekadnya orang
yang mati. Wah tips dari pak Nading ini sangat segar, saya belum pernah
mendengar tips seperti ini. Memang kematian itu sesuatu yang pasti dan
memang orang yang mati sudah pasti terlepas dari hawanafsu (&syahwat). Jadi
kalau latihan nekad meninggalkan hawa nafsu seperti nekadnya orang mati
mestinya hasilnya akan sangat bagus. Barangkali ketika saya sedang sangat
tergoda kepada nafsu seksual maka saya bisa meyakinkan diri saya bahwa saya
sudah mati sehingga tidak ada gunanya lagi objek seks tersebut (atau minimal
membayangkan bahwa kalau saya mati maka objek seks tersebut tidak akan
bermanfaat apapun bagi saya). Atau ketika saya tergoda untuk memiliki suatu
barang yang sangat bagus meski saya tidak memerlukannya maka saya bisa
berbisik kembali bahwa saya sudah mati sehingga barang tersebut tidak ada
gunanya lagi buat saya. Hihihi...saya akan mati berkali-kali kalau begitu. 

Barusan ketika sedang menulis, ada objeks seks yang lewat dan saya mencoba
tipsnya pak Nading ternyata sulit sekali untuk mencoba menolak gejolak nafsu
tersebut :-(, Jadi tips tersebut meski mungkin sangat manjur tetapi ternyata
melihat kelemahan diri saya saat ini, rasanya sangat sulit untuk mampu
melakukan nasehat dari pak Nading ini seketika. Barangkali saya harus
latihan dulu membayangkan rasanya "mati" itu sendiri ya pak? Atau barangkali
suatu saat pada malam hari (barangkali setelah sholat malam) saya harus
memsugesti  bahwa hari ini saya mati jadi tidak lagi tergoda pada hawa
nafsu....??????.  Atau sesuai subjek pada posting ini yaitu "Bimbingan
Praktis", adakah ide praktis dari pak Nading agar mampu "mati" tersebut pak?
Maaf kalau kesannya jadi rada maksa minta semakin di 'praktis' kan ;-).

Kebetulan baca Al-Quran tentang taubat, saya terhenyak membaca Al-Ahzab 73
dimana dikatakan "Yatuubu Allaha...." yang secara kaidah bahasa Arab yang
saya ketahui hingga saat ini (tolong dikoreksi bagi yang lebih tahu bahasa
Arab), secara harfiah berarti "Allah bertaubat" meski ditafsir depag
dituliskan "Allah menerima taubat". Bandingkan dengan An-nuur- 31dimana
dikatakan "Yatuubu ila Allaha" yang kali ini memiliki sisipan "ila" sehingga
memang secara harfiah berarti "Bertaubat kepada Allah". Jika pengertian saya
tentang Al-Ahzab 73 itu benar, maka saya mau tidak mau berpikir bahwa Allah
juga bertaubat dalam arti Allahpun kembali mendekat kepada makhluk-Nya,
persis seperti hadist Qudsi yang sering dikutip dalam milis ini yaitu "Bila
seorang hamba mendekat kepada Allah dengan berjalan, maka Allah akan
mendekat kepadanya dengan berlari...dst". Berarti bahwa Allahpun benar-benar
berusaha mendekat kembali (red: baca sebagai "bertaubat") kepada hamba-Nya
yang berusaha mendekat kepada-Nya. Barangkali kalau cerita unta hilangnya
pak Sigit itu, maka sang Pemilik unta juga berusaha mendekat kepada si unta.
Ayat ini sangat membesarkan hati meski ide bahwa Allah-pun ber-"taubat'
memang rada aneh pada awalnya.

Untuk Abah, masih ditunggu seri berikutnya dari tulisan ini....

Wassalaamu 'alaikum wr. wb.


> ----------
> From:         R. Sunarman[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent:         Saturday, 19 June 1999 9:51
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      Re: [Tasawuf] Bimbingan Praktis Tasawuf - 1
> 
> Assalamu a'laikum wr.wb.
> 
> Mencukur rambut kepala sendiri itu hampir tidak mungkin; kita
> memerlukan bantuan orang lain, tetapi tidak sembarang orang bisa
> mencukur dengan baik. Apalagi mencukur, lha wong untuk menyadari bahwa
> rambut sendiri sudah tidak pantas saja kita perlu bantuan orang lain
> atau sekurang-kurangnya sebuah cermin!
> 
> Orang yang mampu menyadari keburukan diri sendiri dan mampu
> melenyapkannya dengan kekuatan sendiri sepenuhnya, sungguh, dia adalah
> manusia super! Never seen that kind of man! Nabi pun tidak mencapai
> kesucian atas kekuatannya sendiri; sekurang-kurangnya kita semua tahu
> bahwa Malaikat Jibril berperan sangat dominan.
> 
> Kasus Mas Ali Abidin adalah kasus typical kita semua. Kita ingin
> menjadi orang yang baik tetapi kita tidak punya stamina yang konstan;
> dalam bahasa agama kita digoda oleh syaitan, sehingga kita merasa
> lelah, bosan dan kemudian lalai dalam mencapai tujuan itu. Ibarat
> komputer, sesekali aliran listrik PLN tiba-tiba mati sehingga hasil
> kerja kita sia-sia terutama bila kita lupa melakukan SAVE. Kita perlu
> sistem backup energi agar komputer dapat terus bekerja pada saat power
> failure.
> 
> Kalau Nabi dibackup oleh malaikat Jibril, kita pun perlu backup yang
> serupa. Dari mana backup energi itu diperoleh? Salah satunya adalah
> dari mursyid. Setiap murid diberi tambahan energi itu ketika dibai'at.
> Tetapi ini bukan satu-satunya jalan. Salah satu hikmah dari anjuran
> shalat berjamaah adalah agar kita tidak lalai atau malas dalam
> melakukannya. Demikian pula, kalau sekurang-kurangnya dua orang
> berniat membersihkan diri bersama-sama, keduanya dapat saling
> mendukung, saling mengingatkan, saling 'mencukur'. Makin banyak
> anggota jamaah itu, makin baik hasilnya. Bagaimana kalau anda hidup di
> tengah hutan belantara dan tak ada teman untuk diajak berjamaah? Ada
> Allah. Anda bisa minta kepada-Nya apapun, termasuk suplai energi yang
> tak terputus. Tak ada yang tak dapat diselesaikan bila kita menyadari
> bahwa Allah itu ada di mana-mana dan siap membantu tanpa minta
> imbalan.
> 
> Assalamu a'laikum wr.wb.
> RS
> 
> [EMAIL PROTECTED] wrote:
>  
> > Kalau boleh saya nimbrung dikit bahawa,  urusan dalam beragama yang
> > sebenar-benarnya muslim tidak ada yang dikenal istilah instan-instanan,
> > sebab didalam alam sahada berlaku hukum ; Ruang, Waktu, Proses, dan
> > menghasilkan Perubahan.
> > Istilah instan mungkin lebih dikenal nanti di alam Akherat, dimana
> disana
> > nanti hukum berlaku terbalik : yaitu Nol Waktu (zero time), semuanya ber
> > gerak diatas kecepatan cahaya, untuk selama-lamanya (waktu akherat).
> > 
> > Tip-tip yang bisa dilakukan untuk menekan hawa nafsu adalah ;
> > 1. * Berpuasa jasmani dan rohani, sebenar-benar puasa *
> > 2. * Bertaubat sebenar-benar Taubat *
> > 
> > "Sebenar-benar" yang dimaksudkan disini adalah; bak nekadnya orang
> > mati,...ya sekali mati..nggak bangun-bangun lagi untuk selama-lamanya,
> > perkara ada harta bermilyaran Rp, punya isteri dan anak yang sangat di
> > sayangi, ...semua dicuekin..dan harus ditinggal........
> > 
> > Jika hari ini bertaubat, lalu besok berbuat lagi,...itu namanya bukan
> > bertaubat
> > tetapi sudah masuk dalam kategori mempermainankan perintah ALLAH.
> > Kitakan sudah pada tahu semuanya..apa ganjaran bagi orang yang bermain
> > main dalam agama Allah..?
> > 
> > Demikian Tip yang sederhana ini, semoga manfaatnya lebih banyak.
> > 
> > Wassalam
> > H.Nading
> 
> Ali Abidin:
>  
> > > Zaman serba instan, sehingga Tasawufpun maunya diinstant-kan :-)...
> > > asyiiik...
> > >
> > > Karena banyaknya dosa saya maka memohon ampun rasanya bukan lagi
> pekerjaan
> > > yang berat bagi saya. Meski dulu saya memandang ini semua sebagai dosa
> > > kecil tapi sekarang akhirnya saya menyadari itu semua sebagai maksiat
> yang
> > > keterlaluan. Sukses pada langkah satu yaitu menyadari kesalahan dan
> > > kemudian memohon ampun :-)
> > >
> > > Nah sekarang pada langkah ke-2 yaitu bertaubat yaitu untuk kembali ke
> > > tempat semula (otomatis artinya memperbaiki diri ya agar tidak
> > > terus-terusan mengulang kesalahan yang sama?). Masalahnya tiba-tiba
> saya
> > > sadar bahwa ada gunung hawa nafsu yang guede membentang yang
> menghalangi
> > > jalan saya untuk kembali tersebut. Dan susah bener melewatinya. Begitu
> > > besarnya hawa nafsu ini sehingga saya rasa mau menyerah saja :-(....
> Dan
> > > pengalaman rasanya saya lebih banyak kalahnya daripada menangnya.
> > >
> > > Adakah tips dari Abah agar mampu menerabas belantara nafsu ini dengan
> > > selamat?
> > >
> > > Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
> 
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
> 
> 
> 
> 
> 

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke