Assalaamu 'alaikum wr. wb.
> ----------
> From: Pungkas Ali[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>
> > Katakanlah:"Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku
> kecuali
> > kasih sayang kepada keluargaku"(QS. 42:23).
>
> Kalau saya baca terjemahan dari Departemen Agama RI: ayat tsb scara
> lengkapnya
> adalah sebagai berikut:
> "Itulah (karunia) yang (dengan (itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya
> yang
> beriman dan mengerjakan amal saleh. Katakanlah:"Aku tidak meminta kepadamu
> sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan".
> Dan
> siapa yang mengerjakan amal kebailan akan Kami tambahkan baginya kebaikan
> pada
> kebaikannya itu. Sesunguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri"
>
> Semantara itu terjemahan oleh Tim Disbintalad cetakan ke 6 -pada bagian
> tsb.
> berbunyi:
> "Aku tidak minta upah kepadamu atas seruan itu kecuali kasih sayang dalam
> kekerabatan"
>
> Mohon penjelasannya karena ada perbedaan dalam penterjemahan
>
Bener mas Pungkas (nggak mas Ali karena namanya jadi sama :-).... Memang
"Mawaddatan Fil Qurba" yang dikutip dalam ayat itu bisa diterjemahkan
macam-macam. Ada yang menterjemahkan sebagai "Kasih Sayang dalam
kekeluargaan", ada juga yang menterjemahkan sebagai "Kasih sayang dalam
kekerabatan" ada juga yang menterjemahkan sebagai "Kasih sayang kepada
keluargaku".... "Qurba" sendiri artinya setahu saya adalah kerabat dekat.
Kalau orang biasa seperti saya mengatakan kepada orang yang mengerti bahasa
arab bahwa saya menghendaki ybs memberikan upah kepada saya berupa
"Mawaddatan fil Qurba", maka pasti ybs tidak akan berpikir lain kecuali
bahwa saya menginginkan ybs untuk mengasihi/bertingkah lembut terhadap
keluarga saya serta orang-orang yang dekat kepada saya. Tapi masalahnya
menjadi lain jika Allah memerintahkan Muhammad untuk mengucapkan demikian,
karena orang selalu berpikir tidak mungkin Muhammad SAAW meninggikan
keluarganya di atas umat islam lainnya, apalagi meminta upah atas seruannya
agar meninggikan keluarganya, bukankah keluarganya adalah orang biasa?.
Bukankah Muhammad mengatakan kalau Fatimah mencuri maka akan aku potong
tangannya? Saya tidak menyalahkan orang yang mengatakan demikian. Sehingga
jika akhirnya "Mawaddatan Fil Qurba" diterjemahkan sangat tidak transparan
menjadi seperi "kasih sayang dalam kekerabatan" dll maka tidak aneh menurut
saya.
Ahli tafsir juga bermacam-macam dalam mengartikan ayat ini. Tapi setahu
saya, banyak Ahli tafsir yang menterjemahkan upah yang diinginkan Rasulullah
atas seurannya berupa "Mawaddatan Fil Qurba" dalam ayat ini sebagai "Kasih
sayang kepada keluargaku". Bahkan lebih jauh dalam Tafsir Al-Kabir dari
Fakhrur Razi, berdasarkan suatu hadist dari Ibnu Abbas berkaitan dengan ayat
ini dimana Rasulullah kemudian mengatakan dimana Al-Qurba yang dimaksud
dalam ayat ini adalah Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Bahkan petikan sejarah
berupa kata-kata Imam Syafii (yang pernah saya kutipkan di milis ini) "Kalau
mencintai keluarga Rasulullah SAAW dianggap sebagai Rafidhi, maka biarlah
aku umumkan kepada semua orang bahwa aku adalah seorang Rafidhi", adalah
berkaitan ketika Imam Syafii menerangkan ayat ini. Karena itulah ketika
sholat, Imam Syafii menuntun kaum muslimin untuk membaca Sholawat kepada
Muhammad dan Keluarganya .... "Allahumma Shalli Ala Muhammad wa ala Aali
Muhammad", bukan hanya kepada Muhammad SAAW saja.
Nanti kalau saya sempat, saya akan tunjukkan argumen (termasuk dari Syafii)
mengapa dalam sholawat, kebanyakan umat islam tidak mengucapkan shalawat
hanya kepada "Muhammad saja" atau malah kepada "Muhammad, Keluarga,
Istri-istri, dan Sahabatnya" melainkan kepada "Muhammad dan Keluarganya"
seperti yang dituntunkan oleh Syafii dalam bacaan sholat.
> >
> > Mengenai ahlulbait, beliau berkata: Aku tinggalkan kepada kalian 2
> mutiara
> > (atsaqolain) yang keduanya tidak akan bercerai hingga menemuiku di
> Al-haudh
> > kelak, yaitu AlQuran dan Ahlulbaitku.
>
> Selama ini yang sering saya dengar adalah hadist yang berbunyi " Aku
> telah
> meninggalkan kepadamu dua perkara yang mana kamu tidak akan tersesat
> selama
> berpegang teguh pada keduanya, yakni Al-Qur'an dan Sunnah"
>
Mengenai hadist ini, dulu kebetulan pak Ahmad Anis pernah menanyakannya di
milis ini. Sejauh informasi yang saya ketahui hingga saat ini hadist
"AlQuran dan Sunnahku" ini meski sangat populer tetapi sebenarnya tidak ada
di kutubushsittah, serta merupakan hadist tunggal dari Abu Hurairah yang
dicatat dalam kitab Mustadzrak dari Al-hakim. Sedangkan hadist "Alquran dan
Ahlulbaitku" justru tercacat dalam kutubushsittah, diriwayatkan oleh banyak
sahabat (tercatat dari 30 sahabat dalam kitab Tirmidzi) Bahkan hadist
"Alquran dan Ahlulbaitku" diriwayatkan sekitar 20 sahabat lainnya dalam
kitab Mustadzrak sendiri dimana hadist "Alquran dan Sunnahku" tersebut
satu-satunya dicantumkan. Bahkan dalam komentar hadistnya, Bukhari, Nisai
serta beberapa periwayat hadist lainnya menilai hadist "ALQuran dan
Sunnahku" itu merupakan hadist yang lemah dari segi sanad.
Salah satunya hadist "AlQuran dan Ahlulbaitku" tercatat dalam Sahih Muslim,
hadist#5920 berbunyi sebagai berikut:
"Suatu hari (pada saat selesai haji wada') Rasulullah SAAW berdiri
memberikan pidato di suatu tempat yang bernama Khum, berlokasi antara
Mekkah dan Madinah. Kemudian beliau memuji Allah dan mengingatkan kami
kapada-Nya, serta bersabda: 'Wahai manusia, Saksikanlah, Sepertinya
waktu mendekat bahwa aku akan dipanggil (oleh Allah) dan aku akan
menjawab panggilan-Nya. Aku tinggalkan kepada kalian 2 perkara yang
berharga. Pertama adalah Kitabullah dimana didalamnya terdapat cahaya
dan petunjuk. Yang lainnya adalah Ahlulbaitku. Aku ingatkan kalian
dengan nama Allah tentang Ahlulbaitku. Aku ingatkan kalian dengan nama
Allah tentang Ahlulbaitku. Aku ingatkan kalian dengan nama Allah tentang
Ahlulbaitku. (tiga kali)".
Pengetahuan di atas berasal dari suatu artikel yang berisi studi hadist
Atstsaqolain ini dalam literatur hadist sunni. Silakan mas Pungkas Ali bisa
meneliti kebenaran hadist Atstsaqolain di atas.
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)