Dalam sebuah majelis kan perlu ada pembukaannya, dan kebetulan nama anda
mendapatkan perhatian oleh sang fikiran saya.

Dharmananda Prabha Aryawan, sungguh sebuah nama yang indah, semoga 'baju'
nama yang indah ini benar2 pas disandang oleh manusia dewa seperti anda.
Secara lahiriah memang orang tua anda yang menganugerahkan nama tersebut,
tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa nama itu adalah anda sendiri yang
memilihnya, yaitu dengan pilihan lahir pada orang tua yang tepat, dan
meng-ilham-kan nama tersebut kepada mereka.

Ada kemungkinan yang seperti itu, tidak perlu difikir serius, itu hanya
menurut angan2 saya saja. He he he.

 

Disini, diantara para sahabat sekalian, tentu saya tidak berani menempatkan
diri sebagai 'narasumber' atau menempatkan diri lebih daripada para sahabat,
lha wong saya ini hanya begini begini saja, kita duduk bersama.. barangkali
ada yang memiliki 'kolak yang manis' yang dapat dinikmati oleh sahabat
lainnya. Kita sama-sama saling berbagi saja. Saya hanya dapat berbagi
artikel2 yang menurut saya baik untuk diketahui oleh siapa saja, kali ini
adalah kisah seputar Si Buta dan Lenteranya. Silahkan dinikmati..

 

Dalam buku Kumpulan Kisah Sufi 1000tahun yang lalu oleh Idries Shah, ada
kisah berjudul TOKO LAMPU? Adakah para sahabat yang memilikinya? Jika iya
silahkan diposting disini.. atau mungkin dapat diperoleh di isnet?.

 

Apakah ini ada hubungannya dengan HATI , JIWA dan AKAL yang diminta mas
Dharma? Silahkan dijawab oleh diri para sahabat sekalian.

Ingat saja unen-unennya wong jowo; "Yen seneng ora kurang pengalem, Yen
benci ora kurang panacat, ibarate wong seneng: wingko kaanggep kencono ,
ibarate wong benci: dadia banyu emoh nyawuk, daria pang emoh nyuklek, dadia
godhong emoh nyuwek". He he he he

 

 

Salam,

Sunar i

 

 

From: Hudoyo Hupudio 

Newsgroups: soc.culture.indonesia

Sent: Friday, September 01, 2006 4:25 AM

Subject: [MUBI] Fwd: LENTERA SI BUTA

 

 

Dari: "safirmortez" <[EMAIL PROTECTED]>

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya.

Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.

Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja
buat saya! Saya bisa pulang kok."

 

Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu,
biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa
pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak
si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan
buat orang buta dong!" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

 

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta
bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini
supaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu
tidak lihat, pelitamu sudah padam!" Si buta tertegun.. Menyadari situasi
itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak
melihat bahwa Anda adalah orang buta." Si buta tersipu menjawab, "Tidak
apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, si
penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun
melanjutkan perjalanan masing-masing.

 

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta
kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun,
"Maaf, apakah pelita saya padam?" Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru
mau menanyakan hal yang sama." Senyap sejenak. secara berbarengan mereka
bertanya, "Apakah Anda orang buta?" Secara serempak pun mereka menjawab,
"Iya.," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu
menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

 

Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia
menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun
berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran
dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya
bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat
jalan mereka."

 

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan
kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan,
melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).

 

Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin,
keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang
lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya
sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui
peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati
karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain.
Ia juga belajar menjadi pemaaf.

 

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran,
yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka
bisa melihat.

 

Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang
sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka
bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta,
sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

 

Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita.
Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat
pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya
untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.

 

Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya
memiliki pelita kebijaksanaan.

 

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah
nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri
kita sendiri dan sekitar kita.

 

Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan
dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita
kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.

 

Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa
penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang
membuahkan penciuman. Pikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah
kebijaksanaan.

 

 

 

From: Dharmananda PA [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Wednesday, October 22, 2008 7:32 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [tasawuf] Tentang Nama Dharmananda

 

Ya ga usah bicaraken nama ku. he he, takut jadi riya.
Tapi matur nuwun, pengetahunku pagi ini bertambah.

Yang jelas Nama adalah doa seumur hidup yang di hujahkan orang tua kepada
anaknya semenjak (bahkan mungkin sebelum) ia lahir, selama hidup, hingga
mencapai akhir hayatnya.

"Dharmananda Prabha Aryawan" adalah satu dari sekian banyak doa terindah
pertama untukku dari kedua orang tuaku. 
Karena kebetulan referensi orang tuaku yg pada saat itu adalah guru seni dan
sejarah, maka doa indahnya terbahasakan dalam namaku itu.

Udah ah......

Salam kenal buat mas atw mbak sunari.
Ajari saya aja tentang hati, jiwa dan akal.

Monggo, saya sudah duduk dan melipat tangan.  



Pada 21 Oktober 2008 13:55, sunari <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

Mas Dharma,

Apakah nama Dharmananda adalah nama asli anda atau hanya nama di dunia maya?

Nama anda adalah nama yang sesungguhnya merupakan nama tidak biasa untuk
muncul dimilis Tasawuf

Kalau boleh saya mengartikannya, dharma atau dhamma dapat dimaknai dengan
'kebenaran [alam semesta]' atau 'hukum', sementara kata ananda dapat
bermakna 'anak dari' atau 'kebahagiaan'. Jadi kata Dharmananda dapat
dimaknai sebagai seorang yang menemukan kebahagiaan dalam dharma, atau
seorang 'anak' yang terlahir didalam kebenaran. Kata Dharmananda dalam makna
'anak dharma' sama dengan makna dari kata dharmaputra. Dharma putra adalah
nama untuk anak tertua dalam keluarga Pandawa, dikisahkan beliau ini adalah
memang putra dari dewa Sang hYang Batara Dharma. Seorang tokoh yang hidupnya
berjalan dalam koridor 'dharma'. 

Memang dalam beberapa hal antara pengajaran islam [esoteric, hakekat,
universal] ada benang merah dengan kebenaran2 yang ada dalam agama Buddha,
Budha Dharma, Fo Fa. 

Bagaimana menurut anda?,  dan juga para sahabat sekalian?

 

Salam,

Sunari

 

 

From: Dharmananda PA [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, October 21, 2008 12:27 PM
To: [email protected]
Subject: [tasawuf] Ada apa didalam hening ini?

 

Mas2 dan mbak2 yang sudah lama tidak saya sapa.

Sudah lama saya ga posting ke milis ini (mungkin 8-9 tahun).
Kangen juga sama postingan2 mas2 dan mbak2 yang sedikit2 buka jalan ke
pengertian rahasia2 alam ini.

Tapi ibarat main silat, kalo lama ga pemanasan apalagi latihan rutin, rasa
ini kok kayak yang kaku dan pegel2.
Ibarat cari frekwensi di radio, tuning dan fine tuningnya bituh waktu yang
lama.

Nah, tanpa mengurangi penghargaan saya kepada yg posting informasi buku,
kegiatan dan lain2, gemana klo kita mulai lagi diskusi lewat milis ini.
Kan pelatih2 silatnya udah pada turun gunung lagi nih. Siapa tau jurus2 nya
bisa di share sebagai wacana, pengetahuan atau ilmu bagi murid2 liar disini.

Tuning yu mas.
dharma

 

 

 

_______________________________________________
Tasawuf mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/tasawuf

Kirim email ke