OBYEK TANPA SINAR TAK AKAN TERLIHAT SINAR TANPA OBYEK PUN TAK AKAN TERLIHAT TAPI BILA OBYEK DISINARI TERANG YANG TERTANGKAP PERSEPSI MATA KITA ADALAH OBYEK ITU SENDIRI SESUNGGUHNYA YANG NYATA TERTANGKAP MATA ADALAH SINAR YANG MEMANTUL DARI OBYEK.
Monggo, dilajeng kisah2 bagus nya Pada 22 Oktober 2008 09:51, sunari <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > > > Dalam sebuah majelis kan perlu ada pembukaannya, dan kebetulan nama anda > mendapatkan perhatian oleh sang fikiran saya. > > Dharmananda Prabha Aryawan, sungguh sebuah nama yang indah, semoga 'baju' > nama yang indah ini benar2 pas disandang oleh manusia dewa seperti anda. > Secara lahiriah memang orang tua anda yang menganugerahkan nama tersebut, > tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa nama itu adalah anda sendiri yang > memilihnya, yaitu dengan pilihan lahir pada orang tua yang tepat, dan > meng-ilham-kan nama tersebut kepada mereka. > > Ada kemungkinan yang seperti itu, tidak perlu difikir serius, itu hanya > menurut angan2 saya saja. He he he. > > > > Disini, diantara para sahabat sekalian, tentu saya tidak berani menempatkan > diri sebagai 'narasumber' atau menempatkan diri lebih daripada para sahabat, > lha wong saya ini hanya begini begini saja, kita duduk bersama.. barangkali > ada yang memiliki 'kolak yang manis' yang dapat dinikmati oleh sahabat > lainnya. Kita sama-sama saling berbagi saja. Saya hanya dapat berbagi > artikel2 yang menurut saya baik untuk diketahui oleh siapa saja, kali ini > adalah kisah seputar Si Buta dan Lenteranya. Silahkan dinikmati.. > > > > Dalam buku Kumpulan Kisah Sufi 1000tahun yang lalu oleh Idries Shah, ada > kisah berjudul TOKO LAMPU? Adakah para sahabat yang memilikinya? Jika iya > silahkan diposting disini.. atau mungkin dapat diperoleh di isnet?. > > > > Apakah ini ada hubungannya dengan HATI , JIWA dan AKAL yang diminta mas > Dharma? Silahkan dijawab oleh diri para sahabat sekalian. > > Ingat saja unen-unennya wong jowo; "Yen seneng ora kurang pengalem, Yen > benci ora kurang panacat, ibarate wong seneng: wingko kaanggep kencono , > ibarate wong benci: dadia banyu emoh nyawuk, daria pang emoh nyuklek, dadia > godhong emoh nyuwek". He he he he > > > > > > Salam, > > Sunar i > > > > > > From: Hudoyo Hupudio > > Newsgroups: soc.culture.indonesia > > Sent: Friday, September 01, 2006 4:25 AM > > Subject: [MUBI] Fwd: LENTERA SI BUTA > > > > > > Dari: "safirmortez" <[EMAIL PROTECTED]> > > Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. > > Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. > > Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja > buat saya! Saya bisa pulang kok." > > > > Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu, > biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa > pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak > si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan > buat orang buta dong!" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu. > > > > Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta > bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini > supaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu > tidak lihat, pelitamu sudah padam!" Si buta tertegun.. Menyadari situasi > itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak > melihat bahwa Anda adalah orang buta." Si buta tersipu menjawab, "Tidak > apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, si > penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun > melanjutkan perjalanan masing-masing. > > > > Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta > kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, > "Maaf, apakah pelita saya padam?" Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru > mau menanyakan hal yang sama." Senyap sejenak. secara berbarengan mereka > bertanya, "Apakah Anda orang buta?" Secara serempak pun mereka menjawab, > "Iya.," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu > menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan. > > > > Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja > ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun > berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran > dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya > bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat > jalan mereka." > > > > Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti > menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan > kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan > (tabrakan!). > > > > Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, > keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang > lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya > sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui > peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati > karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. > Ia juga belajar menjadi pemaaf. > > > > Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, > yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka > bisa melihat. > > > > Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang > sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka > bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, > sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu. > > > > Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. > Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat > pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya > untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana. > > > > Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya > memiliki pelita kebijaksanaan. > > > > Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, > apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi > diri kita sendiri dan sekitar kita. > > > > Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan > dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita > kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi. > > > > Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa > penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang > membuahkan penciuman. Pikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah > kebijaksanaan. > > > > > > > > *From:* Dharmananda PA [mailto:[EMAIL PROTECTED] > *Sent:* Wednesday, October 22, 2008 7:32 AM > *To:* [email protected] > *Subject:* Re: [tasawuf] Tentang Nama Dharmananda > > > > Ya ga usah bicaraken nama ku. he he, takut jadi riya. > Tapi matur nuwun, pengetahunku pagi ini bertambah. > > Yang jelas Nama adalah doa seumur hidup yang di hujahkan orang tua kepada > anaknya semenjak (bahkan mungkin sebelum) ia lahir, selama hidup, hingga > mencapai akhir hayatnya. > > "Dharmananda Prabha Aryawan" adalah satu dari sekian banyak doa terindah > pertama untukku dari kedua orang tuaku. > Karena kebetulan referensi orang tuaku yg pada saat itu adalah guru seni > dan sejarah, maka doa indahnya terbahasakan dalam namaku itu. > > Udah ah...... > > Salam kenal buat mas atw mbak sunari. > Ajari saya aja tentang hati, jiwa dan akal. > > Monggo, saya sudah duduk dan melipat tangan. > > Pada 21 Oktober 2008 13:55, sunari <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > > Mas Dharma, > > Apakah nama Dharmananda adalah nama asli anda atau hanya nama di dunia > maya? > > Nama anda adalah nama yang sesungguhnya merupakan nama tidak biasa untuk > muncul dimilis Tasawuf > > Kalau boleh saya mengartikannya, dharma atau dhamma dapat dimaknai dengan > 'kebenaran [alam semesta]' atau 'hukum', sementara kata ananda dapat > bermakna 'anak dari' atau 'kebahagiaan'. Jadi kata Dharmananda dapat > dimaknai sebagai seorang yang menemukan kebahagiaan dalam dharma, atau > seorang 'anak' yang terlahir didalam kebenaran. Kata Dharmananda dalam makna > 'anak dharma' sama dengan makna dari kata dharmaputra. Dharma putra adalah > nama untuk anak tertua dalam keluarga Pandawa, dikisahkan beliau ini adalah > memang putra dari dewa Sang hYang Batara Dharma. Seorang tokoh yang hidupnya > berjalan dalam koridor 'dharma'. > > Memang dalam beberapa hal antara pengajaran islam [esoteric, hakekat, > universal] ada benang merah dengan kebenaran2 yang ada dalam agama Buddha, > Budha Dharma, Fo Fa. > > Bagaimana menurut anda?, dan juga para sahabat sekalian? > > > > Salam, > > Sunari > > > > > > *From:* Dharmananda PA [mailto:[EMAIL PROTECTED] > *Sent:* Tuesday, October 21, 2008 12:27 PM > *To:* [email protected] > *Subject:* [tasawuf] Ada apa didalam hening ini? > > > > Mas2 dan mbak2 yang sudah lama tidak saya sapa. > > Sudah lama saya ga posting ke milis ini (mungkin 8-9 tahun). > Kangen juga sama postingan2 mas2 dan mbak2 yang sedikit2 buka jalan ke > pengertian rahasia2 alam ini. > > Tapi ibarat main silat, kalo lama ga pemanasan apalagi latihan rutin, rasa > ini kok kayak yang kaku dan pegel2. > Ibarat cari frekwensi di radio, tuning dan fine tuningnya bituh waktu yang > lama. > > Nah, tanpa mengurangi penghargaan saya kepada yg posting informasi buku, > kegiatan dan lain2, gemana klo kita mulai lagi diskusi lewat milis ini. > Kan pelatih2 silatnya udah pada turun gunung lagi nih. Siapa tau jurus2 nya > bisa di share sebagai wacana, pengetahuan atau ilmu bagi murid2 liar disini. > > Tuning yu mas. > dharma > > > > > > > > _______________________________________________ > Tasawuf mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/tasawuf > >
_______________________________________________ Tasawuf mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/tasawuf
