ada kalimat yang lain:
 
sebuah pelita yang padam tidak akan pernah bisa menerangi pelita padam lainnya.
tapi,
sebuah pelita yang menyala pasti bisa menerangi sekelilingnya, paling tidak 
dirinya sendiri.
 
salam/... umul

--- On Thu, 10/23/08, sunari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: sunari <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [tasawuf] Si Buta dan Lentera nya -- Pertunjukan Wayang
To: [email protected]
Date: Thursday, October 23, 2008, 8:14 AM

Kisah tersebut berasal dari dunia atas angin, yang dikabarkan oleh
germerisiknya dedaunan
Butanya bukannya karena adanya kerusakan pada organ sensori fisik
penglihatan
Apinya adalah api titipan, semacam energi yang menimbulkan pendaran cahaya
Yang dinyalakan ditransmisikan dengan niat pikiran oleh mereka yang
memilikinya..
Gimana?


Tambahan:
Sungguh dalam sebuah pertunjukan [wayang] setiap penonton memiliki persepsi
dan ketertarikan yang berbeda-beda atas pertunjukan yang digelar. Ada yang
melihat keindahan artistik pahatan dan pewarnaan sang wayang, ada yang
menilai keterampilan sang dalang, ada yang hanya bangun ketika acara
goro-goro dan perang cakilnya. Para penonton yang terhormat menonton wayang
dari balik layar.. mengabaikan warna warni para pelakon, hanya mempersepsi
akan intisari filsafat yang disampaikan lewat lakon yang digelar. Semuanya
benar.. semuanya menempatkan diri sesuai kadar diri masing-masing. Umat
manusia yang tidak berminat dan tertarik pada keindahan alam semesta
wayang.. juga baik-baik saja adanya. Sang Guru bijaksana menyampaikan bahwa
tafsir atas kehidupan ini ada sebanyak kepala umat manusia.


Salam,
Sunari



-----Original Message-----
From: si Nung [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, October 23, 2008 6:56 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [tasawuf] Si Buta dan Lentera nya

On 22 Oct 2008 at 9:51, sunari wrote:

From:   "sunari" <[EMAIL PROTECTED]>
To:     <[email protected]>
Date sent:      Wed, 22 Oct 2008 09:51:32 +0700
Subject:        [tasawuf] Si Buta dan Lentera nya


> Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si
> buta. Kali ini si buta bertambah marah, 
> 
> "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita
> ini supaya kamu bisa lihat!" 
> 
> Pejalan itu menukas, 
> 
> "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah
> padam!" 

pingin tahu nih ...
pelita di zaman diceritakannya ini bahan bakarnya apa ?
atau sudah pakai baterai, yg tidak menimbulkan panas bila menyala ?
:)

trims

sinung

> Si buta tertegun.. 
> 
> Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, 
> 
> "Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat
> bahwa Anda adalah orang buta." 
> 
> Si buta tersipu menjawab, 
> 
> "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata
> kasar saya." 
> 
> Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali
> pelita yang dibawa si buta. 
> 
> Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing. 
> 
> 
_______________________________________________
Tasawuf mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/tasawuf


_______________________________________________
Tasawuf mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/tasawuf



      
_______________________________________________
Tasawuf mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/tasawuf

Kirim email ke