Pagi ini saya mendapatkan kiriman berjudul Tuhan di Las Vegas Boulevard. Saya kira diantara isinya ada yang dapat kita perbincangkan bersama. 'Tuhan' yang ditemui oleh penulis di LA tersebut ternyata adalah sebuah kondisi 'KEHARMONISAN' dan 'KEBERSAMAAN' Mengingat firmanNYA yang 'AKU adalah sebagaimana persangkaan hambaKU' maka boleh-boleh dan sah saja penulis menyangka tuhan sebagai keharmonisan dan kebersamaan, bagi kita tentunya SIFAT yang demikian hanyalah bagian daripada SIFAT Nya, sebagian dari FAKULTAS yang dimilikiNya. Sebagaimana juga diungkapkan oleh 'tuhan' kepada Neale Donald Walsch yang dituliskan dalam trilogy Uncommon Conversation, Dialogue With God. Dapat dikatakan bahwa PADA AWALNYA tidak ada itu WAJIB dan tidak ada itu LARANGAN. Timbulnya WAJIB dan LARANGAN. Dalam jalan rohani apapun adalah karena adanya TUJUAN. Jika manusia dapat ingin kembali ketempat asal dimana pertama kali diciptakan, yaitu alam yang suci murni, maka dia harus menjadi sesuci dan semurni tingkat alam yang dituju. Dan yang demikian hanya dapat dicapai dengan jalan pembinaan diri, jalan bhavana, jalan xiulian. Dan demi agar tujuan tersebut dapat terlaksana maka lalu timbullah adanya HUKUM WAJIB dan LARANGAN. Dalam jalan rohani apapun.. adalah demikian. Tidak ada jalan rohani yang sejati dan lurus yang mengajarkan praktisinya bahwa dengan pola jalan hidup semaunya dan kemudian dikatakan dapat kembali mencapai menjadi satu dengan 'tuhan'. Walaupun secara eksplisit tidak tertulis namun penulis artikel menyampaikan bahwa tuhannya orang fpi adalah tuhan yang biadab. Disini saya mengajak dan memberitahu para sahabat sekalian.. jika kita memiliki salah pada tuhan kita.. itu adalah lebih mudah urusannya.. tetapi jika kita punya salah dengan 'orang lain', fihak lain, tuhannya orang lain.. he he he urusannya bisa-bisa menyusahkan. Penghujatan kepada Alloh oleh penulis dan saat ini kita saksikan bersama.. kita menjadi saksi atas hal itu.. dapat dikategorikan sebagai dosa seorang manusia kepada seorang dewa langit. Menurut saya itu bukan hal yang akan berlalu demikian saja dan tidak ada efek apapun. Mungkin kita tidak bertuhan pada apa yang dipertuhankan oleh orang lain, namun tidak benar jika kita melakukan penghinaan atau penghujatan. Saya kira ini adalah jalan Mulia yang harus ditempuh mereka-mereka yang mengharapkan mendapatkan kemuliaan. Sudah sangat nyata bahwa ayat ke-1, ayat Utama, yang merupakan intisari, yanga adalah hakikotul muhammadiyah bahwa segala tindakan dan perbuatan kita adalah kita persembahkan sebagai representasi perbuatan tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang.. saking sayangnya maka disampaikanlah sebuah jalan menuju ke diriNYA, diturunkanlah aturan2 wajib dan larangan. Siapa ingin menempuhnya diper-monggo-kan , siapa yang tidak ingin menempuhnya ya diper-monggo-kan, sudah jelas ayatnya bahwa tidak ada paksaan dalam agama.. namun kebanyakan manusia, karena kebodohan dan kebutaan hatinya , termasuk diri saya ini selalu saja berbuat mendholimi diri sendiri. Seperti menganggap tuhan Alloh sebagai tuhan yang biadab tersebut.. masya alloooh. Maka umat islam harus ingat pada misi diturunkannya agama sebagai RAHMATAN LIL 'ALAMIN, harus ingat bahwa kehadiran sosok kanjeng nabi sebagai USWATUN HASANAH. Hal-hal lainnya.. jika bertentangan dengan hal Utama ini.. seharusnya batal secara hukum. Jika diantara umat ada yang membenarkan tindakan terror sebagai wujud perjuangan membela tuhan, maka kita juga tidak dapat menyalahkan jika ada orang yang menulis ; ketemu TUhan di LA., karena saya baca.. sang guru sufi pun berkata; kemanapun sang Guru memandang, yang tertampak adalah wajahNya. Bagaimana pendapat dan komentar para sahabat sekalian? Silahkan.. Jika tidak ada yang menyahut.. berarti.. tidak ada yang membaca dan cukup sekian.. he he he Salam, Sunar i From: wbharata [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, October 22, 2008 10:44 AM To: wbharata Subject: Tuhan di Las Vegas Tuhan di Las Vegas Boulevard Terlahir sebagai muslim untuk kemudian hidup begitu lama di negara yang mayoritas non muslim seperti saya, Habe di Amerika, tantangan demi tantangan tentu datang silih berganti. Terakhir saya sadar bahwa akar religi saya hampir punah ketika mengisi kolom agama di facebook. Saya bimbang apakah akan mengisi Islam atau mengaku sebagai agnostik ( katanay sih masih adik kandungnya Ateis dan sepupunya komunis ) Atau barangkali daya tarik bahaisme membuat saya ragu ragu untuk mengaku sebagai muslim? Lalu kenapa saya begitu menyukai sang Isa dibandingkan semua pahlawan Islam? Mungkin saya menemukan esensi nirvana di muka para cina di klenteng mereka chinatown Seattle sana ? Akhirnya saya mengisi kolom kepercayaan : Jainisme. Kepercayaan saya pada sang khalik saya tunda sampai menemukan sang hakekat yang sesungguhnya. Pada dasarnya semua aktifitas manusia adalah mencari ketenangan. Orang berlomba mengejar materi lantaran mereka takut hidup miskin lantaran kemiskinan adalah sumber semua kegelisahan. Tapi akar kegelisahan saya selama ini adalah lantaran perburuan saya pada sang absolut selalu mementalkan saya pada kebebalan yang sama. Tuhan yang saya temui di agama sendiri adalah bermuka teroris seperti sangarnya orang FPI. Sejak September 11 2001 saya mengalami perubahan iman yaitu saya menolak sholat dan tunduk pada tuhan agama yang biadab. Di balik jaringan neuron, sebagai pelampiasan saya ciptakan tuhan artifisial yang penuh cinta yang tidak perlu ancam mengancam dan memberikan kebebasan bagi mahluknya buat menyembah apa saja asal mereka tidak baku bunuh, merusak, menipu, merampas dan menolak semua kejahatan terhadap kemanusiaan. Saya namakan DIA "Deis sang super humanis" Apakah saya telah menemukan ketenangan? Berjalan di depan Bellagio hotel and casino di Las Vegas Boulevard Sabtu sore tadi diantara ribuan manusia lalu lalang, saya saksikan sebuah keharmonisan kebersamaan. Wajah para bule dan asia. Cina dan timur tengah. Kulit hitam dan kulit cerah. Perempuan berbaju seksi dan perempuan India yang berbaju sari. Kakek renta menggiring masuk cucunya ke pintu masuk hotel Paris melindungi estafet keturunannya dari deraan hawa panas summer yang menggila. Bis jurusan downtown sang supir sibuk menaikan seorang handicap yang lengket di kursi rodanya La Baik, wajah sang deis saya temukan di kota judi ini. Lalu saya merasa agak tenang tentu saja summer of 2008 Habe
_______________________________________________ Tasawuf mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/tasawuf
