On Mon, 10 Jan 2005 06:44:48 +0100, Ikhlasul Amal <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Pada 10 Jan 2005, 09:28:31 +0700, Priyadi Iman Nurcahyo menulis (diringkas):
> >
> > menurut pengalaman, saya melihat belum ada pembakuan istilah.
> > penerjemah punya preferensi masing-masing, mulai dari penerjemah yang
> > tidak melakukan translasi istilah sama sekali, sampai ke penerjemah
> 
>         Ampun, jangan dijewer ya... :-)
> 
>         Aturan saya sederhana:
> 
>         - berusaha cari dulu padanan istilah di Senarai Padanan Istilah.
>           Ini resmi ditetapkan oleh Inpres No. 2, Tahun 2001;
> 
>         - dicarikan istilah dalam Bahasa Indonesia yang dianggap
>           mendekati;
> 
>         - pakai huruf miring (italic) -- tidak usah diterjemahkan.
> 
>         Memang yang menjadi masalah sekarang kemajuan istilah yang
>         diberikan oleh lembaga berwenang (Pusat Bahasa) ketinggalan
>         terus dibanding perbendaharaan kata baru yang datang. Sehingga
>         yang tidak mengenakkan banyak pihak menyatakan setuju atau tidak
>         setuju terhadap sebuah padanan istilah *hanya* mengandalkan
>         referensi pribadi.

Mungkkn kita harus membedakan penerjemahan _kata_ untuk
- teks 
- GUI

Kedua penerjemahan ini memiliki batasan dan pendekatan yang berbeda. 

Pada penerjemahan GUI salah satu kunci yang penting adalah konsistensi
dan tepat melambangkan obyek yang ingin diacu (oleh karena itu
pendekatan semiotik lebih pas ketimbang sekedar semantik/sintaks).

Berbeda dengan penerjemahan teks yang tidak bertumpu pada pengacuan obyek. 

Faktor lain dari masalah penerjemahan GUI adalah ukuran kata yang
dapat digunakan (Help  , hanya 4 kata, bahasa Jerman Hilfe (5 kata),
bahasa Indonesia ? Bantuan (7 kata), Keterangan Bantu (....) dan
sebagainya

Justru itu kadang saya lebih suka menguji ulang panduan kata yang
diberikan oleh pusat bahasa, karena relatif pendekatan yang digunakan
adalah untuk pembuatan teks terjemahan.

Faktor lain adalah pembaca. Menurut thesis IB Arka, tentang bahasa
Indonesia, bahasa Indonesia memiliki 4 pengaruh besar yang menyebabkan
perbedaan antara kelompok di Indonesia dalam memahami sintaks dan
semantik dalam bahasa Indonesia).

Silahkan di Google thesis dari IB Arka (ANU Canberra), atau Simon (Tazmania)

IMW

Kirim email ke