On Wed, 16 Mar 2005 01:41:39 +0700, Yulian Firdaus H. <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > sedikit berteori ah...
berteori juga ah. coba bayangkan Indonesia tanpa media tradisional online maupun offline (koran, televisi, radio). bagaimana berita sampai dari satu daerah ke daerah lain? saksi mata akan bercerita ke temannya, trus ke temannya lagi, dari satu komunitas, ke komunitas lain, demikian seterusnya membentuk jaring laba2. Nah, kelemahan jaringan ini adalah batasan geografis. Bagaimana media tradisional mengatasi ini? media tradisional hire ratusan wartawan, dan disebar mencari berita dan hasilnya disebar ke seluruh pelosok negri. detik walaupun online masih berupa media tradisional, cara kerjanya tidak berbeda dgn media cetak offline. Bagaimana blog mengatasi ini? blog membentuk jaringan sosial itu secara virtual. Tiap individu tidak bisa menghindar dari jaringan ini selama masih patuh pada kodratnya sebagai mahluk sosial. dengan blog, batasan virtual tadi tidak ada lagi. Media tradisional seperti detik akan menjadi tidak terlalu significan lagi di masa depan. karna beritanya akan basi (blog akan lebih cepat), dan tidak bisa menjangkau semua sumber berita. bagaimana detik menjangkau berita di kampung saya?? kecuali detik menghire semua orang jadi wartawan. Tiap individu adalah sumber berita. ketika ada jutaan berita tiap hari, media tradisional akan menjadi tidak pas lagi. media tradisional mungkin bisa berargument bahwa mereka punya standard kualitas. percaya atau tidak (ini bukan hasil survey), saya tanya beberapa teman2 saya yg pake news aggregator (termasuk saya), mereka akan mengklik entry dari orang yg dikenalnya dulu dari pada entry dari situs2 berkualitas seperti new york times, dan lain2. -- Pakcik http://www.izenk.com
