At 09:07 12/06/2005 +0700, Budi Rahardjo wrote:
On 6/12/05, Harry Sufehmi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> B&MGF itu setahu saya bukan cuma pure charity, tapi juga dimanfaatkan oleh
> mereka untuk berbagai hal - untuk mendapatkan potongan pajak (Microsoft
> pernah tidak membayar pajak sama sekali),
Apakah ada bukti tentang hal ini?
This is a serious accusation.
Pemahaman saya, Microsoft dan B&MF adalah dua badan hukum
yang berbeda. Tidak bisa sumbangan dari sebuah foundation
diaku oleh perusahaan yang lain.
(Perlu diingat ada juga Paul Alen foundation, dan juga para
orang kaya lainnya. Tentu saja mereka adalah badan hukum
yang berbeda.)
Microsoft bisa saja memberikan bantuan (dan mereka melakukan
hal tersebut). Yang ini tentu saja boleh menjadi potongan
pajak bagi Microsoft.
Jangankan Microsoft, saya pun waktu tinggal di North America
juga ikut menyumbang di sana sini yang bisa menjadi potongan
pajak. Tapi karena penghasilan saya sudah kecil, maka potongan
pajak itu ndak manfaat karena apanya yang mau dipotong ;)
Malah dapat santunan dari pemerintah. he he he.
=========
Ya, informasi diatas betul sekali. Tapi, ada beberapa masalah ketika kita
berbicara pajak dengan skala sebesar Microsoft.
Pertama, pajak tsb jadi tidak bisa didistribusikan sesuai dengan keperluan
rakyat, karena tentu pemerintah yang lebih tahu mengenai kebutuhan rakyatnya.
Kedua, uang pajak tsb jadi disalurkan berdasarkan keinginan B&MGF, yang
belum tentu merupakan sesuai dengan prioritas kebutuhan rakyat. Malah
dicemaskan ditumpangi oleh "hidden agenda"-nya mereka.
Ketiga, Microsoft & B&MGF mendapatkan nama baik (dan PR Microsoft termasuk
yang terbaik) despite potential problems above.
Keempat, salah satu masalah yang sudah terdeteksi yaitu penyumbangan
software Microsoft: (a) Microsoft menyatakan menyumbang sekian juta dolar,
padahal biaya duplikasi software paling cuma berapa sih :-) (b) Yang
disumbangi tentu jadi ketergantungan dengan software Microsoft, dan ketika
software sumbangannya tidak bisa dipakai lagi (contoh: versi baru Office
tidak bisa dibaca oleh versi lama Office) maka akan cenderung membeli versi
barunya (c) Microsoft mendapatkan nama baik, despite all the problems above.
> atau kampanye produk Microsoft
> (sumbangan berupa software Microsoft), dst.
Tentu saja dia akan nyumbang software Microsoft :)
Mosok dia mau nyumbang software Apple. he he he.
(It *could* happen, though.)
Bukan begitu, masalahnya, sumbangan softwarenya itu dihargai dengan harga
retail. Padahal, spt saya tulis diatas, berapa sih biaya copy per CD jika
dicetak secara massal :-)
Kalau beberapa perusahaan lainnya masih agak mendingan, Sun misalnya
cenderung menyumbang server & workstation ke berbagai universitas. Kalau
seperti ini memang sumbangannya agak lebih riil, Sun memang betul-betul
keluar uang banyak untuk membuat server2 & workstation2 tsb.
Jadi kemarin itu Microsoft banyak kena kritik pedas gara2 akal2annya ini,
dan kalau tidak salah sudah mulai merubah praktek tsb. (hopefully)
Ada beberapa kemungkinan juga, sang yayasan ini membeli
software MS dan menyumbangkannya. Kalau begini, tentu saja
MS tidak mendapat potongan pajak.
Atau, Microsoft menyumbangkan software ke B&MGF.
Yayasan B&MG banyak juga membantu dalam bidang healthcare.
Saya rasa kita perlu fair untuk hal ini.
Jangan rasa benci mencemari judgment kita.
Ya, tapi pertama, apakah yang tersebut adalah prioritas tertinggi rakyat
Amerika ? (sebagai yang seharusnya menerima pajak tsb)
Kedua, apakah tidak ada hidden agenda dibaliknya ?
Contoh skenario: riset healthcare untuk menemukan obat AIDS, lalu setelah
berhasil, hasilnya dipatenkan dan dipasarkan exclusively oleh Paul Allen,
dengan bagi hasil utk pak Bill. Padahal kemarin ini banyak pasien AIDS yang
meninggal sengsara, karena mereka tidak mampu membeli obat AIDS, karena
versi generiknya tidak bisa dibuat, karena dijegal oleh paten internasional.
Tentu saja I still love free software :) he he he.
Saya justru benci free software, karena konfigurasinya ribet, banyak yang
harus di oprek oprek dulu agar bisa berjalan lancar, para pendukung
fanatiknya sering cuma menyalahkan tapi tidak memberi solusi, dst, dst.
Just kidding :)
Mengenai sumber berita ini, saya menemukan ini semua ketika tidak sengaja
saya membaca berita di The Guardian (ini koran unik - not for profit,
mengabdi kepada masyarakat?) mengenai bagaimana orang terkaya di Inggris
ternyata tidak membayar pajak - malah justru mendapat subsidi dari
pemerintah. Disitu dibahas berbagai cara dia memanfaatkan berbagai loophole
di sistim pajak yang memang rumit itu. Ternyata kalau kita punya uang
banyak, jadi bisa sewa akuntan2 ahli, dan memanfaatkan mereka untuk
menemukan celah2 tsb. Jadinya mereka tidak bayar pajak, namun tidak bisa
diapa-apakan, karena 100% legal. Dan ini lazim & lumrah dilakukan oleh
banyak orang-orang kaya,
Sedangkan kita, wong cilik ini yang membayar pajak & menghidupi negara
(karena gaji diterima sudah dipotong pajak), walaupun hidup sudah susah.
Saya keterusan membaca, sampai akhirnya ke bahasan sistim pajak Amerika,
dan menemukan berbagai website yang membahas para pelaku ini. Termasuk
disitu dicantumkan Microsoft & Cisco yang pernah tidak membayar pajak sama
sekali. Padahal mereka adalah perusahan2 terbesar di dunia. Kalau ditambah
dengan berbagai predatory practices yang biasa dilakukan oleh Microsoft,
rasanya saya makin malas mendukung perusahaan yang tidak bermoral ini.
(walaupun tentu akan ada yang berargumentasi bahwa sifat bisnis tentu saja
adalah untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya)
Wah, mudah2an tidak terlalu OOT.
Salam,
Harry