On 7/13/05, Adjie <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > permainan sudah pasti, karena indonesia adalah big market yang masih > tidur, karena penetrasi internet ngga sebanding dengan jumlah > penduduk, dalam artian yang melek IT cuman sedikit, cuman dari yang > sedikit ini haus bandwith semua ha.hahaha jadi berapa pun bandwith > yang available ngga bakalan cukup... jadi kembali kalau tadi saya > bilang BUMN nya rakus kita juga rakus ha.hahaha
Tentu saja semua orang di negara manapun punya perasaan "kurang". Di negara maju yang sudah lebih baik infrastrukturnya pun tetap saja masih diusahakan koneksi yang lebih murah atau lebih cepat. Masak dengan kondisi saat ini di Indonesia sudah disebut "haus lebarpita"? Yang terjadi adalah sebuah selang berisi kucuran koneksi yang disedot ramai-ramai, padahal alirannya sudah tersendat-sendat dan sampai di penyedot ongkos yang dikeluarkan lebih mahal dibanding di tempat lain. > sebenarnya dilematis, internet murah atau mahal devisa negara juga > tetap keluar karena badwith outgoing lebih gede ... jadi enaknya > gimana donk...??? Tidak perlu terlalu takut dengan devisa negara keluar. Jika tujuannya baik, saya kira manfaat baliknya dapat mengimbangi. Tentu saja ini tidak berarti bahwa dengan koneksi yang lebih murah tidak akan muncul persoalan baru, hal itu merupakan tantangan yang lain lagi. -- amal - http://coretmoret.web.id (now DRUPALized)
