At 09:21 30/09/2005, you wrote: >> kalau ini dipakai massal. limbahnya mau anda buang ke mana mas? >> didaur ulang jadi peluru pistol mainan anak-anak? :-)
> sebenarnya masalah utama dengan nuklir itu harganya jauh lebih murah > dibandingkan energi lain dan non renewable energy. artinya kalau sudah biasa > pakai nuklir dan nuklirnya habis, gak ada energi lain yang bisa > menggantikannya. Sebelumnya perlu saya lurusin dulu kalau nuklir itu bukan nama bahan bakar, melainkan istilah untuk energi yang dihasilkan oleh reaksi penggabungan (fusi) atau pembelahan (fisi) inti atom (asal katanya nuclei -> nucleus = inti). Karena ada hukum kekekalan energi, otomatis (energi) nuklir gak bakalan bisa habis :). Bahan bakarnya sendiri adalah uranium atau plutonium, tapi untuk PLTN biasanya yg dipakai adalah uranium. > kalau soal limbah, energi yang sekarang kita pakai (BBM) juga punya limbah :) > hanya saja limbah yang ditimbulkan limbah nuklir terkonsentrasi di satu > tempat dan gak merata di atmosfer bumi, mengenai mana yang lebih baik, itu > terserah masing-masing :) Biasanya limbah nuklir dibuang dg cara dikubur dalam2 di tempat yg jauh dari jangkauan manusia. Limbah itu harus dipastikan terkubur aman disana selama ribuan tahun. Disini sebenarnya tidak jadi masalah krn di Indonesia kan banyak pulau2 kecil tak berpenghuni. Yang penting tidak ada penyimpangan dlm manajemen penanganannya saja. Kendalanya sebetulnya adalah lokasi yang bisa menampung limbah nuklir harus stabil secara geologis, padahal kita tahu sebagian besar kepulauan Indonesia ada di daerah pertemuan lempeng tektonik yang rawan gempa. Tapi ini bukan berarti tidak ada solusi. Aniwei, kita tidak perlu paranoid dg teknologi nuklir krn satu saat cepat atau lambat, suka atau tidak suka, kita pasti akan memakainya. Saya setuju kalau kendala pengoperasian PLTN di Indonesia bukan soal teknologi tapi SDM. Cuma, kalau bicara soal energi alternatif, sepertinya energi nuklir masih jadi alternatif yg paling efisien dan murah (dari segi operasionalnya, jangan bicara ongkos pembuatannya dulu). Energi matahari keliatannya menjanjikan, tapi hanya untuk skala kecil; PLTA sudah dipakai bbrp lama, tapi kalau kita dilanda kemarau panjang, lantas debit air turun, malahan tekor; energi geotermal (panas bumi) bakal bertabrakan dg persoalan lingkungan, contohnya proyek pembangkit listrik geotermal di Bedugul, Bali yg ditentang masyarakat setempat. Minyak jarak? Perlu berapa ribu hektar tanaman jarak untuk bisa menghidupkan pembangkit listrik? Yang bener aja! --dhani
