On Wed, Oct 26, 2005 at 04:31:45AM +0700, Budi Rahardjo wrote: > Wah saya tidak punya data statistiknya. ..
langsung parameter populasi saja pak, jangan pakai statistik lagi :-) > Orang mengira bahwa "angkatan 45" (yaitu yang bayar Rp 45 juta) > di ITB adalah yang dominan. Atau dengan kata lain, mahasiswa ITB > termasuk golongan orang kaya. Ini tidak benar ... tidak benar dari mana Pak :-) > kecuali (mungkin, > mungkin lho) yang di SBM (School of Business & Management) yang > baru dibentuk itu. MM misalnya. katanya SPP mahal karena memang biaya pendidikan itu mahal, lah ini kan praktis modal abab doang juga masih mahal. Tapi ndak apa-apa lah, kan masih bisa berkilah tidak untuk S1. Anyway, belum tentu yang SPP-nya mahal tidak punya public accountability. Justru itu perlu diukur. > Coba cek di luar negeri deh. Apa ada perguruan tinggi yang > pemasukan utamanya hanya dari SPP? dulu, ada seorang dosen pintar (doktor) yang ditawarin jadi dosen tamu di canada. masa percobaan 1 tahun. kalau performance baik, akan diperpanjang. ternyata pas 1 tahun balik lagi ke indonesia. usut-punya-usut, yang dimaksud perform adalah kalau bisa mendatangkan 'proyek' bagi universitas. bbrp universitas di seputar triangle park juga banyak mendapat duit dari proyek. rata-rata ilmu statistik di wilayah itu kelas wahid. di situ juga terdapat semacam 'blue print' untuk riset berkesinambungan (yang saya tahu statistik). hal serupa bisa diterapkan di sini, asal berbagai pihak sudah satu visi. makanya pak, galakkan PAU, situ kan tongkrongannya kampus, mestinya akses lebih besar :-) > gini deh. coba mas adi jadi dosen di PTN selama 10 tahun! > cobain deh. :-) 10 tahun kelamaan Pak. mestinya, minim 6 bulan orang sudah bisa punya insight yang bagus soal corporate value/culture. saya .. berapa tahun ya .. ndak lama sih. cuman untungnya bisa dari dua sisi, bisa melihat sebagai mahasiswa dan bisa melihat sebagai bukan mahasiswa. jadi kalau dibilang mengerti, tidak. dibilang tidak mengerti, juga tidak. > saya sering ketawa melihat orang2 yang hanya ngasih seminar > satu dua kali kemudian mengatakan bahwa mengajar itu gampang. > setelah disuruh ngajar penuh 1 tahun, baru kerasa dia :) > komitmen mengajar itu *susah*! oh ... saya tahu benar soal itu. tapi, kembali lagi public accountibility bukan soal mengajar saja. seperti kalau belajar di kedokteran, bukan soal bedside diagnostics saja (hayoooo... siapa yang pernah divonis demam berdarah tapi tetap dikasih antibiotik, sampai terjadi gangguan fungsi hepar/lever dan divonis lagi hepatitis he..he.. ah... dokter-dokter ini bisa aja), tapi kedokteran secara holistik. ada banyak aspek. bedside diagnostics saja, seringkali jadi modal utama dalam praktik. dan soal komitmen, itu kembali pada orangnya, bukan pekerjaannya. > Bukannya saya tidak setuju dengan pemberdayaan UKM dan sektor > pertanian, tapi agak lucu kalau saya ngomong soal pertanian. > Lain halnya kalau IPB yang ngomong soal pertanian. > Itu baru kompeten. iya. makanya saya saya pakai istilah PT bukan ITB :-) (j/k) tapi, apa iya langsung bisa digebyah uyah kalau ITB has nothing todo with kere eh.. ukm? tergantung visi dan misi kali ... > apakah di Amerika juga tidak ada aturan main? > di sana pun ada aturan main, tapi orang tidak uplek ngurusin > aturan main sehingga lupa soal kerjaan sesungguhnya. yuk pak, diusulin supaya dibuat aturan mainnya disini (sengaja pakai 'yuk' biar disindir mdamt :-) > yang ini problemnya lain: orang2nya MALES! oh ya? :-) males itu manifestasi lho. bukan sebab ... nah .. sekali-kali perlu dicoba. menetap di situ dalam waktu yang lama. 1 bulan rejection, sampai 6 bln 'klimatisasi'. setahun sudah ada budi rahardjo yang baru :-) (ini serius lho). pada prinsipnya menurut social dynamics, setiap unit itu merupakan subyek yang bergerak dinamis dan yang bisa kita lihat itu sebenarnya merupakan manifestasi dari interaksi yang kompleks. (dulunya giat memprotes, begitu jadi menteri jadi 'anteng' hi..hi..). sama juga keterlebatan perguruan tinggi demi mengentaskan indonesia dari keterpurukan. kadang kita berpikir, 'menyalahkan' perguruan tinggi saja tidak tepat. oh iya, tapi mestinya kita berpikir sebaliknya: perguruan tinggi bisa diberdayakan untuk mengubah manifestasi negatif menjadi positif. duh .. mestinya ikutan kuliah pak puruhito soal sirkulasi darah tertutup. dijelaskan berminggu-minggu soal transplantasi jantung oleh dosen sendiri nggak ngeh. cukup 1 menit mendengar penjelasan pak puruhito langsung semua (100-an orang) tertawa dan ngeh. jadi misalnya menegakkan kode etik kedokteran, jangan dianggap sebagai membuang para dokter ke tempat sampah, tapi justru sebagai salah satu cara pemberdayaan. > tapi apakah ini hanya terjadi di Indonesia? biarin aja Pak, kita urus yang di sini dulu saja. kalau ada yang lebih brengsek dari kita, bukan berarti kita sudah baik kan :-) gitu Pak. saya ini penganut paham menciptakan perubahan secara evolusioner. ya sudah, saya coba konsisten he..he.. bisa jadi, karena kita 'terlalu' memperuncing masalah, karena kita dipisahkan oleh sungai yang panjang dan hanya ada satu jembatan penghubung yang sempit, masing-masing dari kita tergesa-gesa menolong yang di seberang. jadinya ya tabrakan di jembatan itu. Salam, P.Y. Adi Prasaja
