Made Wiryana wrote: > On 12/7/05, Muhamad Carlos Patriawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > > dengan merleasikan dg situasi Indonesia. Jadi bukan sekedar > > berangan-angan > > > tanpa strategi untuk menjembataninya > > > > > > Akhirnya jadi frustasi, karena ndak bisa sama. > > > > > > Attract creative-classnya yang berada di developed country untuk > > membangun negerinya. > > > > Itu tahap tercepatnya. > > > > Ada faktor non ekonomis atau non lainnya mengapa sulit menarik "creative > class", tapi salah satu soal besarnya adalah persepsi, kerja di LN itu lebih > keren dari kerja di Indonesia. >
Keren ini persepsi Pak Made. Tapi liatlah kenapa negara seperti China,Singapore,Vietnam dan India koq bisa ya menarik kembali creative-class-nya. Yang pemerintah mereka lakukan ternyata selain memberikan tax-breaks untuk usaha IT/startups adalah juga menawarkan gaji sepantar dengan standard barat(yg dibayar persh tentunya). Mungkin 1/2 s/d 1/4-nya. > Ini bukan masalah lebih banyak duitnya, tapi gaya ..... mirip dg kerja di > kota itu lebih keren dari kerja di desa. Kalau ada Vendor networking buka R&D di Indonesia,I will be the first one to leave US. Salary 1/3. I don't care about "keren" really :P Carlos
