Zaki Akhmad wrote:
> Muhamad Carlos Patriawan wrote:
> > Saya kemaren hampir mau mengangkat stem cell research ini.
> >
> > Mungkin sebaiknya didiskusikan dengan kawan2 dan pakar2 dari "sektor"
> > medical/bioteknologi:
> >
> > Negara2 lain bisa cepat meneliti stem cell research di AS karena
> > perdebatannya di AS gak selesai2
> >
> > 1. Apakah ada peneliti di Indonesia yang diam2 atau terang2an ikut
> > meneliti stem cell research ?
> >
> > 2. Bagaimana dengan faktor moral , agama ,etc ? Apakah hal ini
> > memungkinkan di Indonesia ? (dengan asumsi kemampuan teknis ada).
> >
> > Carlos
>
> Hip-Hip. Gak bisa se-sederhana itu Bang Carlos. Saya pernah dimarahi
> sama Sulfikar Amir, alumni Desain Produk ITB. Sebenarnya saya juga
> belum tahu banyak soal Mas Sulfikar Amir ini. Yang jelas, menurut saya
> tulisannya keren. Sudah sering masuk media besar seperti KOMPAS. Lebih
> jelasnya mengenai Mas Sulfikar Amir ini bisa diintip di
> http://whiteknowledge.blogspot.com dan satu lagi
> http://republic.mutliply.com
>
> Saya dimarahi Mas Sulfikar Amir kala itu gara-gara saya mensimplifikasi
> masalah terlalu besar. Jadi pertanyaan Bang Carlos dengan asumsi
> kemampuan teknis ada itu gak mungkin terlepas dari faktor moral, agama,
> sosial, politik, budaya yang ada di Indonesia. Lain cerita kalau
> Indonesia menjadi negara pelopor, negara yang pertama kali, melahirkan

hahahaha :) justru pertanyaan saya itu mungkin sama dengan concernya
Mas Sulfikar.

Justru karena tidak terlepas dari faktor moral,agama,etc tersebut
itulah yang membuat saya bertanya,apakah mungkin ada stem cell research
di Indonesia ?

Kalau misalnya tidak,ya mungkin(munkin ya) biotek riset di Indonesia
lebih fokus pada peneliatan untuk obat flu burung,misalnya :)

Carlos

Kirim email ke