Muhamad Carlos Patriawan wrote: > > Kebanyakan yg *bisa* IT dan *bisa* bahasa inggris sudah keluar negri > > Ahh yang bener :-))) > > Berdasarkan data statistik hasil hitung-hitung sendiri,justru sebagian > besar masih di dalam negeri lho. >
hehehe, tapi itupun ada argumennya 'om ;) Hidup ini kan pilihan dan siapa bilang tinggal di luar negri itu enak? Mending di Indonesia, ada pembantu, istri+anak2 deket, ortu dan saudara2 deket. Ngapain di luar negri, nyari makan yg cocok sama lidah susah, "house work" sendiri, ketemu istri+anak kl cuti aja, ortu kl sakit uring2an dll. Seperti kata orang bijak, ngak semua bisa kebeli sama uang ;p Intinya mereka disitu karena milih disitu dan mereka sudah berada di "comfort zone" ;) Dan harus om carlos akuilah, untuk menjadi seorang carlos sekarang ini kan penuh dengan perjuangan dan pengorbanan juga. (mungkin juga ditambah dengan tetes air mata ;p) > > Asli kalau bahasa inggris masalahnya sih anak2 luluan LIA sudah > ratusan ribu banyaknya di Jakarta :)) Kalau yang mau lebih jago ambil > dari fakultas sastra :)) > haha, tadinya saya juga mikir bakalan ada argumen disini. Tapi ada masalah di "availability". Kalau saya buka centre di Indonesia untuk requirement bisa IT berbahasa inggris, mungkin lamaran yang datang ada sekitar 100. Tapi kalau saya buka centre di Malaysia dengan requirement yang sama, lamaran yang datang ada sekitar 500. Gunanya kita lebih banyak option dan misalnya butuh orang lagi juga lebih gampang dapetnya. Dan lagipula kan harga itu tergantung supply + demand ;) > > > > Mudah2an ada yg punya ide brilian gimana ngebuat bahasa inggris menjadi > > bahasa kedua setelah bahasa indonesia. Setelah itu baru kita ngomong > > bahasa mandarin dan spanish ;) > > Pertanyaannya mungkin sudah dijawab sama pengajar2 di LIA atau orang2 > di British Library di Jl Sudirman dengan apa yang mereka lakukan. > masih kurang massive om effectnya. Kudu ada trobosan lagi nih. Kayanya gara2 orang dulu juga sih yah, orang inggrislah diusir2 ;) *this is a joke, don't kill me* --alex
