On 12/27/05, Muhamad Carlos Patriawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> saya bisa melihat munculnya hasil rekayasa genetika
> (franken food anybody?):
> - jeruk obat sakit perut dari garut (gak perlu diatab/diapet)
> - apel obat pusing dari malang (gak perlu decolgen)
> - beras obat batuk (sekalian makan dan batuk hilang ;-)
> - ...
> bisnis nih! sebelum keduluan oleh thailand.
> venture capital: yayasan bill & melinda gates ;-)
>
> tentu saja, saya hanya bisa ngomong karena ini bukan
> bidang yang saya kuasai. hik hik hik. :((

Hati hati penemuan "genetika jeruk obat"nya nanti dipatenkan orang
asing pak !

baru dibahas lagi2 di Mercury News kalau sebagian negara maju
mempatenkan obat2 tradisional -->
http://www.mercurynews.com/mld/mercurynews/business/13492534.htm


...........-cut begin...........
NEW DELHI - For thousands of years Indian villagers have used an
extract from seeds of the neem tree as an insecticide. So when a U.S.
company patented a process for producing the substance in 1994, India
reacted with outrage.

After spending millions of dollars in legal fees to successfully
overturn the patent, India's government now is creating a
30-million-page database of traditional knowledge to fend off
entrepreneurs trying to patent the country's ancient lore.

India is not alone in worrying about ``bioprospectors'' profiting from
the genetic resources of its plant life with no benefit to its people.
It joined with China, Brazil and nine other nations a few years ago to
begin pushing for international protections.

............
But that is a tiny fraction of the problem. A 2003 study by Gupta's
institute estimated about 7,000 patents worldwide are based on Indian
indigenous knowledge, far too many for India to challenge in expensive
legal fights.

Memperjelas ajah, ini akibatnya jika kita tidak mematenkan barang2 tradisional (Indonesia), Jadi inget batik jawa yang di patenkan di jepang (kalo gak salah).

Selain karena ketidak tauan (kebodohan?) kita2 tentang masalah patent ini dan menganggap warisan leluhur itu tetap di akan terus dikita, masalah dana adalah alasan klasik karena untuk mematenkan suatu barang, tidak murah.

Sikap masa bodo' bangsa kita terhadap warisan leluhur juga memperburuk masalah patent ini. Apakah pemerintah (ENTAH SIAPA) juga sadar akan masalah ini?




--
Andriansah

Kirim email ke